prompt: lakon
jumlah kata: 494
SEWAKTU Martha mengungkapkan keinginannya untuk bicara pada Saka, yang ia maksud jelas berbicara berdua. Empat mata.
Maka ketika Martha melenggang masuk bilik langganan mereka dan menemukan sosok itu duduk menyertai Damar, Tiffany, Sunny, dan Putri, dingin yang tak bisa dia tafsirkan langsung merayapi tengkuk, lalu merambat ke sekujur tubuhnya.
Sejenak Martha berhenti di ambang pintu, mengumpulkan kesiapan demi menghadapi penghakiman lain. Dia belum siap tanpa Medina menyertainya. Hanya Medina yang bisa memahami alasan dari kebanyakan tindakannya yang kerap menyimpang dari standar manusia lain.
Terbitlah rasa sesal karena masih lancang datang. Seharusnya tadi Martha absen dan mengarang alasan untuk itu. Seperti: dia punya segudang pesanan lukisan. Atau: dia harus menjalani pemotretan. Toh, dia bukan tipe manusia yang jarang berdusta.
Namun, apalah gunanya sesal itu? Dia sudah berdiri di sini. Sudah tiada jalan untuk kabur.
Putri yang melihat kehadirannya mengangkat tangan. “Mar!”
Ketika Saka mengangkat muka, dan atensi dalam bingkai kacamata berlensa tipis terhunus pada Martha, gadis itu merasa kakinya selemas agar-agar.
Secepat kilat, Martha ringkus kegugupan itu dengan ketenangan dan senyum yang dilatihnya bertahun-tahun.
Martha memilih tempat terujung. Sudut yang mungkin kesulitan dilirik dari sisi Saka. Pilihan itu membawakannya seberkas kesadaran. Mengingatkannya pada sikap Zack saat acara ulang tahun Tiffany tempo hari.
Tawa sinis bergema dalam kepalanya.
Barangkali, Zack pun menolak menjadi bahan perhatian seseorang secara khusus karena satu hal. Entah Zack turut mendendam padanya karena menolak Saka, atau Zack sudah tahu soal perasaannya. Namun, mengingat Zack bukan tipe pendendam selagi tak melibatkan dirinya, lebih mungkin alasannya adalah opsi kedua.
“Jadi, gimana, Ka?” Damar berceletuk.
Martha tertegun. Apa mereka mau membahas masalah ini di hadapan semua orang?
Mendadak, ia meragukan kewarasan Damar. Juga meragukan kepedulian lelaki itu.
“Gue pikir lo yang mau bicara. Bukannya lo yang ngundang gue datang?” Saka balik bertanya.
Damar menghela napas panjang. “Yang gue bilang kemarin. Mau pamit baik-baik, atau nggak?”
Sunny menyambar, “Hah? Pamit? Seriusan Mas Saka mau hmppfffh—” Mulutnya segera dibungkam Putri yang duduk di sebelahnya.
“Sebelum itu, nggak ada yang mau kalian berdua obrolin?” tanya Putri. Diliriknya Saka dan Martha yang duduk berjauh-jauhan.
Mungkin ini saatnya bagi Martha. Dia membuka mulut. “A—”
“Nggak ada,” sambar Saka. Dingin.
Tiff bangkit, berlagak mencari-cari. “Perasaan gue doang, apa suasananya jadi dingin? Remote AC-nya mana, sih?”
Putri menaikkan alis. “Yakin? Kalau emang ada, kita kasih kesempatan kalian ngobrol berdua, nih.”
“Emang lo pikir apa yang mau gue omongin? Gue datang ke sini cuma mau pamitan. Sama kalian semua.”
Sunny yang mulutnya sudah dilepaskan dari bekapan Putri bersuara, “Jadi beneran Mas Saka mau keluar?”
Martha membuang napasnya, berharap kegusaran di dalam dadanya juga ikut terbuang.
Kalau bukan sekarang, akan sulit baginya mencari kesempatan bertemu Saka, dengan kondisi perang dingin di antara mereka bertiga, juga situasi di mana Saka pantang menengok pesan-pesannya.
Terburu, ia bicara, “Mungkin nggak ada yang mau kamu omongin. Tapi, aku ada.”
Hening yang mengudara di sana agak lama. Hanya mata-mata yang saling lirik penuh konspirasi, ketika akhirnya untuk pertama kali sejak sekian menit berada di sana, Martha mengajak Saka bicara.
