#12 Obskuritas Agresif

prompt: kalau aku suka kamu, gimana?
junlah kata: 494

TERDENGAR kesiap dan suara batuk-batuk samar. Saka enggan peduli. Sebab fokusnya telah terpatri lurus pada gadis yang memandangnya terkejut, seolah tak menyangka kalimat itu bakal tersumbar dari mulut seorang Saka. Saka tunggui setiap respons dari lisan dan gestur perempuan itu.

“Oke.”

Nada suara Martha yang lemah sempat membuat Saka mencelus sejenak. Akan tetapi, Saka pantang berhenti. Sudah sejauh ini dia melangkah. Dia tak bisa mundur lagi.

Saat memungut jaketnya, lelaki itu menemukan tatapan mata bangga Zack mengarah padanya. Tatapan yang sejurus kemudian Saka putus sambil mendengkus.

“Nggak mau nungguin Sunny dulu, Ka? Kalian udah lama banget nggak ketemu, ‘kan?” Suara Damar menginterupsi.

Saka menggeleng. Sunny memang sering bergabung dalam perkumpulan mereka, tetapi terakhir kali dia datang, justru Saka yang tak hadir karena sibuk. Akan tetapi, ini bukan saat yang tepat untuk menunda laju larinya hanya demi berjumpa dengan gadis ceria yang sering mereka anggap bungsu.

Usai berpamitan sekali lagi dengan anggukan, dia jejeri langkah Martha dengan kikuk. Ke pundak gadis itu, dia sampirkan jaketnya. Martha mengangguk samar, tidak berkeberatan. Sementara isi kepala Saka sibuk bertanya-tanya, mengapa kali ini tiada gelayut manja atau kontak fisik apa pun yang menjadi khas perempuan itu dan selalu Saka terima senang hati.

Juga, mengapa udara terasa lebih dingin selama menuju parkiran.

Bahkan perjalanan ke kediaman Martha pun lebih banyak diisi dengan kebungkaman. Seolah Martha membiarkan Saka menghimpun energi dan nyali dari sepenjuru dunia untuk bertatap muka dengannya begitu sampai nanti.

“Mau ngomong apa?”

Suara Martha memecahkan gelembung melankolia dalam kepala Saka setelah perempuan itu turun dari motor.

Mulut Saka membuka. Namun, tiada sepatah pun kata yang meluncur mulus dari sana. Retorika yang selalu dia banggakan dalam setiap presentasi atau debat kini bersembunyi, seakan ciut oleh gebukan jantungnya.

“Kalau yang mau kamu bahas ini menyangkut perasaan, aku khawatir bakal mengecewakanmu.”

Kini, bahkan gebukan jantungnya pun sudah tidak mampu Saka dengar lagi. Kalimat ‘aku menyukaimu’ yang tergantung di ujung bibirnya pecah, tertelan bersama gumpalan saliva yang memahit di lidah.

“Kenapa?” tanya Saka, akhirnya. Serak. “Karena kamu suka orang lain?”

Gantian Martha yang tercengang.

Saka ringkus mata biru yang berkaca-kaca itu dengan tatapannya sendiri yang penuh luka.

Ketiadaan gelagat dari Martha untuk menjawab lebih lanjut makin mengobarkan amarah dalam diri Saka. Di sisi tubuhnya, kedua tangannya mengepal sebagai pelampiasan.

“Dan, orang itu Zack?”

Gadis di hadapannya menunduk.

Saka membuang tatapannya pada jalanan yang dilalui kendaraan lain. Cahaya lampu-lampu terasa kalah silau dibanding respons Martha yang menusuk mata dan hatinya.

Jadi, dugaannya benar. ‘Malam’ adalah saudara kembarnya.

“Nggak masalah,” Saka memutuskan dengan nekat. Sudah telanjur basah, mengapa dirinya tidak berenang sekalian? “Kamu tahu, Zack sudah punya Bella. Kalau kamu mau—”

Cepat, Martha mengangkat mukanya. “Nggak, Ka.”

Namun, Saka pantang berhenti. “—aku bisa jadi Zack buat ka—”

Kalimat itu terhenti, bukan oleh keinginan Saka sendiri. Sebab, Martha telah merangsek maju, mereduksi setiap spasi. Dan, sesuatu yang lembut, manis, tapi dingin, membungkam derasnya arus kalimat dari bibir Saka.

Dunia terasa berhenti berputar.

Namun, berkat itu pula, kesadaran Saka yang sempat hilang disergap kesintingannya, kembali pulih.

Tinggalkan komentar