IBU PERNAH MENDONGENGKAN petir sebagai isyarat murka Tuhan. Kilat cambukNya, gemuruh amukanNya. Maka badai menjadi hal yang kutakuti. Kupercaya itu pertanda Tuhan dibuat marah sampai menangis.
Lalu kau datang, menampik imanku dengan mengaku dirimulah titisan petir. Semula kuanggap kau bocah sinting. Hobimu jejingkrakan di tengah sawah, dada telanjang diguyur hujan, lantas tergelak girang saat pohon di dekatmu hangus disambar kilat.
Impresiku berubah seiring waktu mengakrabkan kita.
Sudah jarang kauungkit dongeng picisan soal titisan petir dan sebangsanya. Tapi kupaham, obsesimu pada kelistrikan itu hal yang serius. Cita-citamu jadi tukang listrik di kota besar. Insinyur, kaubilang.
Setamat sekolah, kau berniat penuhi misi itu.
Tawamu terbit saat kuungkap ketidakrelaan. “Tenang. Kau kilat, dan aku guruhnya. Kita sepaket, tak terpisahkan.”
Lalu kau ajarkanku cara menghitung jarak petir. Kaubilang durasi antara mencuatnya kilat di angkasa dengan timbulnya guruh bisa beri tahu berapa jarak lokasi berlangsungnya petir dari tempatku berdiam diri. Kupikir itu kelakar, sebab kausandingkan ia dengan kalimat berikutnya:
“Percayalah. Aku ini titisan petir. Di mana pun kaulihat petir, di situlah aku ada di dekatmu.”
Hampir kuhantam lenganmu dengan centong nasi, jika tak kulihat keseriusan dalam binar bola matamu.
Aku mulai yakin perkataanmu benar. Nyala yang membelah angkasa selalu disertai gemuruh. Dalam hitunganku, durasinya tak pernah melebihi enam detik. Kini hujan bukan lagi hal yang kubenci. Menunggui petir menjadi sesuatu yang menyenangkan dan melegakan.
Suatu ketika, badai mahabesar berlangsung di desa. Duduklah aku di dalam rumah dengan mata terfokus pada langit yang mengamuk, mencari mata kilat itu. Dari kamar kudengar salakan Ibu, memerintahkanku menutup korden. Namun, aku urung. Sebelum kutemukan mata kilat pertama, pantang kupejamkan mata sendiri.
Tiba-tiba langit menyala, meski redup.
Dan aku menghitung.
Tetapi, guruh tak pernah datang, bahkan sampai hitungan kesekian puluh.
Keesokan harinya, mentari terbit bersama sebuah berita:
Seorang petugas listrik negara tewas saat sedang memperbaiki gardu di kota.
Diikutsertakan dalam tantangan menulis 30 Hari Gerimis30 Hari, Ellunar Publisher
