ENTAH KAPAN TERAKHIR kali hal yang hangat berkunjung ke rumah Pi, selain air mata dalam berbagai macam warna.
Terkadang merah karena curah adrenalin. Kadang biru sebab mendaraskan putaran acak nan kompleks. Tak jarang pula datang kelabu yang mencerai-beraikan benak Pi karena silih berganti pisau, obat nyamuk, dan tali tambang.
Lalu, Iota datang. Membawakannya mentari yang mengencerkan angan dan inginnya yang telah lama beku akibat dinginnya kehidupan. Pi kembali terjaga dari peluk jelaga. Kembali Pi berkenalan dengan rekah, sebab ada biji-biji kopi yang tahu-tahu melimpah di kebunnya. Rimbun, tambun, hanya karena kehadiran seorang Iota.
Maka kala angkasa Iota-lah yang dilihatnya tampak berselaput mendung, Pi bawakan untuknya bubuk-bubuk kopi yang telah dilumatkannya lebih dahulu selama tujuh hari tujuh malam. Biar Iota terhibur dan diselubungi hangat. Biar Iota kembali terjaga dan tak pernah lagi diikunjungi lelap yang gelap.
Namun, Iota menolak. Tangannya menepis tangan Pi sebelum sempat Pi sodorkan bubuk-bubuk itu ke hadapannya.
Barangkali Iota malas menyeduh sendiri, Pi mengeja duga. Jadi, Pi seduh serdak-serdak itu dengan air dari telaga di matanya yang kini tak lagi berwarna; satu-satunya sumber air abadi yang ia punya. Pi mau Iota menjadi sosok pertama dan terakhir yang pernah menyicipi kopinya.
Akan tetapi, yang Pi temukan kemudian justru sesuatu yang lebih menyakitkan ketimbang sebuah penolakan:
Hingga bermalam-malam terlalui, cangkir kopinya teronggok, terabaikan di pekarangan, tanpa pernah sudi Iota tengok, apalagi dibawa masuk rumah. Saat Pi melongok ke dalam, ia temukan Iota bersama seseorang asing, tertawa bersama, bertemankan bercangkir-cangkir kopi yang masih mengepulkan uap.
Angkasa Pi pun retak, sebagaimana bumi tempat ia berpijak, juga tanah tempat tumbuh pohon kopinya kini. Rupanya, mentari Pi telah hilang tanpa bilang-bilang. Hilang tanpa pernah sungguhan datang.
Diikutsertakan dalam Tantangan Menulis 30 Hari Ellunar Publishing, Gerimis
