prompt: save it, get gone, shut up!
jumlah kata: 494
BADAI—ketika Lautan mengamuk, angkasa yang semula biru pun berubah kelabu.
Ketukan pada pintu kamar, juga suara Medina dari luar, membuat Martha refleks meminimize-kan laman blog-nya.
Dalam kondisi begini, Martha tak mau kegalauannya ditangkap terlalu awal. Ia mengusap pipi, memastikan tiada setetes pun basah tersisa.
“Aku nginap, ya?”
Masih dibalut seragam kerja serba putih, gadis berkacamata merebahkan diri di atas ranjang Martha. Tuan rumah menawarkan secangkir teh hangat, bermaksud menghalau lelah yang menggelayut di wajah sohibnya.
“Mar, soal yang lain, nggak usah dipikirin, ya.”
Gerak tangan Martha yang telah kembali bersama laptop di pangkuan terhenti. Tanpa bertanya, dia tahu apa yang Medina maksudkan.
Gadis itu mendesah. “Maunya juga gitu …”
“Gue serius,” Medina berucap, sungguh-sungguh. Tiada kerelaan darinya kalau Martha harus menanggung penghakiman dari teman-teman lain, seorang diri. Apalagi, setelah mendengar cerita tentang pertemuan Damar dan Saka petang tadi.
Sebagai seseorang yang dianggap pemimpin, kekasihnya itu selalu merasa punya tanggung jawab memastikan hubungan semua orang baik-baik saja. Tidak terkecuali dalam kasus ini. Namun, usai Damar ceritakan peristiwa kemarin kepada Saka, sambutan Saka tak begitu menyenangkan hati.
“Sekali gue bilang gue keluar, maka gue keluar,” tegasnya.
“Jujur, gue kecewa. Itu bukan sesuatu yang gue harapkan bisa diucapkan sama seorang Saka,” Damar berkomentar.
“Terus, kenapa? Lo sendiri yang berekspektasi, lo sendiri yang kecewa, kenapa gue yang harus bertanggung jawab untuk itu?”
“Nah. Berlaku juga sama Martha. Dia nggak sepantasnya menghadapi sindiran teman-teman atas kekecewaan lo karena ditolak dia, ‘kan? Lo yang berharap untuk diterima, lo sendiri yang kecewa. Apa Martha wajib bertanggung jawab?”
Damar juga sempat berkata, “Setidaknya, kalau memang lo mau keluar, datang dan ngobrolin baik-baik. Pamit baik-baik. Karena lo masuk dalam kelompok kami pun dengan baik-baik.”
Kembali ke ruang mungil tempat kedua gadis itu tercenung dalam isi benak masing-masing, Medina mengulurkan tangan. Mengusap lengan Martha ketika menangkap mendung di wajah gadis itu. Meski akrab pada siapa pun, hanya kepada Medina-lah Martha bisa menanggalkan semua topeng yang selalu ia gunakan di hadapan banyak orang. Di balik ribuan kepribadian Martha, ada seorang gadis yang amat sensitif dan memiliki pertimbangan dari berbagai sudut pandang. Itu yang membuatnya terkesan tidak berpendirian. Namun, Medina tahu Martha tidak pernah meniatkan untuk menyakiti siapa pun.
“Medi, lo manusia paling netral yang pernah gue kenal. Untuk masalah ini, gue pengin tanya pendapat lo, sejujur-jujurnya. Apa gue salah?”
Kasur berderit ketika Medina merapatkan tubuhnya. “Lo nggak salah hanya karena nolak Saka. Lo salah karena sejak awal kelihatan kayak ngasih harapan ke Saka ketika lo tahu dia naksir lo. Lo salah karena lo nggak tegas sama perasaan lo sendiri. Saka berhak marah, tapi dia nggak sepantasnya kabur kayak gini. Kalian berdua butuh bicara. Baik-baik. Tuntasin semua ini dengan cara yang benar.”
Martha mengeratkan genggaman tangannya pada tangan Medina di atas pangkuannya. “Pesan-pesan gue nggak dibalas.”
“Ini masih kabar baik. Setidaknya, dia nggak ngeblokir.” Secercah gagasan tiba-tiba terlahir di benak Medina. “Tapi, lo mau bicara sama dia, ‘kan?”
Martha terdiam sejenak. Kecanggungan sudah tentu bakal ada. Namun, ia ingin lekas membenahi kekusutan ini. Perlahan, kepalanya mengangguk.
