prompt: aku mohon jangan tolol
jumlah kata: 494
OBROLAN mereka selesai. Saka sudah keluar dari ruangan itu sejak lima menit lalu. Meninggalkan Martha sendiri, memerhatikan meja yang sepi.
Malam ini, dia menolak Saka untuk kesekian kalinya. Kesunyian menghadirkan lagi percakapan itu untuknya.
“Kamu nggak bisa ya, kasih aku kesempatan?”
Terngiang kembali pertanyaan Saka usai Martha lirihkan permintaan maaf yang berulang.
Martha memandang lelaki itu dan menangkap kepedihan, keputusasaan, juga kefrustrasian berkelebat di sana.
Setelah semua ini, ternyata Saka masih mengharapkannya.
Kenyataan ini justru membuat Martha sedih. Sebab keputusannya tidak akan berubah. Lagi-lagi, harus dia lirihkan kalimat yang sama:
“Maaf ….”
Mengapa Saka terus membuatnya berada di posisi rumit? Dan, mengapa Saka sengaja membawa dirinya sendiri ke posisi yang sulit?
Napas Saka terbuang agak keras. “Sudah kuduga.” Jeda beberapa jenak. “Kamu sesuka itu sama dia?”
Martha mendesah. “Alasannya bukan cuma karena dia. Jangan bikin aku nyakitin kamu lebih dari ini, Ka.”
Kening Saka berkerut. “Terus? Karena aku punya sisi gelap yang bikin kamu takut?”
Gadis itu mengerjap. Rupanya Saka tahu alasan lainnya.
Ia mengangguk lemah. “Itu salah satunya. Kadang, kamu bikin aku …takut.”
Seperti kemarin. Sisi gelap Saka muncul dan membuatnya menggigil.
Katanya, mereka yang mencintai harus meraup kesemua sisi dalam pribadi seseorang sebagai kesatuan utuh.
Itulah yang Martha tak bisa lakukan.
Saka tertawa kecil. Miris. Getir.
“Terus, apa lagi? Nggak usah khawatir. Tumpahin saja semua. Aku yakin alasannya nggak akan lebih menyakitkan ketimbang karena kamu suka Zack.”
Kedua atensi mereka saling bertaut.
Martha menyukai mata itu. Laut yang kerap menenggelamkannya dalam tenang juga senang. Teduh dan teguh, meski kemudian ia tahu, yang kukuh pun bisa merapuh.
Akan tetapi, bukan dirinya yang Saka perlukan.
“Ada orang lain, yang suka kamu.”
Saka tertegun. “Siapa?”
Martha menggeleng. “Aku nggak bisa bilang. Belum. Tapi, kamu bisa ketemu sendiri kalau kamu menebar pandangan lebih luas dan nggak hanya berpusat ke aku aja.”
Manusia adalah makhluk kompleks. Apa-apa yang rumit bisa dijadikannya lebih sederhana. Apa-apa yang sederhana malah disulapnya jadi rumit. Seperti hormon yang diterjemahkannya sebagai perasaan. Seperti perasaan yang diterjemahkan sebagai kekang.
Jeda kembali menginvasi.
Sebelum Saka tertawa lagi.
“Please, Mar. Kupikir kamu bisa merancang alasan yang nggak setolol ini. Apa ini bukan omong kosongmu doang biar aku ngejauhin kamu?”
Martha tahu, Saka yang kerap memerhatikannya tentu bisa mendeteksi puluhan kebohongan yang pernah dan telah dia lontarkan.
“Ini nggak termasuk omong kosongku.”
“Terus kamu berharap aku berakhir sama dia? Apa bedanya dengan aku yang berharap bisa berakhir sama kamu?”
Ya. Manusia adalah makhluk yang kompleks.
“Karena bukan aku yang kamu butuhkan.”
“Menurut kamu, ‘kan? Karena menurutku, aku hanya butuh kamu.”
Dengan segudang pertimbangannya.
“Untuk ditebak-tebak?” Martha menembak. “Kalau sudah tahu tentang rahasiaku, memang kamu mau apa?”
Obrolan pribadi terpanjang mereka berakhir dengan Saka yang terkejut. Seperti tidak menyangka bahwa Martha tahu, makna dirinya bagi lelaki itu adalah misteri untuk digali. Persoalan matematika yang harus Saka kuasai.
Kemudian, lelaki itu keluar usai melirihkan maaf yang tak terdengar, sekalipun bagi Martha, itu jelas bukan masalah.
Namun, berkat itulah Martha bisa bersulang dengan sepi, atas kebebasannya dari kekang untuk menjelaskan.
