#20 Dramatisasi Telak

prompt: kamu emang j*nc*ki
jumlah kata: 494

“BICARA saja kalau begitu. Sama yang lain. Biar aku pulang.”

Martha mengangakan mulutnya. Tak menyangka Saka bakal sekeras kepala ini. Lebih tak menyangka lagi pada jawaban yang ia rasa kekanak-kanakan. “Ka—”

BRAK!

Ransel yang sarat akan peralatan tinju terbanting kasar ke atas meja yang masih cukup lengang. Beberapa kaleng soda terpelanting, menumpahkan isinya.

Pelakunya Putri yang memandang Saka nyalang. “Cuk, lo nyebelin banget sumpah! Dramanya kapan selesai, sih? Masih ada lanjutannya? Mau berapa season, hah? Ini nih, yang bikin gue gedek kalo kalian naksir-naksiran, pacar-pacaran. Sekalinya ada masalah, semua yang kena nggak enaknya ya, Bangsat!”

Damar gesit bangkit, berniat mengerem ocehan cewek tomboi yang sedang dilindas murka. “Hei, Put—”

Putri balas melotot, garang. “Apa, hah? Mau nyuruh gue jaga mulut? Dari zaman purba juga mulut gue kayak begini. Yang mesti lo jaga tuh kelakuan member lain yang gegara cinta jadi cacat logika!”

Pening menusuk kepala Martha. Dengung menusuk telinganya.

Tangannya terangkat, memijat pelipis. Yang seperti ini bukan sesuatu yang ia harap terjadi.

Alih-alih surut, Saka justru terlihat ikut emosi. Wajahnya memerah, merambat hingga kuping. Gemeletuk giginya bisa Martha dengar ketika lelaki itu mendesis, “Lo ngerti apa, emang? Siapa yang main drama?”

“Siapa? Yang pasti bukan gue, Tiff, Sunny, atau Damar. Ngeribetin hal yang seharusnya bisa diselesaikan dengan sekali duduk, apa lagi namanya kalo bukan ngedrama?”

Terdengar isakan yang pecah dari suara Sunny. “Please, kalian jangan kayak begini …”

Mata Martha ikut memanas.  Ia mengerjap-ngerjap cepat, berusaha menghalau air terkumpul di pelupuk matanya. Dalam kepalanya terdengar bisikan yang menuntutnya minta maaf. Namun, kerongkongan yang tercekat tak membantunya melahirkan suara jernihnya dengan normal. Jatuhnya hanya berupa suara tikus terjepit ketika memanggil, “Put—”

Putri enggan peduli. “Hoy, Damar. Kalau dramanya belum kelar-kelar juga, ini lo jadiin pertemuan terakhir ajalah. Malas, tahu, udah dibelain dateng, malah suasananya kayak lagi nobar sinetron.” Ia panggul tasnya kembali, lalu berjalan keluar. Meninggalkan gedebuk pintu yang terbanting kasar di balik punggungnya.

Sunny masih terisak. “Kok, jadi gini, sih …?”

Tak disangka, Tiff yang dikenal paling rajin menyertai setiap pertemuan hingga akhir, kini ikut memanggul tas tangannya.

“Mar, tolong kabarin kalau dramanya sudah kelar. Baru, gue ikut gabung kembali,” ujarnya pada Damar sebelum menyusul Putri. Tak sedikit pun ia lirik lagi entitas lain yang menghuni bilik itu.

Martha kembali duduk. Meremas surai-surainya yang jatuh hingga pundak.

“Ini salah gue, ya. Maaf,” lirihnya.

Damar menggeleng. “Nggak. Kita tahu emang kayak gitu perangai Putri.” Sekepul napas berat dia buang ke udara ketika melemparkan atensi pada Saka yang masih berdiam diri. “Udah kayak gini, tolong kalian selesaikan dulu masalah kalian. Biar gue dan Sunny keluar. Plis, Saka, Martha, gue tahu ini masalah pribadi lo berdua. Tapi, lo lihat sendiri, ‘kan? Sikap kalian bikin kasus ini menjalar ke mana-mana.”

Ia bimbing Sunny yang masih menangis untuk keluar.

Ketika pintu itu menutup, Martha merasa atmosfer dalam ruangan bertambah berat sekian ratus atm. Syoknya masih belum surut, dan kini, ia dibiarkan untuk menyelesaikan semua.

Ia tarik sebanyak mungkin napas demi secuil kekuatan.

Sebelum suaranya sempat keluar, langkah lebar Saka mendekat.

Tinggalkan komentar