prompt: reputasi
jumlah kata: 494
“Mas Saka, pertemuan sama klien dari toko bunga yang mau bikin website itu hari ini, ‘kan?”
Saka melungsurkan atensi dari layar. Lalu menghijrahkannya pada lembar post-it di tepiannya. “Oh, iya. Makan siang nanti.”
Nyaris saja dia lupa. Bahkan sudah terpancang dalam niatnya untuk tidak makan siang dan lanjut bekerja saja. Untuk hari ini, Saka pantang memberi kesempatan melamun bagi dirinya. Itu sama saja dengan meminta sel-sel otaknya menyuguhkan apa yang mau dia lupakan.
Seandainya saja pikiran punya fitur untuk memblokir adegan pilihan yang tidak mau dia lihat.
Untunglah rekan kerjanya mengingatkannya akan kewajiban itu. Saka kirimkan sebuah pesan kepada klien yang bersangkutan untuk mengonfirmasi pertemuan.
Lelaki itu tiba lebih dulu di restoran yang dijanjikan. Membuka laptop, memesan secangkir kopi, dan duduk menanti. Tidak lama kemudian, satu suara lembut menyambangi kuping, menyebut nama perusahaannya.
Saka mengangkat muka dan segera dihadapkan dengan seorang gadis yang … cantik. Sebagai pria yang jarang memuji, jika otaknya mencetuskan kata cantik bagi seseorang, maka orang itu memang ‘sebegitu cantiknya’.
“Mbak Bella? Saka.”
“Halo, Mas Saka. Bella.” Bahkan jabatan tangannya pun ‘selembut itu.’
Keduanya duduk berhadapan. Memperbincangkan detail perencanaan situs web toko bunga yang dimiliki Bella, kemudian menyantap makan siang masing-masing.
Di akhir pertemuan, Bella tiba-tiba saja membahas sesuatu yang lain.
“Mas Saka ini saudara kembarnya Zaki, ‘kan?”
Alis Saka terangkat. Nama ‘Zaki’ yang disebutkan adalah pertanda bahwa gadis ini kenalan lama. Namun, hasil pencarian yang sesuai dengan ciri-ciri Bella nihil dari memorinya.
“Ya. Kalau dia dengar kamu manggil dia Zaki, mungkin dia bakal ngomel-ngomel.”
Bella terenyak. “Eh?”
“Di pergaulan dia lebih dikenal dengan Zack sekarang,” jelas Saka. “Mbak Bella kenalan lama, berarti?”
“Iya. Dulu, pernah satu tempat bimbel waktu menjelang UN.” Tawa kecil terdengar. “Pantes. Waktu lihat Mas Saka tadi saya pikir tadi saya ketemu Zak—Zack, tapi …, namanya beda. Uhm …, terus, jadi inget kalau Zack punya saudara kembar. Gimana kabarnya sekarang?”
“Kabarnya baik.” Mendadak, sesuatu melintas dalam pikiran Saka. “Sebentar. Satu tempat bimbel?”
Saka memang tidak ikut bimbel kala itu. Tidak perlu, karena dia bisa mencerna semua mata pelajaran sendirian. Namun, dia ingat jelas ada satu gadis yang pernah menjadi motivasi Zack untuk rajin mendatangi tempat les itu. Dan, benar, namanya Bella.
“Ah. Kamu Bella yang ‘itu’.”
Bella mengernyitkan kening. “Maksudnya?”
“Bisa dibilang, saya udah kenal kamu dari cerita Zack.”
“Kalau begitu, kita sama. Saya juga kayaknya sudah kenal Mas Saka lewat cerita Zack.”
Saka tertawa kecil. “Kamu manggil saya pake embel-embel, tapi nggak untuk Zack. Itu lucu.”
Bella ikut tertawa. “Soalnya kita baru kenalan resmi, ‘kan? Tapi …, saya penasaran apa aja yang diceritain sama Zack tentang saya.”
Saka mengingat-ingat. “Dia bilang kamu cantik.” Melihat respons Bella yang biasa-biasa saja, Saka bertanya, “Mbak Bella udah biasa dibilang cantik, ya?”
Wanita itu tertawa lagi. “Kalau yang bilang itu Zack, udah sering malah.”
“Kardus emang mulutnya. Tapi, dia tulus, kok.”
Saka jujur. Bukan cuma karena Bella memang cantik, melainkan juga karena Saka tahu saudaranya sungguhan memuji. Dia juga tahu, kecantikan Bella jugalah yang membuat Zack batal mendekati gadis itu lebih jauh lagi.
