#9 Fragmen Intuisi

prompt: epiphany
jumlah kata: 494

SAAT mengajukan sepotong kalimat itu, Saka tidak mengira efeknya bakal jitu, hingga sebulan berlalu.

Sebab pekan-pekan sibuk yang menjadikan Saka dan komputernya sebagai sepasang sejoli tak terpisahkan, juga menjauhkannya dari interaksi berlebihan, baru berakhir dengan pesta syukuran wisuda di kediaman tantenya. Bahkan dengan Zack yang serumah pun hanya ada tukar kabar ala kadar. Meski mengakrabi kesunyian, kembali hadir dalam interaksi sosial ini seperti menghirup angin segar usai mendekam seharian di rubanah minim oksigen.

Akan tetapi, berbeda dengan Zack yang menikmati setiap detik prosesi sapa-menyapa dalam acara keluarga, Saka lebih suka menepi. Hanya menyapa kalau disapa. Menjawab jika ditanya. Andai tiada ultimatum tantenya, dia lebih pilih duduk di kamar, ngopi-ngopi sambil mendengar keramaian sekeliling. Terkadang, status sebagai cucu paling tua dalam keluarga terasa seperti massa yang diletakkan di kedua pundaknya, menelikungnya untuk melakukan apa-apa yang ia mau.

Maka keningnya berkerut ketika Zack yang sudah sampai lebih dulu tiba-tiba menyambut di muka gerbang dengan senyum lebar.

“Nggak istirahat aja? Gue udah minta izin ke Tante buat lo padahal.”

“Omongan lo kayak kita ini anak sekolahan.”

Zack hanya terkekeh sambil merangkul karib pundaknya. Kekehan yang mengingatkan Saka akan momen di mana Zack berterima kasih, lantaran Saka yang terkenal pelit akhirnya sudi membantu kerjakan tugasnya. Atau ketika Saka membelikannya handphone dengan gaji pertamanya saat Zack masih berstatus mahasiswa tua.

“Lo mau kado apa, Ka?”

Firasat Saka terbukti. “Lo habis dapat bonusan gede?”

“Gede buanget. Berkat lo juga.” Zack terkekeh lagi. Ia dekatkan mulut ke kuping Saka. “Gue sama Bella jadian.”

Kabar itu sejenak membuat Saka teralienasi dari sekelilingnya. Sebulan rupanya cuma waktu yang mengempis oleh tangan dilatasi, padahal telah dua dekade lamanya dunia ini berputar. Seolah Saka baru saja pulang dari Saturnus dalam kondisi sama seperti sesaat sebelum berangkat, lalu pulang-pulang disuguhi pemandangan teman sepermainan yang telah menjelma manula.

Ringkasan cerita Zack tentang caranya mendekati Bella disimak Saka dengan setengah sadar. Terlampau takjub hingga tak tahu mau bilang apa. Terlampau heran sampai kehilangan kata-kata. Mungkin pula iri, meski tidak dengki. Bagaimana bisa kisah cinta yang lama tersumbat baru berlanjut bertahun-tahun berikutnya, hanya dengan satu bisikan kecil dari kepalanya?

Suara barang pecah menghentikan laju cerocosan Zack, sekaligus kereta pikiran Saka. Di tengah keramaian, dua balita kembar berbeda jenis kelamin tengah adu mulut menyalahkan satu sama lain. Yang perempuan menangis. Yang lelaki menyalak-nyalak bengis.

Saka bermaksud menghampiri ketika suara Zack mencegahnya. “Biarin bapaknya yang ngurus. Dari tadi juga udah bikin rusuh mereka. Hedeh.”

Steven, adik ayah Zack dan Saka, datang merelai putra-putrinya. Rupanya mereka saling berebutan gelas es krim yang sama.

“Nih, jangan saling rebutan. Kalau mau apa-apa itu bilang. Mami masih punya persediaan.” Istri Steven menyusul dengan dua gelas identik yang sudah diisi es krim. “Yang di lantai ini sampah, mau Mami singkirin. Ini, ambil yang baru. Lihat, sama aja, ‘kan?”

Sebagai seseorang yang mengaku logis, Saka tidak pernah memberi celah bagi pemikiran yang tidak rasional. Namun, kabar dari Zack barusan membuatnya merelakan sepetak kecil isi kepercayaannya yang paling dalam, paling gelap, dan paling rahasia, untuk sesuatu bernama intuisi.

Tinggalkan komentar