prompt: do-re-mi-fa-so fucking done with you
jumlah kata: 494
DAMAR dan Medina menemukan dalih cerdas untuk kembali menyatukan daun-daun yang terserak. Mereka bentuk pertemuan di balik kedok pesta pelepasan masa lajang. Pesertanya cuma sembilan. Sosok-sosok yang Martha tahu jelas siapa saja.
Sembilan lembar daun itu kembali disatukan dalam satu wadah yang sama familiernya. Juga kembali mempertemukan Martha dengan Saka.
Mereka berpapasan di depan pintu. Martha mengulas senyum. Saka membalas, agak kaku. Di sebelah lelaki itu, Sunny lekas melepaskan gamitan tangannya hanya demi memeluk Martha.
Martha balas memeluk, hangat.
“Ada temen-temenku yang hubungin Kak Martha, ‘kan?”
Teringat akan beberapa orang pelanggan yang datang padanya memesan lukisan wajah dengan membawa nama Sunny sebagai rekomender, ia mengangguk.
“Beneran laku ternyata ya, eksposur dari kamu.”
“Lah, Mar, lo ganti gaya rambut?”
Tawa Martha tersangkut. Sejenak, ia terkejut. Suara Zack-lah yang barusan terdengar. Menariknya dalam obrolan pertama setelah kisruh misterius mereka.
Martha tertawa, sigap meraba rambutnya sendiri. Memang makin pendek. “Yo’i. Sebetulnya mau potong ujungnya doang, kayak biasanya. Cuma, mendadak lihat gaya rambut sedagu lagi ngetren. Jadi, sekalian ganti aja.”
Jawaban pertamanya untuk Zack setelah kebisuan berbulan-bulan diekori dengan suara tepuk tangan dalam kepala Martha sendiri.
“Cantik lho, Mar. Lebih segar begini kelihatannya,” Bella memuji.
“Aduh, kan jadi malu dibilang cantik sama orang cantik.”
Padahal tujuan Martha memutuskan memangkas rambutnya lebih pendek tidak berbeda dengan kebanyakan orang patah hati. Simbolisme kelahiran baru. Simbolisme untuk tanggalnya kesedihan bersama potongan rambut yang jatuh ke lantai. Juga simbolisme atas kemerdekaannya.
“Bukan karena patah hati?”
Pertanyaan Tiffany menciptakan keheningan dalam lingkaran itu.
Satu. Dua. Tiga. Empat. Lima detik.
Tangkas, Putri menyambung, “Karena Medina mau jadi istri orang, dong. Ya, nggak? Kan, katanya Medina sosok yang mau lo nikahin. Sekarang mau dinikahin orang lain, nih. Patah hati ‘kan, lo?”
Martha terbahak keras sampai air mata menggenang di permukaan. Ternyata Putri masih ingat pengakuannya saat TOD dulu. Pengakuan yang ia jadikan tameng demi menyembunyikan perasaannya pada Zack, juga untuk menghindari menyakiti Saka. Lucu. Mengingat kedua hal yang ia tolak kejadiannya justru telah benar-benar terjadi.
Martha merangsek, memeluk Medina, si calon pengantin perempuan yang mengerutkan keningnya bingung. Jelas dia tidak mengerti, karena TOD itu berlangsung saat Medina berhalangan hadir.
“Bener. Uuu … Medina-ku sayang. Tapi, nggak apa-apa, kalau yang ngerebut kekasihku ini Ketua. Medina-ku pasti bakalan diperlakukan dengan baik sekali.”
Barangkali jalan memangkas rambut memang jitu. Atau justru jarak dan waktu yang sempat terbentang di antara mereka sedang memberlakukan efeknya di sini. Yang jelas, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Martha merasa seperti burung yang dibiarkan lepas dari kandang.
Tiada lagi beban batin, meski rasa tak nyaman itu masih tersisa. Tiada pula yang mengurungnya dengan kalimat-kalimat peringatan bernada khawatir saat bibirnya menjepit sebatang rokok, atau saat kerongkongannya diguyuri panas dan pahitnya minuman keras.
Ini, ‘kan, yang ia cari?
Martha putuskan untuk benar-benar merayakan dan memanfaatkan kebebasannya malam ini. Di bawah pengaruh sedikit alkohol yang membakar semangatnya, dia nyanyikan belasan lagu bersama waktu yang kian larut. Tidak peduli pada sorot mata penuh kekhawatiran yang masih bisa ia rasakan di tengah-tengah keriuhan itu; di bawah keremangan lampu.
