Day 10 – Jemari

TAK TIK TUK bukan bunyi sepatu kuda. Melainkan suara pertempuran. Sudah bukan lagi masanya adu jotos langsung jika apa pun bisa diselesaikan serba virtual. Bahkan ada yang meramalkan, perang dunia kedelapan akan dilaksanakan para jari.

Lo, seorang prajurit negeri Wakudang baru saja diangkat jadi ajudan Raja Baru. Kelihaiannya bertempur amat diperlukan sekarang, sebab negeri Wakudang ada di ambang asa. Setelah mangkatnya Raja Lama, pemberontakan berlangsung di mana-mana. Tak ketinggalan, negeri tetangga pun adidaya gencar melakukan agresi. Padahal sumpah Raja Lama, sang penguasa rasis, masih terukir jelas di tugu situs negeri:

“Wakudang takkan pernah terima uluran tangan negara najis!”

Maka jadilah: Lo harus berusaha membelah diri. Perdana menteri mengutus Lo ke mana-mana, sebab katanya hanya Lo yang bisa dipercaya menanggulangi semua. Di dunia nyata, Lo kelabakan menanggapi pemberontakan. Dia sampai tidak makan dan tidak tidur demi mencapai kemenangan dan kesenangan.

Namun, bukan Lo jika tidak berusaha tabah. Yang disematkan label Prajurit Paling Maso oleh tangan Raja Baru sendiri jelas bukan orang sembarangan. Dia ikuti jejak Raja Lama untuk membangun tugu situsnya sendiri demi menulis sumpah:

“Ingat ini! Prajurit Lo Yang Paling Maso tidak akan pernah mati sebelum Wakudang merdeka dari peperangan!”

Hingga suatu hari, jantung Lo yang nyata mencapai limit pengurasan. Tak sanggup menahan beban begadang selama lima bulan masa perang, jantungnya meleduk dan memuncratkan kehidupan. Meski menjadi seorang prajurit kebanggaan negara, di dunia nyata, Lo jelas bukan siapa-siapa. Dia dimakamkan secara sederhana di pekarangan rumah oleh para tetangga.

Malam itu, seseorang yang kebetulan sedang ronda lari terkencing-kencing menghampiri pos jaga. Setelah mengguyur kerongkongan dan kesadaran dengan segelas air mineral, baru dia bisa berikan kesaksian:

“Sumpah demi kepala banteng! Gua ngelihat ada tangan merayap keluar dari tanah pekuburannya! Terus, tangan itu buka pintu, masuk rumah. Pas gue ngintip, itu tangan nyalain komputer, buanyak banget komputer, terus ketak-ketik di sana!”


Diikutsertakan dalam Gerimis30Hari Ellunar Publishing

Tinggalkan komentar