prompt: the older i get
jumlah kata: 494
Pendapat orang lain pun diperlukan. Martha mengangguk, menyetujui pernyataan Medina. Kadang kewarasannya dalam memutuskan sendiri patut dipertanyakan.
Medina bersuara lagi, “Setelah menyadari perasaan sendiri, apa lo nyesel udah nolak Saka?”
Pertanyaan itu melemparkan Martha ke dalam kontemplasinya untuk beberapa lama. Kesibukan mengais-ngais dan menyeleksi isi pikiran dan perasaannya yang berantakan.
“Sedikit.” Rasa sesal itu jelas ada. “Tapi, kalau gue lagi-lagi dikasih kesempatan memilih, gue tetap bakal nolak Saka.”
Medina menghentikan gerak-geriknya, berdecak.
Menangkap kerut ketidakmengertian yang terbit di kening Medina, Martha terkekeh.
“Lo tetap nggak mau sama Saka dengan alasan nggak suka sama standarnya yang lurus. Tapi, waktu dia mutusin buat berubah karena lo, lo malah nggak mau.” Medina menggeleng-gelengkan kepala.
“Gue nggak suka seseorang berubah karena gue. Suatu saat nanti, kalau ada masalah di antara kami, dia bakal menjadikan itu sebagai senjata. Atau justru dia bakal benci sama perubahannya, padahal itu mungkin baik.” Martha terkekeh. “Tapi, gue senang orang berubah demi dirinya sendiri. Lagian, Saka yang kita kenal adalah Saka yang kaku, ‘kan?”
Medina mendesah. “Ya.” Mau tak mau, gadis itu membenarkan. Kendati tidak sepenuhnya setuju, ia mengerti akan keputusan dan perasaan Martha.
Obrolan merambah pada hal-hal lain. Pada Zack dan Bella yang semakin hari semakin lengket. Juga pada potensi Saka dan Sunny untuk berlabuh dalam satu hubungan.
Meski sudah lama tahu akan perasaan Sunny, Martha baru tahu dari Medina, bahwa Sunny sudah menyukai lelaki itu sejak pertama kali jumpa.
“Gila.” Martha berdecak. “Waktu kita pertama ketemu kan, dia masih SMA. Sekarang malah udah lulus kuliah.”
“Gue salut sama ketabahannya menunggu. Setara sama Tiffany.”
“Kalau diingat-ingat, kita emang menua dalam lingkaran ini, ya.” Martha menerawang. Di antara mereka semua, Medina adalah teman terlamanya yang kemudian ia ajak berkenalan dengan Zack, lalu mempertemukan gadis itu pada Damar. “Lo malah udah mau nikah aja.”
Medina terkekeh. Hubungannya dengan Damar memang sudah dibicarakan untuk melaju ke tahap selanjutnya. “Kelompok main kita kayaknya merangkap Biro Jodoh.”
Martha ikut tertawa. Ada sejumput rasa tidak enak yang melintas, tapi dia bungkam dengan suapan terakhir makaroninya.
“Medi, kalau lo jadi ibu-ibu, jangan jadi emak-emak nyebelin, ya.”
Keduanya tertawa. Tawa yang masih menggema dalam benak Martha hingga berjam-jam kemudian.
Medina sudah dibuai mimpi sedari tadi. Ranjang di sisinya kosong. Martha yang seharusnya mengisi tempat itu malah termenung di teras. Memangku gitar yang hanya sempat dipetiknya selama dua puluh menit, karena enggan mengusik lelap sahabatnya di dalam sana.
Asap tembakau masuk paru-parunya, keluar ke udara bebas yang dingin khas pukul tiga pagi. Dipandanginya koleksi tanaman Medina di pekarangan yang disirami cahaya lampu. Hijaunya sekilas menyegarkan mata dan pikiran dari kemelut dalam benaknya.
Martha mendesah, membuat sekepul asap mengembang dan mengambang di atas kepalanya. Dia Galau. Gamang. Obrolan mereka bukan hanya meluruskan yang kusut. Tapi juga mengungkit sesuatu yang selama ini ia pendam tanpa sadar di palung pikirannya yang terdalam.
Ternyata ada banyak perubahan yang harus diantisipasinya. Perasaan yang timbul tenggelam. Orang-orang yang datang dan menghilang.
Martha pun percaya. Seiring waktu berlalu, semua kemelut dan kerutan-kerutan ini akan surut. Yang dibutuhkannya hanya jeda.
