Day 8 – Angkara

TANGAN-TANGAN BESAR akhirnya bergerak. Usai bersikap tabah selama bertahun-tahun, hari ini mereka lakukan eksekusi. Sudah tiba saatnya menyapu pergi dari almari, rak-rak buku berlaci, juga kulkas yang biasanya padat isi, sewujud nama tua penjaga kejujuran.

Di tengah kegelapan yang sarat, pecahlah gelegar tawa kemenangan. Juga suara siulan kesenangan. Tak lupa pula kepulan asap tembakau dan tembakan yang menari-nari gamblang di udara. Sebab kini, nama tua sudah tidak bisa lagi bangkit; tak mampu lagi menggigiti para pencuri kejujuran.

Serampung urusan mereka yang rumpang itu, siluet-siluet di tengah malam beranjak pergi bersama rembulan dan tangan waktu. Membawa serta langkah kaki, deru mesin mobil, dan gelak lahak dalam pelarian yang perlahan dilahap jarak.

Kepergian mereka hanya meninggalkan sunyi. Sunyi yang ganjil. Sunyi yang mengganjal. Tiada suara-suara tersisa dari kediaman nama tua. Ke mana para jangkrik yang biasanya mencipta hiruk-pikuk dalam gulita? Seolah mereka pun turut tertimbun dalam ketiadaan.

Hingga: suara yang pertama kali dilahirkan fajar adalah jeritan.

Jeritan ambulans. Jeritan manusia. Jeritan surat kabar. Jeritan berita-berita. Segala rupa jeritan menjerat headline yang sama: hilangnya denyut nadi nama tua yang biasanya menggigiti pencuri kejujuran. Sosok itu terguling dari singgasana kemudian terkubur dalam satu baris isi buku sejarah.

Anehnya, meski setetes air duka jatuh dari tiap mata yang menyala, dalam hati mereka sama-sama serempak menabuh genderang pesta. Merayakan hengkangnya kekang, juga datangnya kebebasan untuk mendendangkan dusta dan nista.


Diikutsertakan dalam gerakan menulis 30 hari Gerimis30 Hari Ellunar Publishing

Tinggalkan komentar