#17 Interval Antaraksi

prompt: interval
jumlah kata: 494

“SAKA nggak ada kabar, Mar?”

Perayaan ulang tahun Tiffany hampir selesai, tapi tiada pertanda kehadiran Saka. Zack yang datang paling akhir hanya membawa Bella, beserta dua kotak kue ‘buatan Bella’, yang diletakkan bersisian dengan tart ungu Martha di atas meja.

Yang mengelilingi meja itu cuma empat. Damar, Tiff, Medina, dan Martha. Sisanya sedang menghampiri meja prasmanan.

Merasa bahwa yang barusan adalah pertanyaan yang diajukan kepadanya, Martha membuka mulut, meski bingung mau bilang apa. Untung belum sempat suaranya keluar. Sebab,  ‘Mar’ yang dimaksud Tiff rupanya bukan dirinya.

“Sebenernya…,” kata Damar perlahan, “dia sempat bilang sesuatu soal keanggotaannya. Cuma gue belum bisa bahas itu.”

Mulut Martha kembali mengatup. Merasa konyol pada refleks telinga seolah apa-apa tentang Saka otomatis melibatkan dirinya. Barangkali karena rasa bersalah itu masih mengendap.

“Dia keluar?” Tiff memastikan. Sekilas pandangan gadis bersurai separuh ungu itu menyapu Martha agak sinis. “Pasti patah hati.”

Damar tersenyum, mengangkat bahu. “Mungkin gue harus bicara langsung sama Saka. Belum ada waktu belakangan ini.”

“Eh? Mas Saka mau keluar?” Sunny datang membawa piring berisi makanannya. “Serius, Mas? Kok? Jangan, dong ….”

Di belakang Sunny, Putri memandang Martha. “Lo nolaknya kasar ya, Mar?”

Martha terenyak. Tak menyangka bakal diserang langsung. Ekor matanya menangkap Zack dan Bella yang menghampiri mereka. Lelaki itu tak meliriknya sekali pun sejak ia tiba. Bersama pacarnya, Zack ambil tempat paling jauh dari Martha.

Medina menggenggam tangannya di bawah meja. Mengambil alih atensi dengan bersuara, “Soal Martha nolak dia gimana, itu urusan pribadi mereka. Nggak sebaiknya kita ikut campur.”

Putri menghentikan kunyahannya dan membantah, “Lah, kalau Saka sampai udah keluar dari group chat dan ngambil ancang-ancang buat keluar dari sini, gimana kita nggak ikut campur? Ini udah jadi masalah—”

“Put, nggak pake ribut. Bisa?” Suara Tiff memotong. Ia hijrahkan atensi pada Zack yang alih-alih terpengaruh akan perdebatan barusan, malah terlihat begitu fokus menyantap makanannya. Terlalu fokus. “Lo nggak bisa ngajakin dia kek, apa gitu, Zack?”

Zack mengangkat muka dengan ekspresi keras. “Udah gue bilang. Jangan tanya-tanya gue soal dia. Pada paham nggak sih, hah? Nggak ada lagi dalam kamus gue buat harus babysitting cowok labil yang patah hati. Sana, tanya ke dia! Gue bukan jubirnya.”

Sebagai sosok yang paling dekat, Bella menepuk-nepuk punggung Zack, menyurutkan emosinya yang tersulut, sambil minta maaf pada sekeliling dengan lirih.

“Ck. Santai. Nggak usah nyolot bikin heboh acara gue. Nggak lo, nggak Putri, kalo ngomong harus ngegas dulu?”

“Udah, udah.” Damar menghela napasnya lelah. “Maafin Zack, Tiff. Zack juga, maafin Tiff. Kalian cuma lagi bingung. Nanti gue coba ngomong lagi sama Saka.”

Dari jarak sejauh itu, Martha masih bisa mendengar Zack mendesis, “Kalau dia nggak mau ikut kumpul lagi, kenapa mesti dibujuk? Emang dia siapa? Tuan Raja? Formasi awal kita emang kayak gini, ‘kan?”

Di antara keributan itu, Martha cuma bisa bungkam. Ada yang retak, yang berjarak, tapi bikin sesak. Setelah perasaan Saka yang kemudian harus ia hadapi dengan pura-pura bersikap biasa, ini kedua kalinya Martha mengutuk kadar kepekaannya. Sebab, ia bisa lihat beberapa pasang mata yang memandangnya penuh penghakiman dalam lingkaran ini.

Tinggalkan komentar