#21 Overdosis Luka

prompt: antidote
jumlah kata: 494

LANGKAH itu berhenti di ujung meja yang membatasi mereka. Mendadak. Seolah Saka mengerem langkahnya di tengah jalan karena perubahan keputusan yang tiba-tiba.

Terdengar desahan panjang. Saka membuang muka ke dinding, lalu duduk di hadapan Martha. Namun, kepalanya menunduk. Seperti masih enggan bertatapan langsung dengan gadis itu.

Meski demikian, dada Martha melapang. Hal sekecil dan sesederhana ini saja sudah membantunya. Selagi Saka tidak beranjak keluar dan meninggalkannya sendirian, tanpa kata-kata yang terlontar dari lisan lelaki itu pun, Martha bersyukur. Setidaknya, ini satu pertanda, bahwa Saka mau mendengarnya bicara.

Usai mengumpulkan udara dan tenaga selama sekian detik, Martha buka suara. “Maafin aku. Aku nggak bisa minta maaf untuk penolakanku, Ka,” katanya perlahan. “Tapi, aku minta maaf untuk harapan kosong yang mungkin tanpa sadar aku kasih ke kamu.”

Martha menunggu. Sepuluh detik. Dua puluh detik. Belum ada jawaban. Saka bungkam dan bergeming, hingga Martha berpikir dia sedang mengajak bicara sesosok patung batu.

Martha lemparkan sekepul napas demi menyurutkan kegamangan yang kembali menguap.

“Mungkin—”

“Itu saja?” patung batu akhirnya mengangkat muka dan menyela. Iris jelaga di balik kacamata kini terhunus pada Martha. Masih sama. Masih dingin. “Kulihat kamu nggak tahu kesalahanmu ada di mana.”

Martha mengerjap linglung. Otaknya tangkas memutar rekam adegan pada malam pengakuan Saka.

Ketika kesadaran menamparnya, mulut Martha membuka.

Malam itu, Martha sempat menolak memberi kesempatan Saka untuk menyatakan perasaannya secara gamblang. Bahkan Saka ditolaknya sebelum maju berperang. Padahal, Martha tahu, mengumpulkan nyali untuk mengakui sesuatu bukan hal yang mudah. Sebab, kini, ia merasakannya sendiri.

Malam itu, Martha tidak mau repot-repot menyembunyikan keengganannya untuk berbicara dengan Saka, sebab energinya sudah terkuras hanya karena pengumuman hubungan Zack dan Bella. Malam ini, ia merasakan betapa tidak enaknya balas diperlakukan demikian oleh Saka.

Malam itu … ciuman itu …

Rupanya Martha tidak hanya menawarkan harapan kosong. Melainkan juga harapan palsu.

Terkutuklah dirinya. Terkutuklah kehendak hatinya yang kerap berubah-ubah. Terkutuklah kebebasan yang dia terapkan pada dirinya sendiri, yang justru menjadi senjata untuk melukai orang lain, sekalipun itu terjadi tanpa dia sadari.

Gantian Martha yang menunduk sekarang. Rasa bersalahnya memberat, duduk di belakang kepalanya, membuat lehernya terkulai karena kehilangan daya untuk terangkat tegak.

“Sekarang aku tahu.” Segumpal saliva di mulut Martha terasa memadat hingga sulit melalui kerongkongan. “Kesalahanku ternyata bukan cuma satu.”

“Aku jatuh buat kamu, Martha. Aku tahu, kamu tahu itu.” Suara Saka terdengar serak. “Ditolak itu menyakitkan, tapi kuyakin nggak akan semenyakitkan itu kalau kamu nggak menolakku karena Zack. Itu pun mungkin masih bisa kuatasi. Karena aku sadar, perasaan bukan sesuatu yang bisa dinegosiasikan. Tapi … kamu … ciuman itu …” Saka mendengkus kasar. Menggeleng sama kasarnya. “Aku suka kamu, pribadi yang penuh rahasia. Tapi, nggak kusangka mendekatimu berarti membuka kotak Pandora.”

Martha menggigit bibirnya. Sampai beberapa menit lalu, ia berharap Saka mau bercerita. Namun, sekarang, rasanya ia yang tak ingin mendengarkan. Dari kalimat Saka, mencuat tangan-tangan tak tampak yang menamparnya telak.

“Maafin aku …” lirihnya berulang kali, kendati ia tahu, kalimat klise ini tidak cukup kuat untuk menawarkan racun yang telah telanjur ia tumpahkan ke lambung Saka.

Tinggalkan komentar