prompt: modern fairytale
jumlah kata: 494
Siapa pun bisa menjadi peri. Siapa pun memiliki tongkat sihir sakti yang bisa menyulap apa saja yang ia kehendaki menjadi sesuatu yang lain lagi.
Saat pertama kali berjumpa dengan malam, angkasa jatuh hati. Malam melukiskan baginya keindahan yang semula tak ia ketahui. Bahkan, warna yang mulanya ia sangka tiada, lantas berubah menjadi sesuatu yang ia akrabi.
Di situlah angkasa melihat, betapa malam buta akan potensinya sendiri. Malam pun memiliki tongkat sihir sakti yang bisa menyulap hal
yang biasa-biasa menjadi lebih indah, lebih, rekah lagi. Dan, bahu malam adalah tempat pulang
yang orang sebut rumah.
Maka, angkasa membawakan keping-keping gemintang yang selama ini ia pendam, untuk menghiasi malam. Suguhan terima kasih, juga ... pertanda cinta.
Malam senang sekali. Sayang, ia luput untuk mengerti. Suatu hari, dipertemukannyalah angkasa dengan lautan sebagai balas budi.
Berada di sisi mereka membuat angkasa tahu, dirinya hanyalah sesuatu yang semu. Ia-lah
bayang-bayang yang menggelantung, riang atau malang. Malam dan lautan adalah sepaket keajaiban dunia yang ingin membuatnya terus bernyanyi, berpuisi, dan mengelu. Betapa ia ingin terus bergentayangan di antara keduanya, hingga semua ini berakhir, jika semua ini punya akhir.
Namun, angkasa terlambat menyadari satu hal, ketika berabad-abad masa terlahap sudah.
Bahwa kehadiran dirinya di tengah-tengah garis pertemuan malam dan laut nyatanya menghapus warna laut, mengubah laut menjadi sesuatu yang bukan dirinya.
Ketika angkasa mampu melihat bahwa laut memuja dan mendambanya, ia hanya bisa diam. Tiada gunanya juga sesal itu. Tongkat sihirnya telah telanjur ia gunakan untuk sesuatu yang salah.
Sepertinya dirinya bukan peri, melainkan nenek sihir bertopi kerucut yang licik tak terperi.
Akankah angkasa menerima tulahnya?
Sebab, siapa pun bisa menjadi peri. Siapa pun memiliki tongkat sihir sakti yang bisa menyulap apa saja yang ia kehendaki menjadi sesuatu yang lain lagi. Namun, seandainya bisa, angkasa ingin mencari cara menjaga tongkat sihirnya agar diam abadi.
Terdengar suara gemeretak. Saka sadar, sumbernya dari rahangnya sendiri yang mengencang.
Saka tidak punya kemampuan membaca kalimat bermajas. Ia hanya akan tahu bahwa apa yang ditulis Martha adalah serangkai kalimat puitis tentang malam, laut, dan angkasa, yang entah apa maknanya, kalau saja Martha tak pernah menyinggung satu kata itu di hadapannya. ‘Seandainya’ saja Martha tidak pernah meracaukan kata itu di hadapannya, ‘saat mabuk’.
Mau tidak mau, memorinya yang selalu akurat memutar kilasan adegan itu dalam arus pendek.
Saat di mana Martha yang sempoyongan tiba-tiba saja menghambur ke arahnya, ketika ia bermaksud mengantar gadis itu pulang.
“Kamu laut, Saka. Laut. Aku pengin nyelam lebih dalam, tapi takut. Di sini …” Jemarinya menunjuk dada Saka, “…ada sesuatu yang gelap. Bertekanan tinggi. Aku …takut ….”
Saka pikir kalimat itu hanya racauan orang mabuk. Saka pikir itu hanya omongan kosong tanpa makna, dan karena Martha punya kebiasaan berpuisi, ceracauannya pun terdengar istimewa. Namun, di posisinya kini, entah mengapa Saka mengerti.
Saka mengerti, bahwa Martha sudah tahu akan perasaannya.
Dan, Saka mengerti, tulisan yang diterbitkan Martha hari ini adalah tentang mereka.
Jika Saka adalah Lautan, maka Martha pasti Angkasa. Lalu …, siapa Malam?
Saka sudah punya gambaran, tapi dia menggeleng, menghalaunya pergi. Dia menolak percaya.
