DIHADAPKAN DENGAN TIGA pilihan rumit yang tayang dari layar plasma, yang kulakukan adalah bengong. Hari pertamaku keluar mencari penghidupan diisi dengan kebingungan.
Dari layar plasma pertama, mulut-mulut mencuat dan memuntahkan gula. Tepat di bawahnya, lautan manusia riuh mengantri bagai kawanan semut, menadah bongkah manis itu, sambil tertawa girang.
Mataku berpindah pada yang kedua, tempat munculnya mulut-mulut yang mencelatkan bunga. Sebagian harumnya menyeruak tajam sampai tempatku berdiri, menusuk indera penciuman. Tak doyan wanginya, aku menjauh sedikit.
Hal itu malah mendekatkanku pada layar plasma terakhir, tempat yang paling sepi pendatang. Kututup hidung. Tak kuasa menahan aroma busuk dari tahi yang dimuntahkan para mulut di sana. Heran saja, kok masih ada orang menadah kebusukan itu, walau hanya satu-dua jiwa.
Sejenak, memoriku memutar pesan dari masa lalu: “Pilihlah satu yang paling berisi.” Sayang, di sinilah letak ambiguitasnya. Mulut yang memuntahkan gula punya banyak yang mereka curah. Mulut yang memuntahkan bunga ada beraneka ragam dan warna. Mulut yang memuntahkan tahi memiliki tangki penampung yang lebih gendut, lantaran minim peminat. Lantas, manakah yang masuk kategori berisi?
Plihanku jelas hanya terpusing pada bunga dan gula. Jangan harap aku sudi jadi pemuntah tahi.
Mentari yang kian naik terasa semakin terik. Sudah tak ada lagi banyak waktu. Lekas, kubuat keputusan.
“Selamat siang, silakan isi formulirnya untuk masa depan gadis cantik. Adalah pilihan tepat bergabung bersama kami.”
Sambutan yang manis, semanis produk yang mereka tawarkan. Usai membubuhkan nama dan tanda tangan, aku digiring masuk ke sebuah tempat gulita. Juga sunyi. Tiada siapa-siapa, kecuali aku dan seseorang.
Orang itu menyeringai, memangkas jarak, dan menguras habis sariku. Aku terpasung tanpa kutahu. Begitu tersadar, mulutku telah ada dalam genggamannya dan dibawanya pergi untuk dihias di sana-sini.
Keesokan harinya, kutemukan mulutku ada di antara ribuan mulut pemuntah gula. Sedang aku yang asli terseok di keramaian, ingin berteriak pada siapa pun untuk tidak turut tergoda, tapi sudah tak lagi punya suara.
Diikutsertakan dalam Gerimis30Hari Ellunar Publishing
