#14 Galat Abstraksi

prompt: if things were different
jumlah kata: 494

MASA bagi Saka untuk bergelung di ruang tertutup rupanya punya batasan. Mungkin waktu memang sesuatu yang diperlukan untuk menyurutkan rasa. Atau juga karena suasana rumah yang disergap sunyi tanpa suara-suara membangkitkan keberaniannya. Mungkin pula karena otaknya yang telah memberikan informasi bahwa lambungnya kosong, sedang ia masih perlu bekerja esok lusa.

Sakit fisik karena patah hati adalah sesuatu yang konyol untuk dia lewati di usianya kini.

Saka bangkit. Mengisi daya ponselnya yang kosong total, lalu mematut penampakan seorang zombie di depan cermin pada sisi pintu lemari. Ini bahkan sudah nyaris petang, dan Saka belum membersihkan diri. Dobel-konyol.

Laptop yang ia nyalakan mengeluarkan suara berisik dari notifikasi yang tak sempat ditengoknya lewat ponsel. Saka mendesah kecewa, begitu tahu bahwa dari angka sekian puluhan total pesan tak terbaca yang nangkring di tepi ikon aplikasi perpesanan, tiada satu pun yang berbunyi ‘maaf’, dan tidak ada satu pun yang datang dari gadis itu.

Dia lemparkan pandangannya ke dinding sambil mendengkus gusar. Memangnya apa yang dia harapkan, sih?

Mengabaikan semua pesan itu, Saka tuntaskan misinya untuk memesan makanan lalu kembali merebahkan diri dengan selusin andai.

Andai Saka tidak nekat mengakui perasaannya, dia tidak akan berakhir ditolak. Kini ia paham mengapa orang-orang enggan memastikan diri ke dokter meski sadar dirinya sakit. Terkadang lebih baik hidup dalam ketidakpastian dibanding langsung menerima vonis menyakitkan.

Andai yang Saka sukai bukan Martha, tapi gadis lain, mungkin dia tidak akan kebingungan dan berujung salah menentukan langkah begini. Andai yang Martha sukai bukan Zack, mungkin egonya tidak akan seterluka ini. Pemikiran ‘andai’-nya terbang makin jauh, lali hinggap pada penyesalan akan keputusan menempeli teman-teman Zack lima tahun lalu. Andai saja demikian, gadis bernama Martha hanya akan jadi seseorang asing yang dia tatap dingin; seseorang asing yang takkan pernah punya kesempatan untuk menoreh luka di hatinya.

Akan tetapi, seperti siklus pemikiran yang hanya berputar konyol, Saka kembali lagi pada pengandaian terdekat. Andai Martha menerimanya, mungkin saat ini, mereka sudah bertukar tawa lewat telepon, saling mengucap kalimat romantis, mendengarkan ‘gadisnya’ melisankan puisi-puisi manis dengan suaranya yang dinamis, bukan teronggok menyedihkan di kursinya seperti saat ini.

Merasa pemikirannya lagi-lagi mulai membabat rasionalitasnya, Saka memukul kepalanya sendiri. Dua kali. Tiga kali. Martha adalah seonggok virus yang merusak sistem berpikirnya yang ‘dahulu’ selalu logis. Seharusnya Saka mencari jalan keluar, bukannya malah makin berputar-putar di tengah pusaran angin dari tarian sang virus.

Tepat saat itu, notifikasi kembali hadir. Pesanannya sudah sampai.

Maka mengendap-endaplah Saka keluar. Napas leganya tersembur begitu melihat rumah yang lengang. Bertemu Zack belum mampu dilakukannya tanpa rasa tertusuk di dada. Saka mengakui, kali ini, ia iri. Apa kurangnya ia dibandingkan saudara kembarnya? Di saat Zack sukses mendapatkan gadis incaran setelah berpisah bertahun-tahun lamanya, mengapa Saka gagal mendapatkan gadisnya yang selama lima tahun ini terus bercokol di sisinya?

Kehadiran petugas pengantar makanan mengerem putaran otaknya. Selagi menerima pesanannya, Saka melirik garasi, dan menemukan semua kendaraan mereka terparkir di sana. Sebuah pertanda bahwa Zack ada. Kembali, Saka berjalan mengendap-endap seperti pencuri, di rumahnya sendiri.

Namun, terlambat.

Suara Zack pun terdengar. “Martha nolak lo?”

Tinggalkan komentar