prompt: lost in translation
jumlah kata: 494
FOKUS Martha pindah dari kanvas ke jam bersemburat pelangi di atas meja. Pukul setengah dua malam. Pantas matanya sudah berkunang-kunang. Pengerjaan lukisan merak menari atas pesanan salah satu senior sewaktu kuliah akhirnya tuntas setelah berjam-jam ditekurinya.
Dia rapikan kembali perkakas-perkakas kehidupan itu. Tak seberapa rapi, karena ruang kerja yang berantakan justru pertanda vitalitasnya. Seusai mencuci tangan, ia rebahkan diri ke atas kasur, meraih ponselnya yang sedari tadi terabaikan.
‘Saka meninggalkan obrolan’
Itu pop out pesan yang pertama tertangkap matanya, sebelum disusul ratusan pesan heboh di bawahnya.
Martha tercengang.
Terwujudlah apa yang dikhawatirkannya. Dirinya beserta kelakuan-kelakuannya terbukti mendatangkan sisi gelap rembulan yang selama ini tersembunyi dari bumi. Mengubah seorang Saka yang tenang, menjadi sosok yang berbeda.
Martha mengembuskan napasnya, dengan harapan kekalutannya pun turut keluar dari tubuh menyertai karbon dioksida dan uap air.
Dari lubuk hatinya, ada dorongan bagi Martha untuk menerima Saka. Separuh karena iba, sisanya ingin mencoba. Ia sempat termakan racauan lelaki itu, bahwa tak akan ada yang berbeda jika itu Saka atau Zack. Dengan menerima Saka, Martha masih bisa berada di antara keduanya, tertawa-tawa, meski separuh hati barangkali akan kecewa setiap menyaksikan Zack bersama Bella.
Akan tetapi, ketika malam itu, bibirnya menyentuh bibir Saka, Martha merasa sangat salah. Bukankah ia justru lebih kejam jika mengubah seseorang menjadi orang lain hanya karena perasaannya?
Ia tahu, kesalahannya adalah memberi Saka harapan sejak awal. Ia tahu, dirinya sudah salah dan jahat sejak awal. Namun, malam itu, Martha rasa sudah saatnya ia berhenti bertindak jahat.
Maka Martha abaikan dorongan itu. Lebih baik memfinalkan kejahatannya dengan kata maaf, ketimbang terus berputar-putar dalam kejahatan yang lebih parah lagi dengan membohongi Saka, juga perasaannya sendiri.
Tak ia sangka, keputusannya bakal menuai rentetan prahara seperti ini. Sebagian isi kepalanya mengutuki Saka dengan segumpal penghakiman seperti ‘tukang drama’, tetapi sebagian lainnya mengakui bahwa itu wajar. Berada dalam satu ruang bersamanya mungkin terasa berat bagi Saka.
Lahirlah pertanyaan dari rahim rasa bersalah: apakah keputusannya menolak Saka itu langkah yang tidak tepat? Padahal, ia sudah mempertimbangkan baik-buruknya, meski secara instan. Atau, ini memang konsekuensi yang harus mereka terima dari rasa-rasa yang menepuk angin?
‘Loh … Mas Saka kok keluar? Kenawhy?’ Kepanikan pertama dari Sunny.
‘Ow-ow. Gue mencium aroma-aroma kabar buruk.’ Disusul spekulasi Tiff.
‘Wait, gue tanyain …’ Damar seperti biasa, mencoba untuk tetap berkepala dingin.
‘@Zacky bro, Saka kenapa sih? @Martha hoy, lo apain Mas Saka kyta? Lo yang terakhir ngomong sama dia, ‘kan?’
Martha menghentikan gulirannya sampai sana. Namanya yang tercantum dalam pesan Putri adalah pertanda tak langsung, bahwa ia dimintai pertanggungjawaban. Jempolnya bergerak, hendak membalas. Akan tetapi, sebelum kulit ujung jarinya menyentuh tombol pada layar ponsel, pesan Zack menyurutkan niatnya.
‘Jangan tanya apa pun tentang manusia satu itu ke gue lagi. Nggak ada urusannya sama gue, dan gue juga nggak ngerti isi otaknya yang kelewat pinter itu.’
Sesuatu menikam dada Martha. Entah namanya penyesalan, atau kehilangan. Yang jelas, Martha merasa semua ini tidak benar. Langkah yang ia ambil, rupanya juga memisahkan angkasa dari malam—melerai sesuatu yang keterpaduannya justru membuatnya jatuh suka.
