Day 4 – Tertampar

SERATUS DUA PULUH MENIT telah berlalu, tapi layar di hadapan mata Beta masih bersih. Sebersih isi benaknya. Sekinclong daftar dosa bayi yang baru dilahirkan.

Di sinilah realita bicara: ada kalanya kebersihan bukan sebagian dari iman. Bersihnya isi benak berarti hampanya ide. Bersihnya kertas kerja mengancam usaha Beta dalam ajang ini.

Mata itu sudah mulai berketap-ketip. Mengantuk, menuntut pejam dalam ibadah malam minggu di atas bentangan kasur dan selubung selimut hangat.

Namun, kewarasannya membentak, “HOI! Selesaikan ini dulu, dong!”

Beta bukannya tak punya ide. Ada satu-dua gagasan yang sempat mencuat dalam benak, tetapi lekas dihalau pergi oleh tangan idealismenya. Tiga hari ini dia membuat pembaca bergalau ria. Dan idealisme menuntutnya membentuk hal yang berbeda; hal yang ceria.

Telah Beta gunakan dua cara penggalian ide, tapi satu pun tak mujarab. Satu: bertanya pada Omega, yang sama gobloknya dengan Beta. Bagaimana tidak? Usul yang sempat dicetuskan lidah Omega berbunyi demikian: “Tampar pipimu!”

Apa coba maksudnya?

Sempat pula ia tanya Iota. Usul Iota sebetulnya waras: “Bikin cerita ngenes yang dihumorkan, yuk!”

Masalahnya, idealisme mahasongong datang menampar dengan bisikan, “Kamu pernah bersumpah berhenti menjadikan kengenesan orang lain sebagai bahan humor.”

Walhasil, Beta kian larut dalam kalutnya. Pusing dipelintir dan dihantam omongan sendiri. Sementara waktu terus melaju, melambaikan tangan genitnya sambil mengancam, “Hayooo, akika pergi, lho!”

Di tengah kekalutan itu, tiba-tiba memorinya mengulang kalimatnya yang lain. Kalimat yang baru beberapa hari lalu dia sampaikan kepada Theta:

“Ketiadaan ide bisa jadi ide itu sendiri.”

Seberkas nyala tercetus dalam pikirannya. Idealismenya masih meragu, tapi selekas itu pula, Beta sumpal mulut makhluk yang satu itu dengan bentuk tahi yang dia gambar sendiri.

“Makan tuh feses!” gerutunya. Sementara tangannya gegas menjemput keyboard, mengetikkan deretan kalimat demi penuhi utangnya.

Rupanya tak selamanya ditampar omongan sendiri berakhir merugikan. Ada kalanya ludah mesti ditelan lagi biar kerongkongan tak terasa kering, kalau memang tidak ada air.

Diikutsertakan dalam Tantangan Menulis 30 Hari, Gerimis, Ellunar Publishing.

Tinggalkan komentar