TERNGIANG KEMBALI PERTANYAANMU tahunan lalu, pada malam di mana ibuku pecah menjadi angin:
“Kenapa bulan?”
Obrolan kita berawal dua puluh menit sebelumnya. Saat kau mendatangiku dengan kerutan di dahi, menyuarakan tanya mengapa aku tak menangis seperti orang lain dan malah tersenyum ke mana-mana.
Hingga kuceritakan padamu, aku tak menangis biar mataku kering dan bisa menangkap kehadiran ibuku. Dan, benar. Ibu ada di mana-mana. Sosok yang melahirkanku telah pecah menjadi angin, tersenyum padaku dan melambaikan tangan, seperti janjinya dahulu.
Kau ikut mengusap mata yang basah. Menoleh kanan-kiri, dan mengembangkan senyum yang sama. Jadilah kita sepasang bocah yang bersuka cita di antara lautan orang dewasa yang berkalang duka.
Lalu kita pindahkan fokus pada kau dan aku. Kutanya padamu, akan jadi apa kau setelah mati. Kernyitan pada jembatan antara kedua matamu tercetak dalam. Sedalam tatapanmu sendiri padaku. Namun, bibirmu tetap membuka dan menjawab, kau ingin jadi tanah. Katamu, biar kau bisa memeluk tubuh-tubuh yang lelah juga lelap, dan jadi tempat tumbuhnya sosok-sosok baru.
“Karena …”
Aku terbiasa menjadi bayang-bayang dan pantulan. Seseorang di belakang yang kebagian sorotan sisa. Bukan si nomor satu yang terang dan teriknya merajai siang dan takut disentuh orang-orang. Hanya sesosok sinar redup yang menghantui malammu di masa kecil, hingga kau berani bermimpi memanjati tangga untuk mencapaiku. Atau meminta ibumu memetikiku untuk kaudekap demi menerangi tidurmu yang lelap.
Pertanyaanmu terlempar lagi, “Lalu kenapa Sabit?”
“Itu …”
Jika kau ingin menjadi tempat tumbuh sesuatu yang baru, maka akulah kelahiran baru itu.
Waktu itu, kukira kau tak mengerti. Namun, malam ini, saat aku melebur menjadi keping sabit yang merangkaki langit dan menemukan senyummu terkembang saat menatapku, aku tahu, kau memahaminya. Matamulah satu-satunya yang kering dan bersih dari mendung pun tetesan kesedihan. Maka, kutahu, kau menyaksikan kelahiran baruku, di saat orang lain tidak. Kutahu, engkau tahu, aku ada.
Diikutsertakan dalam Gerakan Rutin Menulis Gerimis Desember 2021 Ellunar Publishing
