Stockhard Channing – There Are The Worse Things I Could Do
1200+ kata
EMPAT BOTOL BIR, sebungkus rokok tembakau dengan asapnya yang terkepul-kepul merubungi mereka mendaraskan malam Minggu Flo dan Peter menjadi malam yang panas.
Panas oleh amukan-amukan teredam yang takkan pernah menjumpai muara sesungguhnya. Panas oleh buncah emosi yang meletup-letup dari lisan si perempuan, dan ditimpali sang lelaki dengan ketabahan luar biasa.
“Brengs***-brengs*** sok tahu dengan mulut petasan banting itu seenaknya mengataiku. Hanya karena aku jalan dengan banyak lelaki, mereka anggap aku yang paling berdosa. Heh, mungkin aku memang jal*ng tapi asal mereka tahu, itu bukan hal paling buruk yang bisa kulakukan! Aku bisa saja berencana menyusup ke kamar mereka dan mencincang lidah-lidah itu!”
Di sini Peter tahu Flo sudah mabuk. Memang tiada kepala yang layu terantuk-antuk hingga ambruk ke meja. Tubuh ramping itu masih terduduk tegak, kepalanya mendongak, dan genggaman pada gelas kaca masih rapat. Tetapi matanya meredup dengan lisan memuntahkan kalimat sadis yang berulang dalam lima menit terakhir.
Maka lelaki itu mencegah tangan si perempuan mencurahkan segelas lagi minuman ke dalam kerongkongannya.
Flo mengerang, “Tolong …”
“Tidak,” sahut Peter tegas. “Kamu sudah mabuk.”
“Aku tidak mabuk!”
Peter menolak menanggapi dengan kata-kata. Berdebat dengan perempuan di sisinya yang tengah terombang-ambing antara kesadaran dan ketidaksadaran hanya sesuatu yang tolol dan sia-sia. Lebih baik lanjut menjauhkan sisa-sisa minuman di meja ke sisi yang tak bisa dijangkau temannya.
Flo memrotes lagi, bermaksud bangkit demi merenggut minumannya kembali, hingga Peter mesti mengurung setiap ruang gerak perempuan itu dengan pelukannya yang erat. Tangan ringkih perempuan itu memberontak, terlepas dari cengkeraman, memukul-mukul dada si lelaki, menyuruhnya hengkang. Namun, Peter bergeming. Lebih baik bonyok sekalian ketimbang dibiarkannya Flo lebih mabuk dari ini.
“Dunia ini tidak adil. Kita minum bersama tapi selalu kamu yang tetap waras di saat otakku sudah sinting!”
Flo kembali meracau. Dan ini sudah saatnya Peter memanggil sopir demi membawa mereka pulang, agar perempuan itu tidak semakin kacau dan menghasilkan kekacauan.
Di dalam mobil yang bergerak perlahan mengikuti arus, mata Peter yang memantulkan kelebatan cahaya-cahaya dari jalanan memandang kosong pada udara. Napas halus Flo menggelitik lehernya. Peter melirik, berpikir bahwa gadis yang ia bungkus dengan jasnya yang mahal sudah sungguhan terlelap dalam dekapannya.
Tiba-tiba, deru napas yang menyapu lehernya berubah jadi bisikan.
Sehingga telinganya menangkap suara itu:
“Terkadang aku merasa omongan mereka benar. Aku ini perempuan yang buruk. Anak yang buruk buat kedua orang tuaku. Tapi, belakangan aku ragu tiap kamu di dekatku. Orang yang jahat tidak mungkin bisa awet berteman dengan lelaki sebaik kamu. Kalau aku sejahat itu, aku pasti sudah memanfaatkanmu karena kamu kaya raya.”
Tiada balasan yang disuarakan Peter. Sengaja ia biarkan Flo membeberkan segalanya. Namun, cerocosan Flo rupanya tidak punya kelanjutan.
Ketika lelaki itu melirik Flo lagi, mata perempuan itu sudah jatuh memejam.
Maka Peter memilih untuk tidak pula mengatakan apa-apa. Dia sediakan waktu. Bagi Flo untuk mengistirahatkan tubuh dan kepala yang barangkali lelah sehabis diperas alkohol untuk menumpahkan amukan. Juga bagi dirinya sendiri untuk memadamkan kekacauan di kepala.
Hanya kebisuan yang terjalin di antara mereka, bahkan ketika Peter menggendong perempuan itu ke kamar dan meletakkan tubuhnya hati-hati di atas ranjang.
Namun,
“Peter?” Suara Flo tiba-tiba terdengar lagi. Serak. Basah.
Tangan Peter yang hendak membentangkan selimut terhenti di udara.
“Hm?”
“Tetap di sini …”
Peter tercenung.
Suara serak itu.
Tubuh Flo yang tergolek sayu.
Bajunya yang tersingkap.
Tato mawar di pinggang kiri yang menjuntaikan akar ke bawah tetapi terhalang lapisan celana.
Temaram lampu tidur.
Aroma mawar dari pengharum ruangan.
Fakta bahwa Flo sudah terbiasa membawa masuk lelaki ke dalam ruangan ini.
Kemudian sesuatu yang menggembung di kepala Peter sendiri yang tahu-tahu teraduk dan minta dipecahkan …
Silih berganti mereka berterbangan, malang melintang, menjalin benang-benang kabut yang menutupi idealismenya. Ataukah justru hal itu menyingkapkan rahasia terdalam yang tak pernah Peter biarkan diketahui siapa pun? Entah. Yang jelas, kini Peter melayang, diombang-ambingkan kewarasan dan ketidakwarasan.
Hingga Peter pun tahu bahwa Flo bukan satu-satunya yang mabuk di sini.
Mereka pikir, empat botol bir, sebungkus rokok tembakau dengan asapnya yang terkepul-kepul merubungi mereka sudah membuat malam ini cukup panas. Rupanya selalu ada hal yang lebih di atas segala sesuatu.
Malam itu, untuk pertama kali, Flo membiarkan laki-laki melakukannya tanpa pengaman.
Malam itu, untuk pertama kali, Peter melanggar sumpah yang tahunan ditanam dalam kepala dan hatinya sendiri agar tetap menjadikan hubungan mereka sebagai persahabatan murni.
>oOo<
Flo muntah lagi untuk kali kelima dalam sepekan terakhir.
Keluar dari bilik kamar mandi kantor, ia dihadapkan dengan wajah Watti yang dirundung kecemasan.
“Kamu belakangan ini sering muntah. Aku jadi khawatir.”
Flo membalasnya dengan senyum. Dia memang agak meriang dan lebih cepat lelah akhir-akhir ini. Tubuhnya mendadak jadi asing. Biasanya, selelah apa pun ia sehabis bergelut dalam pekerjaan utamanya, malam-malam panjangnya masih bisa ia isi dengan berkencan sampai berlabuh di ranjang. Sesuatu yang membuat para tetangga memandangnya sinis dan membuatnya dinobatkan jadi perempuan jal*ng.
Mungkin efek kepalanya yang sudah mulai menjerit agar mengambil cuti liburan. Mungkin sendi-sendi tubuhnya yang baru berani menampakkan gejala kemuakan. Mungkin penyakit-penyakit lamanya yang pernah tertimbun akhirnya mencuat ke permukaan.
Wajah Watti tiba-tiba mendekat dengan mata memicing curiga.
“Kamu bukannya tekdung, ‘kan?”
Flo mengibaskan tangan sambil tertawa. “Mengada-ngada!”
Mana mungkin? Justru sudah hampir sebulan dia absen berhubungan. Setiap kali melakukannya pun, Flo memastikan pelanggannya mengenakan pengaman. Seburuk-buruknya isi otak Flo, ia tentu takkan membiarkan lelaki-lelaki mana pun menitipkan benih pada tubuhnya untuk ia semai menjadi seonggok bayi, kecuali …
Kecuali Peter.
Tetapi lelaki itu tak akan pernah menyentuhnya, bukan?
Tidak akan … pernah?
Flo tiba-tiba meragukan kalimat itu.
Lalu sekilasan adegan ketika wajah Peter mendekat tahu-tahu saja membayang di pelupuk mata. Adegan ketika bibirnya dibungkam bibir Peter. Adegan ketika mereka bergelut dibalut keringat dan dibuai erangan-erangan …
Mata Flo membelalak. Membuat Watti yang menunggu jawabannya ikutan terjangkit kepanikan dan menyerunya agar serius.
Namun, Flo telah kadung larut dalam pertanyaan-pertanyaan yang berkecamuk. Apakah yang barusan ditampilkan dalam benaknya itu nyata, atau hanya potongan dari mimpi dan imajinasi liar yang memang telah lama dia pelihara?
Maka keesokan harinya, ia sungguhan mengambil cuti kerja. Usai mengantungi konfirmasi medis yang membenarkan asumsi paling buruk yang pernah ada dalam kepalanya, dan membuat dirinya merenung dan menggerung di dalam kamar tanpa melakukan apa-apa, malam itu, Flo menelepon.
Panggilannya disambut di nada panggil ketiga.
Suara Peter terdengar menyebut namanya, “Flo?”
Flo ingin menyemburkan pertanyaan yang begitu berat dipikul oleh otot lidahnya. Ia ingin mengonfirmasi bahwa adegaan-adegan panas yang itu hanya ingatan palsu yang terbentuk dari kesintingannya akibat diam-diam mendamba lelaki itu. Akan tetapi, mendadak saja otaknya melompong begitu ingat akan dinding yang telah lama ada memisahkan mereka.
Dilandasi kebaikan hatinya yang seperti Santa, Peter mungkin akan mengambil alih tanggung jawab sekalipun itu tidak semestinya.
Namun, segalanya tidak akan semudah itu.
Peter mungkin saja baik, tetapi tidak dengan dunia di sekitar. Dunia mereka jelas-jelas berbeda. Ibu Peter adalah satu dari banyak jiwa yang kerapkali memandang Flo dengan jijik, menghardiknya, bahkan, dengan segenap upaya berusaha menjauhkan Flo dari putranya, meski selalu gagal sebab kedua tokoh utama percaya tak ada apa pun di antara mereka selain pertemanan biasa. Dan ‘pertemanan biasa’ itulah status yang selama ini bisa diandalkan menjadi dalih bagi semua orang—Flo, Peter, juga dunia mereka—jembatan di mana Peter menyediakan telinga dan pelukan setiap Flo memerlukannya, tanpa ada kecaman lebih. Itu sudah lebih dari cukup.
Flo pantang bersikap serakah dengan menempatkan Peter, lelaki terbaik yang pernah ada, di sisi yang sulit. Keserakahan seperti itu adalah hal yang lebih buruk dibanding akumulasi semua dosa-dosanya selama ini. Menanyakan sama buruknya dengan memberitakan hal ini pada lelaki itu; sama-sama membenarkan pernyataan ibu Peter, bahwa Flo adalah ular yang mencoba menggoda putranya yang ditempatkan sebagai Adam.
Maka Flo telan kembali kalimatnya, kendati matanya memanas dan lidah belakangnya mencecap rasa pahit yang padat dan berat. Tidak akan pernah dia menangis di depan Peter untuk masalah yang satu ini. “Maaf, cuma kepencet.”
