#13 Terminasi Memori

prompt: semicolon
jumlah kata: 494

GEDORAN di pintu kamarnya membuat Saka terjaga. Saka tahu itu siapa. Saka juga tahu saudara kembarnya mau apa. Dan, Saka sepertinya tahu apa komentar yang bakalan disampaikan Zack jika Saka ceritakan kepadanya peristiwa semalam.

Jadi, alih-alih bangkit dan beranjak membuka pintu bagi Zack yang sudah senewen menanti cerita, Saka malah menutupi kepalanya dengan bantal. Bermaksud meredam suara-suara di luar sana, serta suara-suara di dalam sini.

Baru kali ini Saka merasa ingin menaruh dulu memori kolektifnya akan peristiwa kemarin ke suatu tempat yang tak terjangkau, sampai beberapa bulan kemudian, atau mungkin tahun, atau justru tidak dia kunjungi lagi sampai mati.

Saka berharap Zack mengerti dia tidak ingin diganggu. Itulah juga alasan Saka membiarkan ponselnya padam sejak semalam. Daya baterainya kosong, sebagaimana energi Saka sendiri.

Ketika akhirnya Zack menyerah dan Saka mendengar bunyi langkahnya menjauh, Saka turunkan bantal itu dari kepala dan wajahnya. Dia tatap langit-langit kamar yang temaram karena tirai yang belum disibaknya kendati matahari sudah meninggi.

Begini ya, rasanya orang frutrasi? Atau, mungkin depresi?

Mendadak Saka menyesal karena sempat jadi manusia skeptis yang sinis pada mereka yang bunuh diri gara-gara putus cinta. Sebab kini dia mengalaminya sendiri. Mengalami perasaan bagaimana seseorang ingin mati cuma karena seorang wanita yang menyabet luka di hati.

Bahkan Saka masih merasakan sensasi kala jantungnya hendak meledak sesaat usai bibir Martha mendarat pada bibirnya. Saka pikir itu pertanda baik. Saka pikir itu pertanda bahwa Martha menerima Saka, sekalipun lelaki itu harus berubah jadi sosok lain.

Namun, ketika spasi di antara keduanya kembali, dan Saka menangkap air mata yang jatuh pada pipi Martha, Saka tahu segalanya tidak sesederhana itu.

“Maaf, Ka,” bibir Martha yang bergetar melirih, “Maaf …”

Letupan kembang api di jantungnya padam oleh air hujan. Saka terjun dari awan dan dilemparkan ke jurang. Kakinya beringsut mundur, sempoyongan. “Jangan bilang—”

Gantian Martha yang mengambil peran sebagai manusia bebal. “Maaf, aku yang salah di sini. Aku penyebab kamu jadi seperti ini. Aku yang renggut cahaya dari kamu dan datang bawakan kamu kegelapan.”

Siapa yang menjual penyumpal telinga hingga semua suara teredam sempurna? Saka mau beli. Sepuluh, kalau bisa.

Martha masih bicara, “Maaf … Tapi, kamu bukan dia.”

Kalimat yang tidak mau Saka dengar itu seenaknya menyelusup ke kuping. Dunianya semakin oleng. Saka duduk berjongkok di atas paving block, menyita perhatian massa, tapi dia tidak peduli. Dia tenggelamkan kepalanya pada lipatan tangan di atas lutut.

Begini ya, rasanya terbang lalu tumbang?

Saka tidak mau mendengar apa-apa lagi. Setiap kalimat yang terlontar dari mulut Martha hanya badai yang memporakporandakan hati. Maka dia bangkit, tanpa mengambil kembali jaketnya yang masih memeluk tubuh Martha, mengegas motornya ke sembarang arah. Ke mana pun. Asal bukan di sini atau di tempat teman-temannya tertawa-tawa. Bahkan dia kaget sendiri saat dia bisa tiba di rumahnya, juga dalam kondisi utuh tanpa cacat.

Entah pukul berapa dia terlelap semalam. Mungkin makhluk-makhluk aktif dalam otaknya iba sehingga memberi kesempatan bagi Saka untuk tidur lebih cepat. Hingga kembali lagi pada Saka yang kini memandangi langit-langit sambil berkali-kali meracaukan perintah bagi kepalanya untuk amnesia.

Tinggalkan komentar