prompt : knife under my pillow
jumlah kata: 494
KEPULANGAN Zack ditandai dengan suara berisik ketika Saka hendak meraih sikat gigi. Disusul wajah paniknya, mencuat dari pintu kamar mandi yang terjeblak tiba-tiba.
“Jangan dulu gosok gigi! Gue bawa pizza sama takoyaki.”
Tangan Saka berhenti di udara. Bermacam-macam prinsip hidupnya, tetapi pantangan ngemil tengah malam tidak termasuk di dalamnya.
Di meja terhidang sekotak besar pizza dan kemasan takoyaki. Selagi Saka duduk mengudap hidangan tengah malamnya, Zack malah membaringkan tubuhnya pada sofa ruang tengah, fokus mengutak-atik ponsel.
“Nggak ikut makan?” tanya Saka heran.
“Dah kenyang. Itu juga sisa dari pesta pembubaran. Daripada kebuang, gue bawa aja.”
“Lo pikir perut gue segede apa?”
“Makanlah yang banyak, Mas Saka. Biar ototnya makin ena dipeluk.”
Saka mendesis, “Sinting.”
“Selama gue keluar, lo udah gerak belum?”
Saka mengerti pertanyaan ini menjurus ke mana. Obrolan langsung mereka terakhir kali mengungkit satu nama. Namun, ia sengaja berlagak tidak tahu. “Gerak apa? Olahraga? Tiap hari.”
Kesal, Zack menegakkan tubuhnya menghadap sang sulung. “Pinter banget.”
“Gue tahu itu,” Saka menyahut cuek.
Melihat ketiadaan gelagat dari Saka untuk menjawab dengan serius, Zack mengerang. Ia daratkan tubuh pada kursi di seberang Saka. “Belum nembak si Martha juga?”
Saka menjeda semua gerakannya beberapa detik lamanya. “Belum.”
“Kenapa? Masih takut ditolak? Nyali lo kenapa sipit gini, sih?”
Ada dorongan dari dalam dada Saka untuk menyemburkan rentetan makian ke wajah saudaranya. Andai Zack menjadi dirinya, dengan potensi dikecewakan lebih besar dibanding kepuasan, apakah lelaki itu bakal tetap maju berperang? Sementara alasan kekalahan itu justru datang dari sosok yang tidak tahu ada peperangan.
Saka berdusta, “Belum ada waktu mikirin itu. Kerjaan lagi padat.”
Sekepul napas yang disemburkan Zack jauh lebih mirip desahan gusar. Ia topang tubuhnya pada sandaran kursi jati. “Gue bantu?”
Saka menahan geramannya. “Nggak.”
Timbullah jeda yang diisi decak samar kunyahan Saka, juga ketukan ujung telunjuk Zack pada permukaan meja. Saka tahu, ia sedang diamati. Maka otaknya mencetuskan pengalihan topik sebagai langkah defensif. “Gue ketemu Bella.”
Trik yang jitu untuk mendistraksi Zack. “Bella … siapa?”
“Anak bimbel yang dulu lo taksir.”
Bola mata Zack berasa hendak meloncat dari rongganya. “Serius? Bella Aphrodite?”
Saka mengerutkan kening. “Nama belakangnya bukan Aphrodite, seingat gue.”
“Betul! Itu panggilan gue doang.” Zack terkekeh. “Ketemu di mana?”
“Dia klien gue.”
Mengalirlah deretan informasi yang menumpahkan rona pada wajah Zack. Sehabis kelulusan, Bella berkuliah di kota sebelah. Sebuah alasan mereka tidak lagi saling jumpa. Interaksi hanya berlangsung lewat media sosial. Itu pun tidak lama, sebab kesibukan masing-masing yang menyita.
Rona itu surut ketika Zack bertanya, “Udah nikah, dia?”
Saka mengingat-ingat sejenak. “Nggak tahu. Nggak sopan juga kalau ditanya.”
“Cincin?”
“Pake. Entah cincin kawin apa bukan. Tapi dia sempat bilang tinggal sendiri.”
Binar dalam mata Zack timbul selekas surutnya kembali. “Itu bisa berarti apa aja.”
Saka mengangguk. Memang, informasi itu belum bisa memberi kepastian.
Ada gagasan yang tiba-tiba terlahir dalam kepalanya, hingga Saka gugup sendiri. Gagasan yang menyalahi prinsip, juga kode etik profesinya. Namun, langkah ini bisa sedikit membantunya mencegah apa-apa yang tidak ia inginkan.
Ia kepalkan tangannya untuk menguatkan hati.
“Lo mau gue kasih kontaknya?”
