prompt: tikus keren
jumlah kata: 494
JEDA yang datang rupanya tak seberapa lama. Entah waktu yang kelewat gegas akibat rentetan aktivitas, atau pengaruh dari keputusannya untuk menjauh dari kelompok mereka belakangan, dua bulan terasa seperti pasir yang cepat habis dari genggaman.
Dua bulan yang mengembalikannya pada kehidupan normal pascahibernasi ini tak kenal basa-basi. Ke hadapan Martha, langsung tersaji dua berita krusial sekaligus.
Satu, pernikahan Medina dan Damar dipercepat, dan akan diselenggarakan sebulan lagi. Sebab, kakek Damar yang sudah renta tiba-tiba jatuh sakit. Beliau menuntut agar bisa menyaksikan cucu tertuanya berdiri di pelaminan sebelum hal-hal buruk terjadi.
Dua, kabar seputar jadinya Sunny dan Saka yang baru saja terumbar, terdengar, dan tersebar di grup obrolan mereka.
Semuanya berawal dari bergantinya status hubungan di akun facebook Sunny. Terbitlah praduga dari Tiffany Sang Anjing Polisi, disambut bakaran petasan dari mulut dan jari Putri, sebelum kemudian dikonfirmasi oleh Sang Matahari sendiri.
“Jujur, gue kecewa.”
Komentar Medina membuat Martha mengangkat muka dari layar ponsel. Mereka memang sedang bersama. Hari-hari sebelum Medina dipinang haruslah diisi berdua lebih lama.
Sebab, esok lusa, jika sang apoteker sudah jadi istri orang, akan ada batasan-batasan yang tak bisa dilanggar Martha. Sekalipun yang akan jadi suami Medina adalah seorang Damar.
“Gimana?”
Bagi Martha, ini justru kabar baik. Pikiran dan hatinya memang perlu diberi hantaman badai, lalu dibiarkan ambruk, baru bisa sungguhan dibangkitkan kembali.
“Ya … kecepetan aja. Katanya Saka jatuh sejatuh-jatuhnya sama lo, tapi secepat ini dia move on. Antara kalimatnya kemarin cuma bualan lebay, atau Sunny yang dijadikan pelarian.”
Mata Martha menyipit, lalu terkekeh. “Aneh. Lo kok jadi sinis? Ketular Tiff, ya?”
Sekepul napas Medina lontarkan, sebelum ikut terkekeh pelan. Ia hijrah ke atas ranjang, tempat di mana barang-barang lamanya berserakan menanti nasib, dibawa, dibuang, atau dihibahkan.
“Pengaruh stres kali. Tapi, emang sih. Saka melompati ekspektasi gue.”
Martha mengubah posisi duduknya menjadi bersila. “Gue justru kagum sama Sunny. Dari kedua opsi yang kita pikirin, entah Sunny dijadiin pelarian, atau Saka emang sudah move on, kesimpulannya cuma satu: Sunny keren.”
Medina mengamati Martha dengan kening berlipat. Isyarat menunggu lanjutan penjelasan.
“Kalau Saka emang menjadikan Sunny pelarian, Sunny bener-bener cewek yang tegar. Karena gue cukup yakin, di awal-awal, pasti Saka udah langsung ngejelasin bahwa lukanya masih basah. Kalau lanjutannya kayak gini, kemungkinan besar Sunny yang nekat lanjut, ‘kan?”
Kilatan takjub terlintas di kedua netra Medina yang tersampul kacamata. Penjelasan Martha langsung menerangkan semuanya.
“Lo bener.” Ia mengangguk-anggukkan kepalanya perlahan. “Dan, kalau yang terjadi adalah Saka yang udah move on, berarti Sunny sukses bikin Saka tertarik, ya?”
Martha membenarkan, “Bingo!”
Mereka terkekeh-kekeh bersama. Sebelum pertanyaan Medina yang diucapkan lirih itu merobek suasana yang ada:
“Tapi, lo sendiri gimana, Mar? Baik-baik?”
Mode pura-pura Martha pun tercerabut. Pipinya berkedut. Senyumnya beralih getir. “Lo tahu gue nggak suka pertanyaan itu.”
Sebab ia akan baik-baik saja, selagi tak ada yang menuntutnya jujur.
Medina menariknya dalam satu dekapan erat. Melingkupinya dengan lembut. Menghangatkan hatinya, juga memanaskan matanya.
Tibalah waktu bagi Martha untuk merelakan, sepenuhnya. Namun, belum apa-apa, ia sudah merindukan sahabat-sahabatnya.
“Percayalah, gue akan bahagia selama kalian semua bahagia,” lirihnya, tulus.
