#11 Sublimasi Nyali

prompt: gendak
jumlah kata: 494

BUKAN Martha namanya jika tidak gesit mengendalikan ekspresi. Dalam sekejap, raut normalnya kembali, seolah tiada yang terjadi. Seolah dingin yang Saka tangkap tadi hanya berlangsung dalam mimpi.

“Ganteng, tapi aku lebih suka gayamu yang biasa. Ini …, kayak bukan kamu.”

Kalimat yang diucapkan dengan tenang seakan tanpa intensi apa-apa itu justru seperti belati es yang menancap pada dada Saka. Separuh hatinya sakit karena usahanya terasa tidak dihargai. Separuhnya lagi malah mengangguk setuju, sebab Saka sendiri tahu, betapa tidak nyamannya berpenampilan begini.

“Tuh, ganteng katanya. Meski gantengan pakai kemeja biar aura budak korporat seksinya memancar,” Putri menambahkan.

Saka menyahut dengan gumaman. Karena memang lebih sering berada dalam mode senyap dan dingin, kebungkamannya tidak akan dipermasalahkan. Terbukti, sebab ketiga perempuan di sisinya lanjut membahas hal-hal lain tanpa mempedulikan dirinya. Namun, tidak dengan matanya yang lamat-lamat mengawasi setiap gerak-gerik Martha. Bermaksud mencungkil apa-apa yang disembunyikan di balik wajah tertawanya.

“Nge-harem, ya, Mas Saka.” Sosok Tiffany melangkah mendekat. Ekor matanya bergerak memindai satu-satu wajah perempuan di sana. “Istri pertama, istri kedua, istri ketiga …”

“Dan lo gundiknya!” sambar Putri ganas.

Tiffany menyahut dengan intonasi datar, “Bagus, dong. Gue jadi yang paling disayang.”

Saka mendengkus, jengkel sekaligus malas meladeni. Sebetulnya dia juga tak enak hati menjadi satu-satunya lelaki di sini. Maka, ketika tak lama kemudian Damar datang, Saka seperti merasakan embusan angin segar.

“Sunny nggak ikut lagi, Ketua?” Martha bertanya.

“Nanti menyusul. Dia masih ribet, katanya. Entahlah ribet apa.”

“Anaknya kan, emang ribet. Rusuh ke mana-mana,” seloroh Putri.

“Nggak ngaca,” Tiffany mencibir. Dia berkata lebih pelan, “Tapi rusuhnya imut. Nggak kayak rusuhnya seseorang.”

Berang, Putri bangkit. “Gue denger ya, Gundik! Jaga mulut biadab lo itu.”

Damar memijat pelipis. Datang-datang langsung disuguhi lontaran makian membuatnya stres. “Bisa nggak sih, kalian akur sebentar aja? Kamu juga Put, ngatain orang nggak membuat kamu lebih tinggi. Apa perlu aku kasih tahu bagian mana dari kalimatmu yang nggak pantas?”

Putri mengangkat kedua tangannya. “Sorry.”

Medina, yang sedari tadi diam mengamati, tiba-tiba saja mengembangkan senyum, lantas berceletuk, “Kejutan sudah tiba.”

Kepala-kepala berputar menghadap satu arah. Dari sana, Zack nyengir, menggandeng intim lengan seorang wanita cantik. Mulut Putri membuka lebar.

“Oh. My. God. Siapa ini?”

Zack terkekeh girang. “Kenalin. Bella. Cewek gue.”

Seusai membalas sapaan Bella dan membiarkan gadis itu berkenalan dengan anggota lainnya, Saka kembali mengamati ekspresi Martha. Mata yang membola tapi sendu. Wajah yang memucat. Hingga wanita itu kembali tersenyum sembari menyambut sodoran tangan Bella, seperti tak ada yang terjadi.

“Pelet lo canggih juga. Dukun mana?” Tiffany berkomentar, disambut tawa sekeliling.

Ketika tawa itu memudar, tiba-tiba Martha bertepuk tangan. “Karena gue udah tahu kejutannya, gue pamit, ya. Sorry, nggak bisa lama-lama. Ada pemotretan sampul majalah, soalnya. ”

Medina mengerutkan kening. “Bukannya besok pagi?”

“Iya. Cuma … ada beberapa hal yang mesti diurus dulu. Pamit, ya—”

Sigap, Saka ikut berdiri. “Aku antar.”

“Aduh, nggak perlu—”

“Aku. Antar,” tegas Saka. Pantang menerima penolakan untuk yang satu ini. “Ada yang pengin aku ngomongin.” Meski dia tahu ini bukan waktu yang benar-benar tepat, kenekatannya mungkin tidak akan datang lain kali.

Tinggalkan komentar