#3 Putaran Kejujuran

prompt:

jumlah kata: 494

“Sak, denger, nggak?”

Suara keras dan tepukan Zack menghentak Saka kembali ke dimensi yang sesungguhnya. Bola matanya berputar linglung. Keluarlah tuturan klise dari orang yang baru saja pulih dari ketersesatan pikiran, “Hah?”

Saudaranya terbahak. “Yeu, bengong.”
“Malam masih panjang. Mari kita isi dengan hiburan.” Putri meletakkan sebotol minuman ke atas meja. “ToD?”

Martha langsung menghentikan karaokenya yang belum tuntas. Berderap mendekat dan menyusup di antara Zack dan Saka. “Mau!”

“2021, masih zaman main ToD?” Tiff berkomentar.

“Sok-sokan, ntar lo juga yang paling gencar mengupas kebenaran. Si Petra udah ngasih ide, hargain dikit lah, Ratu Es,” Zack membalas.

Putri mengumpat. Antara senang karena dibela, juga kesal karena lagi-lagi dipanggil ‘Petra’. Katanya, nama Putri kelewat feminim bagi seorang Putri yang tidak feminim. Jadi Zack mengkreasikan panggilannya sendiri. Petra, bukan Putra, supaya bisa disapa ‘Pet’ yang mirip piaraan.

Sebelum terjadi perang dunia ketiga, Damar lekas menengahi, “Yuk.”

Botol pun diputar. Mengarah pada Zack si pemutar. Matanya melotot, hendak memrotes, tapi langsung disela amukan Putri dan desisan Tiff.

“Kan perjanjiannya yang muter nanyain yang kena,” Zack membela diri.

“Karena kamu yang kena, kami yang tanya,” putus Tiff, disahuti anggukan Putri.

Zack misuh, “Giliran nge-bully gue aja lo berdua pada kompak, ye. Truth. Satu pertanyaan. Silakan, Ketua.” Dia memilih jalan aman. Daripada harga dirinya tercabik-cabik kalau kuasa ada di tangan Tiff atau Putri.

“Pernah minder dari Saka?”

Kedua bersaudara saling adu pandang. Tidak lama, Zack memecahkan keheningan dengan semburan tawa. Saka sendiri mendengus kecil, mencomot sebiji kentang goreng dari sodoran Martha.

“Pernah, tapi udah lama banget. Dia boleh pinter, tapi gantengan gue,” jawab Zack akhirnya, disambut Tiff yang berlagak muntah.

Putaran kedua oleh Tiff. Mulut botol mengarah pada Saka. Lelaki itu terkejut sejenak.

Tiff menyeringai seram. “ToD?”

“Truth.” Hanya si Tolol yang memilih Dare, selagi tiada yang tahu jawabanmu jujur atau bohong. Meski Saka juga tak mungkin berbohong.

“Ada yang kamu taksir di antara kita?”

Saka mengerjap. Tak menyangka pertanyaannya akan seperti ini.

Seisi ruangan menahan napas. Menanti.

“Ada.”

Putri bersiul. “Wow! Mengapa aku tetap terkejut?”

Seringai Tiff tambah lebar. “Siapa?”

Saka membalas dengan dingin, “Satu. Pertanyaan.”

“Sial,” umpat Tiff. Merutuki dirinya yang salah jalan.

Putaran ketiga. Damar yang memutar. Mulut botol mengarah pada Martha yang langsung mengangkat tangan sebelum ditunjuk.

“Eh? Aku? Truth.”

Putri tergelak. “Truth maning!”

Damar berpikir sejenak. “Hm, pertanyaan sederhana. Kalau ada seseorang di antara kita yang ingin kamu jadikan pasangan hidup, siapa dia?”

Gerak tangan Saka yang melipat ujung lengan kemejanya berhenti. Napasnya tertahan sejenak, hingga dia bisa mendengar degup jantungnya sendiri. Berharap … bolehkah dia …?

“Tentu saja! Medina, Kekasihku, Sayangku, ah, sayang dia nggak hadir di sini karena shift malam.”

“Cowok dong, cowok!” Putri memprotes, gemas.

Martha mengangkat bahu seringan kapas. “Ketua tadi nggak nyebut gender tertentu, jadi, boleh dong, kuambil secara umum?”

Gadis itu terkekeh. Menyandarkan kepalanya pada pundak Saka. Hal yang sebetulnya merupakan kebiasaannya, tetapi seberapa sering pun dia melakukannya, efeknya tetap sama. Aroma sampo, parfum, dan keringat akibat aktivitas sepanjang hari berbaur jadi aroma ‘Martha’ yang mengacaukan kerja otak seorang Saka.

Tinggalkan komentar