INI KALI KESEKIAN aku melihatnya di tengah ingar-bingar. Kami tak saling kenal. Hanya sekian perjumpaan itu mendorongku menyunggingkan senyum dari jauh. Ia membalas.
Lantai dansa, hentak musik, dan tubuh panas dari sesesap martini membuatku oleng. Sesuatu menahan lengan hingga aku tak menubruk orang di samping.
Ketika mengangkat muka, ia ada di hadapanku, tersenyum lagi. Kali ini, aku yang membalas. Berhadapan, bersama lautan manusia lain di sana, kami bakar kalori dalam kebisuan.
Ketika aku menyingkir ke bangku demi segelas martini ekstra, ia mengekori di sampingku.
“Aku sering lihat kamu di mana-mana.” Suaraku berkompetisi dengan dentum musik yang masih membahana.
Ia jawab, “Ya.”
Tiada basa-basi perkenalan. Tiada pertanyaan nama, alamat dan tempat kerja. Kurasa itu tak perlu. Aku justru tertarik menanyakan ini, “Suka clubbing sejak kapan?”
Ia tersenyum. “Sejak pertama kali tahu clubbing itu apa. Kamu?”
Manusia ini pasti tajir, sangkaku. Bukan cuma karena arloji bermerk yang melingkari lengan dan bau parfum seharga gajiku sebulan. Tapi juga karena saat pertama kali tahu clubbing, aku hanya bocah SMA kere yang melihat tempat ini sebagai neraka rasa surga yang jauh.
“Baru-baru ini. Pelarian menyenangkan. Aku benci sepi. Kamu?”
“Terbalik. Saya ke sini justru karena benci ramai.”
Aku keheranan. Barangkali beberapa sesap martini tambahan mulai mengacaukan akal, hingga aku salah dengar pengakuan barusan.
“Di sini,” ia ketuk pelipisnya, “ada keramaian setiap saya sendiri. Sebagian mengirim undangan bertengkar. Sisanya minta ditenangkan dengan cara ekstrim. Jadi, saya bawa ke sini biar mereka takut muncul.”
Sepertinya bukan karena martini, tapi memang aku yang tolol. Sebab, meski ia tertawa usai menyampaikan penjelasan itu, aku tidak. Tak kutangkap apa yang lucu. Aku malah … iba?
Gelas vodkanya tersodor ke hadapanku. “Ketawa, dong. Kamu suka ramai. Saya tidak. Tapi kita sering ketemu di tengah keramaian.”
Denting kaca beradu terdengar kemudian. Disusul tawaku yang menggelegar bersama tawanya, berbaur bersama hentak musik dan sorak-sorai. Air mataku sampai berderai. Rupanya ia hanya tak ingin sendirian. Sepertiku.
Diikutsertakan dalam Gerimis30Hari Ellunar Publishing
