KABAR YANG KUSUGUHKAN di atas baki pada keluargaku ternyata beracun. Mentransfigurasi sosok ibu jadi Medusa.
Sepasang matanya sukses membuatku membatu. Memasungku hingga kehilangan daya untuk beringsut. Sementara pucuk ubannya menjelma kepala ular yang siap memangsaku bulat-bulat.
Rasa takut membungkusku. Demi keselamatan, aku memberontak. Alih-alih berhasil, Ayah justru turut mendekat dengan pistol dan tanduk api mencuat di atas kepala. Kobaran dari bola matanya sigap menghanguskanku sampai jadi abu.
Tak tahan, aku berteriak, memanggil bala bantuan. Apa pun. Kualihkan tatap mataku ke sembarang arah. Mencari semua orang. Siapa pun. Ke mana saja, asal bukan bola mata kedua orang itu.
Seketika, sahutan dari balik kegelapan terdengar, bersama secuil cahaya samar. Semula kupikir lampu. Rupanya mata. Banyak mata. Ratusan pasang mata, juga mulut melayang. Kusangka mereka bakal membantu, sebab setiap kedipannya mencelatkan onak ke arah Ibu dan Ayah. Namun, ternyata mereka pun sama kejamnya. Kala mulut-mulut itu membuka, mereka ludahiku dengan kotoran kuda.
Kini bukan hanya rumah yang tak lagi ramah. Maka aku berusaha bergerak, bergeser. Memberontak. Kali ini sukses. Akhirnya, pasung kakiku tanggal, hingga kuperoleh kembali daya untuk berlari. Tersaruk kususuri lorong gelap, mencari bala bantuan. Apa pun. Apa saja. Sebuah jalan untuk kabur dari sini.
Di tengah pencarian yang suram, mataku menangkap secarik cahaya dari salah satu sudut. Aku tercengang begitu mendekat.
Sebuah pintu.
Namun, kakiku berhenti di ujungnya.
Di luar sana, yang ada adalah ketiadaan. Jika aku keluar lewat pintu itu, maka aku jatuh, kalah, dan entah.
Sementara dari balik punggungku, Ayah nekat melepaskan tembakan. Bola api melayang, nyaris mengenai kepalaku. Untung saja aku refleks berkelit dengan tenaga yang tersisa.
Konsekuensinya, api membakar seisi rumah. Dari balik kobarannya, Ibu menyusul datang. Ular di kepalanya berubah menjadi naga. Mata-mata dan mulut lain dari sekitar kian berisik, berbisik, mengusik, menggempurku dari seluruh sisi.
Aku menyerah. Tiada jalan lain. Kubuka pintu di hadapanku.
Lalu aku pun jatuh. Dan kalah. Kemudian, entah.
#gerimis30hari #gerimis_des21_07
Diikutsertakan dalam misi menulis 30 hari: Gerimis30Hari, Ellunar Publishing
