Tokoh Tsuyuri × Belona
1500 kata
Peringatan: OOC! Penuh ketidakjelasan alur. Fantasi gagal dan banyak kecacatan.
.
.
.
“Bagi Belona, seseorang yang memiliki rasa takut adalah orang yang lucu.
Bagi Tsuyuri, seseorang tanpa rasa takut adalah orang yang ‘lucu’.”
PINTU AMC TERKATUP RAPAT. Lelampu dalam padam, hanya menyisakan cahaya biru samar yang menerangi taman luar, yang konon katanya bisa menurunkan taraf depresi makhluk jika melewati siramannya.
Sebuah siluet bergerak lambat, mendekat.
Edentria memang dihuni berbagai macam makhluk nokturnal yang tidak menjadikan malam sebagai masa untuk terlelap. Akademi dijejali mereka yang separuh dewa, separuh iblis, bahkan dewa dan iblis itu sendiri, yang seharusnya tak memiliki ikatan akan waktu sekalipun ruang gerak mereka dibatasi medan anti-sihir.
Akan tetapi, pergerakan dan gemerisik ini terlalu mencurigakan. Siluet itu memanjati dinding seperti cecak, bergelantungan seperti kelelawar tak berselaput sayap, dan meloncat turun seperti kucing liar yang mencengkeram mangsa.
Kemudian, sesuatu terjadi.
Sesuatu yang esoknya mendobrak ketenangan pagi buta dengan melantangkan kata detensi.
Vildred Neumann Richter memandang kekacauan yang terbentang di dalam ruang ramuan dengan tenang. Permintaan tanggung jawab dari Fatima datang saat ia belum sepenuhnya terjaga, hingga pria Jerman itu butuh waktu ekstra sebelumnya untuk mengendalikan situasi dan menenangkan diri.
Tuturan Fatima seharusnya bisa ia percayai walau tanpa bukti sekalipun. Sebagai pencengkeram waktu, Fatima tergolong Mahatahu akan kejadian-kejadian luar biasa. Vildred tahu, Fatima telah mengendus keterlibatan anak walinya di sini. Namun, otoritas memaksa pria itu untuk tetap kukuh pada tahapan-tahapan normal. Maka memanggil satuan pengaman dan memeriksa CCTV adalah solusi yang paling bijaksana.
Ketika sosok pemilik siluet ramping dan panjang yang merayapi dinding dan mengubrak-abrik botol ramuan inventaris gedung kesehatan itu akhirnya bisa diidentifikasi, Vildred mengusap wajahnya, berusaha tabah.
“Saya akan umumkan detensi,” tuturnya, sebelum mulai merapalkan mantra restorasi. “Tapi sepertinya percuma. Makhluk satu ini tidak pernah kenal rasa takut.”
Entah bagaimana dengan lamia-lamia lain di berbagai belahan dunia dan dimensi, tapi ia yang diterjunkan ke Edentria dan memilih Belona Rosmerta sebagai identitas, memang tidak diramu dengan sejumput pun rasa takut.
Apa itu ketakutan? Apa pula itu rasa? Belona bertanya suatu kali pada Baidouin. Jawaban elf hutan yang senantiasa menjadi kamus berjalan bagi sang Lamia memaparkan padanya bahwa ketakutan ialah hal abstrak yang lahir dalam jiwa setiap makhluk hidup ketika dihadapkan pada bahaya.
Belona merasa paham kemudian. Jika rasa takut adalah sesuatu yang menggelitiki dirinya itu, Belona punya. Tapi buatnya, mereka justru membisikkan untuk lebih maju lagi apabila disuruh mundur, lebih melakukan jika diberi kata ‘jangan’; dorongan menginversi semua pantangan dan larangan menjadi perkenan.
Dia membunuh bayi dan menggilas tulang-tulang makhluk mungil itu dengan giginya karena gelitikan itu. Dia menerjang dan memutuskan kepala peliharaan teman seakademi dari tubuhnya karena rasa geli itu.
Belona Rosmerta menyukai setiap provokasi.
Jadi hunjaman ancaman Vildred beserta tantangan bagi Belona untuk membersihkan segenap ruang-ruang kelas yang jarang digunakan sekalipun oleh hantu gentayangan, justru ditimpalinya dengan tawa lahak.
Di ruang kelas yang harusnya bisa dibersihkan dengan sihir atau perangkat elektronik serbapraktis, Belona berkutat dengan sapu dan pengki. Sang Lamia baru saja akan melakukan sesuatu yang dicetuskan kepalanya, seperti menghancurkan isi ruang kelas itu pula sekalian dengan piranti membersihkannya yang amat kuno, ketika insting hewaninya yang awas merasakan sesuatu.
Ketika Belona menolehkan kepala, matanya menangkap seorang gadis yang memerhatikannya dari liang pintu sambil tersenyum.
“Halo.”
>oOo<
Di masa kecilnya, Tsuyuri pernah bertanya pada Hahaue, seperti apa kriteria pemimpin yang akan sukses. Ibunya berkata, pemimpin seperti itu adalah yang seperti pemburu, pemimpin yang diam-diam menaruh di mana target pencapaiannya dan pantang menyerah untuk menaklukkan mereka.
Maka dari itulah, Tsuyuri menaruh banyak targetnya. Dia harus menjadi pemimpin yang seperti pemburu. Diam-diam mengawasi, menyusup, dan menduduki tanah sasaran. Diam-diam mengawasi, menyusup, menghunjamkan taring ke tubuh buruan. Tapi di atas itu, yang terpenting dari rencananya sebelum mengambil alih kekuasaan adalah menyiapkan tentara-tentara terpilih; kesatria yang kuat dan rela menyerahkan kekuatan itu baginya.
Sejak kedatangannya di Akademi, Tsuyuri menaruh radar di mana-mana untuk menjaring kestarianya. Pertama, kesatrianya harus mereka yang kuat fisik dan psikis. Tidak boleh letoy, tidak boleh menye-menye. Tidak perlu sosok yang setia. Tsuyuri percaya siapa pun yang ditunjuk telunjuknya akan menghibahkan jiwa dan raga kepadanya selama-lamanya. Dia memiliki kemampuan untuk menjadikan semua makhluk tunduk pada perintahnya, jika dia mau.
Pengumuman detensi yang terdengar sampai ke telinga Tsuyuri sewaktu sedang memandikan anjing-anjingnya tiba-tiba jadi salah satu jalan seleksinya.
Ketika nama Belona Rosmerta disebutkan bersama konsekuensi tindakan kriminalnya, diam-diam Tsuyuri merasa senang. Ia telah menemukan satu lagi kriteria kesatrianya yang hebat: tidak memiliki rasa takut.
>oOo<
Sejak kali pertama mencuatnya seonggok makhluk bernama Tsuyuri yang tahu-tahu saja jadi senang sekali mengejar-ngejar dirinya, juga malah memotivasinya melakukan apa pun yang dilarang umum, Belona merasakan sesuatu yang berbeda dari gelitikan yang pernah seenak jidat ditafsirkannya sebagai rasa takut.
Panas.
Tsuyuri mengingatkan Belona pada Hera. Sosok sok berkuasa yang membuatnya jadi ingin meremukkan batok kepala sang Warlock sendiri dengan telapak tangannya, sampai meletus seperti balon, dan menumpahkan darah segar yang entah akan berwarna apa ke sekujur tubuhnya.
“Aku mau digendong.”
Belona mengedik tidak peduli. “Punya kaki, ‘kan? Atau mau kupatahkan dulu?”
“Setelah itu digendong?”
“Tidak usah bermimpi.”
“Aku memang tidak perlu bermimpi lagi. Kamu kan sudah ada di sini.”
“Mau kubuat bermimpi selama-lamanya?”
“Apa kamu mau bawa aku ke dreamland?”
Meski dia selalu merasa panas karena sang Warlock senantiasa punya jawaban untuk semua perkataannya, juga karena upaya defensif Belona tidak kunjung menjadikan Tsuyuri jera, Belona tidak tahu, apa yang menjadi halangan baginya untuk benar-benar mewujudkan ancamannya.
Kecuali satu kali itu.
Satu peristiwa yang membuat Belona menyesal sepanjang sisa usianya di dunia ini.
>oOo<
Lagi-lagi perang berkecamuk. Seharusnya nama Edentria tidak disematkan jika hanya untuk topeng dan dusta sementara pulau terus saja diterjang huru-hara. Kali ini, kalangan iblis yang menyeruak, menyerang Salvatore demi pencarian peramal yang menguping obrolan rahasia mereka di alam baka. Konon sang peramal kabur ke pulau ini, sementara pihak otoritas kependudukan enggan berkoalisi dengan iblis-iblis beringas.
Sebagai salah satu yang menduduki level tinggi, Tsuyuri ikut dalam peperangan lagi. Walau tangannya tidak diciptakan untuk baku hantam, otaknya masih bisa dimanfaatkan. Untuk memudahkan jalannya menjadi penguasa Edentria di masa depan kalau-kalau dirinya tidak menemukan jalan pulang ke Gestrada, ia harus memiliki lebih banyak pengalaman. Semakin banyak pengalaman perang seorang kaisar, semakin pula ia disegani.
Sedangkan Belona, seperti biasanya, tidak mau ambil pusing pada segenap huru-hara. Dia bahkan berencana buat hengkang. Beberapa waktu lalu, dia menemukan penyihir andal di Salvatore yang katanya bisa membawanya pulang. Namun, bukan Tsuyuri jika tidak menahan-nahan. Kesatrianya harus tetap di sini dan menyambutnya kelak setelah sang Warlock pulang dari peperangan.
“Aku tidak punya tanggung jawab buat tinggal.”
“Kamu punya. Pokoknya kalau kamu resign, aku buat aktamu supaya kamu resmi jadi peliharaanku.”
Sang Lamia berdecih. “Pikirmu kontrak denganku segampang itu.”
“Memang gampang. Tidak ada yang susah untuk seorang Kaisar sejati. Jangan ke mana-mana, pokoknya. Atau aku benar-benar akan melakukannya.”
Namanya juga Belona Yang Tidak Punya Rasa Takut. Semakin diancam semakin dia tertantang. Memang apa yang bisa dilakukan Warlock itu? Apa keistimewaan Tsuyuri kecuali dijunjung para binatang?
Vildred Neumann Richter menerima permintaan pengunduran diri Belona dengan tenang. Dalam hati, ia senang si biang kerok akan segera hengkang, tetapi juga sedikit sedih, karena bagaimanapun Belona tetap siswi perwaliannya.
Usai memastikan namanya akan terbit di daftar resign bulan depan, Belona keluar gerbang akademi dengan perasaan lepas dan langsung menuju Salvatore. Tidak ada perjanjian antara Belona dan penyihir itu, tapi mungkin sedikit tekanan akan berlaku.
“Katanya kamu salah satu yang terlibat dalam pemanggilanku tujuh puluh delapan tahun lalu.”
Penyihir bertudung yang gayanya persis seperti yang digambarkan film-film fantasi gelap yang konyol itu menyahut, “Bukan aku. Tapi kakekku. Karena ritual itu dia mati dan jiwa raganya dikurung di alam baka. Kalau kamu memintaku membawamu kembali, aku tidak mau.”
Belona mulai kesal. Diplomasi jelas bukan gayanya. Sebagai tipe yang bertindak tanpa memikirkan banyak hal, dia merebut sebilah pedang antik yang terpajang di dinding kediaman penyihir itu dan mencoba menghunuskannya ke leher si penyihir.
Namun, bukannya mengelak, si penyihir tersenyum. Kemampuan Belona jelas terkendala medan antisihir, ditambah minimnya penguasaan sihir Edentria, tapi si penyihir yang asli tanah ini bisa dengan mudah merapalkan mantra dan membuat Belona menikam diri sendiri.
Darah Lamia menetesi lantai bermotif oktagram.
>oOo<
“Perang kali ini, kamu harus jadi pahlawannya.”
Dalam hati Belona menggerutu, walau lidahnya malah menugucapkan “Baik, Heika,” seperti anjing yang patuh. Anjing-anjing Tsuyuri yang lain menyahut dengan gonggongan, membuat Belona merasa sudah sederajat dengan anjing-anjing yang seharusnya jadi santapannya itu.
Siapa yang mengira bahwa Tsuyuri bergerak lebih cepat ketimbang sang lamia. Sebelum daftar resign nangkring di pengumuman bulanan, Tsuyuri membawa kontrak yang dipersiapkannya ke hadapan kepala Monster Shop serta pegawai Notaris Peri dan Makhluk Beradab Lain di Giganta, dan perjanjian untuk menjadikan Belona sebagai peliharaannya pun disahkan dengan jaminan tetesan darah Sang Lamia. Sebelum Belona sampai ke kediaman si penyihir, Tsuyuri sudah lebih duluan tiba dan melakukan negosiasi panjang untuk menjadikan Belona sebagai makhluk yang jinak-jinak merpati.
Kekuatan Belona yang sebelumnya terkekang kembali bisa diperolehnya, tetapi hidupnya jauh lebih buruk lagi karena kini dia harus patuh pada Tsuyuri. Kontrak mereka memberinya sanksi kalau sampai menentang apa pun perkataan Tsuyuri, Belona akan merasakan rasa sakit luar biasa yang membuatnya berpikir lebih baik mati.
“Sekarang, gendong aku.”
Belona memaki dalam hati, tapi dia tetap berlutut di hadapan sang Warlock, membiarkan punggungnya dipeluk, dan membawa Tsuyuri ke mana pun dia ingin pergi.
Di balik punggung Lamia itu, Tsuyuri tersenyum menang. Kaisar yang sukses adalah yang pandai memanfaatkan peluang untuk menaklukkan wilayah berpotensi yang ingin dijarah.
