#10 Bias Refleksi

abula10 • Bias Refleksi]

prompt : House with no Mirror
jumlah kata : 494

PERTEMUAN kembali usai sesi TOD tempo hari baru bisa berlangsung lagi. Perbedaan jam terbang menyulitkan mereka untuk menyetarakan masa senggang masing-masing. Moonrise Cafe yang baru buka sejak mentari terbenam masih jadi dermaga bersandarnya kapal-kapal mereka demi secuil hiburan. Satu-satunya tempat nongkrong yang memberi kedamaian setara rumah kedua.

Kali ini, Saka sengaja tiba lebih duluan. Bukan hanya karena hari ini tanggal merah dan masa-masa longgar di mana dia tidak dihalau setumpuk daftar lemburan. Melainkan juga demi meraut kepercayaan dirinya yang menumpul sejak keputusannya terbit pagi ini.

Bahkan lama sebelum Saka tiba, dia bolak-balik menatap penampilan asing di hadapan cermin. Kebingungan akan siapa yang ada di dalam sana, juga skeptis pada diri sendiri. Keraguan hilang lalu timbul bagai denyut sakit gigi. Benarkah ini bisikan yang akan membuat Martha melihatnya?

Hingga Saka putuskan melangkahi keraguan itu meski keyakinannya pun tak seberapa tinggi.

Duduk Saka menegak ketika sosok jangkung melebihi rata-rata cewek muncul dari pintu yang berdentingan. Putri. Cewek dengan rambut dikucir kuda itu nyengir dari kejauhan, lalu menghampirinya.

Sigap mengantisipasi, Saka melotot segarang anjing polisi ketika tangan Putri hendak menoyor kepalanya sok akrab.

“Jadi apa kejutan yang—” Mulut cewek itu menganga lebar begitu menyadari sesuatu. “Ya amplop! Saka? Sori, sori, gue kira Zack tadi. Lagian penampilan lo beda. Lo kemanain kemeja-kemeja klimis lo itu?”

Saka berdecak jengkel. Ia tahu ini tidak biasa. Ia juga tahu ide ini gila. Ia pun tahu kalau Putri adalah sosok yang berisik, yang omongannya tak punya barikade peringatan moralitas dan sebangsanya. Namun, rentetan kalimat Putri tadi tetap saja membangkitkan amarahnya.

Mungkin karena dirinya sendiri tidak yakin.

“Nggak usah berisik. Ini cuma baju.”

Dusta. Saka tahu, perubahan penampilannya dari kacamata menjadi lensa kontak, serta kemeja dengan garis setrika yang masih kelihatan menjadi kaus dan celana jins sewarna malam ini tidak hanya sekadar ganti gaya biasa. Ini keputusan nekatnya untuk mencoba menjadi apa yang mungkin dilihat Martha.

Putri ber-‘Oops’ dan hanya terkekeh tanpa membahas lebih. Dia menanyakan hal lain, “Katanya Zack mau bawa kejutan? Kejutan apa? Spoiler-in gue, bisa kali.”

Zack memang doyan berlagak bikin orang penasaran. Di obrolan grup mereka, laki-laki itu sengaja berkata demikian sampai anak-anak riuh mempertanyakan. Saka sendiri tidak diberi tahu, kendati jika melihat aura merah jambu yang dipancarkan zaudara kembarnya itu, Saka sudah punya dugaan.

“Nggak tahu.”

“Masa?”

“Gue nggak dikasih tahu.”

“Tapi masa lo nggak punya gambaran?”

Suara cekikik yang mendekati mereka serta-merta melungsurkan kalimat yang tergantung di lidah Saka. Suara yang dia nanti dengan kecemasan membeludak itu sudah tiba.

Tangan Saka terasa dingin ketika Putri menyapa kedua sosok itu dengan suara keras, “Medi! Martha! Sini, lihat deh, penampilan baru Mas Saka. Kasep pisan, nya? Gue kira tadi Zack, anjir! Mau gue pukul kepalanya, eh, pas lihat matanya, kok, gue merinding? Untung nggak jadi!”

Napas Saka terjeda, sementara jantungnya menabuh genderang manakala atensi berlapiskan lensa kontak sewarna langit itu terarah padanya.

Namun, dari sana juga dirinya tahu betapa konyol langkah yang diambilnya ini, ketika senyum Martha lungsur, bersamaan dengan binaran matanya yang meluntur. Gadis itu menatapnya dengan sorot beku.

Tinggalkan komentar