#30 Dinamika Semesta

prompt: after the closing scene
jumlah kata: 494

“MESKI semuanya terasa sama, bakal ada beberapa hal yang berbeda. Medina, Saka …”

Martha mengangguk. Dia mengerti. Sebetulnya, Tiffany sama sepertinya kemarin-kemarin. Tidak siap menghadapi perubahan. Tidak sigap mengantisipasi perubahan. Berbeda dengan Martha yang memilih untuk beradaptasi, Tiffany mengalihkan keresahannya dengan menyalahkan.

Jadi, dengan tangan mengusap lengan Tiffany, Martha menyahut, “Setiap saat semuanya berbeda. Nggak ada pola yang selamanya sama. Jadi, apa gue juga harus bertanggung jawab untuk semua perubahan? Untuk pernikahan Medina? Untuk jadinya Saka dengan Sunny?”

Tembakan Martha menghadirkan kilat kejut dalam lingkar sewarna ametis. Sejenak Sang Kuda tergeragap. “Duh, gue nggak bermaksud nyalahin lo.”

Martha terkekeh. “Gue mengerti, kok. Mungkin lo cuma nggak siap menghadapi perubahan.”

Terdengar desahan. “Memang.”

Kebisuan mereka diisi oleh pekik pembawa acara yang memanggil para lajang berkumpul di bawah panggung pelaminan. Martha tertawa kecil. Tradisi klise ini masih ada.

“Sori, kalau selama ini kesannya gue nyalahin lo,” Tiffany bersuara lagi.

Meminta maaf bagi seorang Tiffany adalah hal langka. Gadis itu punya pride yang tinggi. Jelas Tiffany mengucapkannya sambil memalingkan muka.

Sebetulnya, Martha tak mengharapkan ini, karena dipikirnya kejauhan. Mendapatkannya seperti sebongkah rezeki nyasar. Tak bisa dipungkiri, mendengarnya langsung dari Tiffany melapangkan hatinya.

“It’s okay,” sahutnya riang. Martha tutup obrolan mereka dengan hati seringan kapas, sembari menggamit lengan Tiffany, mengajaknya ke depan panggung. “Ke sana, yuk!”

Suara tawa keras Zack membahana. Jelas, dia mengejek keberadaan Putri yang menjulang melebihi rata-rata dalam barisan itu. Putri membalas dengan acungan jari tengah, merangkul akrab Bella di sisinya, membuat Zack balik kesal. Melihatnya, Martha tertawa.

Putri berbeda, juga tetap sama. Sunny berbeda, juga tetap sama. Tiffany berbeda, juga tetap sama. Entah ada yang berbeda atau tidak, jalani saja semuanya dengan penerimaan.

Seruan hitungan mundur. Dari atas panggung, Medina melontarkan buket pengantin. Tangan Putri yang terbiasa jadi pemburu tangkas menangkap, tapi Sunny menubruk lengannya hingga buket kembali menggelinding. Disepak ke sana-sini. Digeser ke sana-sini. Hingga berhenti di kaki Martha.

Gadis itu tidak mau menyia-nyiakan kesempatan. Lekas, dia renggut buket dari lantai dan diacungkan tinggi-tinggi, sambil tertawa.

“Argh! Sial. Punya gue!” Putri mengerang.

Tiffany mencibir, “Ngapain sih, ngotot banget dapetin bunganya. Nggak kayak lo.”

“Gue tuh, udah bernazar. Kalau dapat bunga itu, berarti pertandingan selanjutnya gue bakalan menang.”

“Mana ada begitu, deh? Itu tuh, bunga pertanda yang ngedapetin bakal nyusul,” terang Sunny. “Yeeey, Kak Martha calon pengantin baru!”

Martha tertawa lagi, bahkan saat pembawa acara mengucap selamat dari atas panggung. Juga saat Medina mengedipkan mata dan mengacungkan jempol kepadanya.

“Cie mau nyusul. Partnernya siapa, nih?” komentar Zack menyapa sesaat setelah mereka kembali.

Martha menghidu aneka wangi yang berkumpul dalam buket itu. Mungkin seperti ini aroma kebahagiaan. Banyak rasa, tapi sama menyenangkannya.

“Dengan ini, aku, Martha, mengumumkan pertunanganku dengan kebahagiaan. Prok-prok-prok!”

Tawa-tawa tersulut. Lepas. Semua orang sedang ikut berbahagia. Dari sana, ekor matanya menangkap sosok berkacamata yang memandangnya sambil mengulum senyum. Martha menoleh, membalas dengan senyum yang lebih lebar.

Sebab, meski warna-warna berubah, alam dan semesta tetap utuh. Dan, Angkasa tetap menyelubungi bumi, kendati tak ada yang mengikat kakinya langsung selain gravitasi bernama kasih sayang.

[FIN]

Tinggalkan komentar