Prompt: Dreamland
Jumlah Kata: 440 kata
Kedua bola mata sewarna kopi akhirnya membuka seiring mekarnya matahari pukul enam pagi. Bau segala macam kembang turut menyeruak. Menyusup ke hidung perempuan bergaun tidur sewarna susu—si pemilik bola mata—yang lekas berdiri. Ia tepuk permukaan bajunya demi mengenyahkan debu hasil sisa mimpi buruknya.
Begitu mengedarkan pandangan, ia dibuat takjub.
Ia tahu, ia baru saja terjaga. Setelah peluk mimpi semalam menimbun tenaga hingga ke dasar.
Senyumnya mengembang, kian lama kian lebar.
“Aku … merdeka?”
Benar. Keterjagaan ini memerdekakan kakinya dari belenggu nominal yang mesti dilunasi, padahal tidak ia ketahui ke mana mereka pergi. Dalam mimpi buruknya yang panjang, perempuan itu telah lelah; kepayahan dikejar-kejar rentenir yang menuntutnya membayar apa yang diutangi ayah-ibunya yang sudah lama mati.
Buncah syukur meluap dari batinnya yang tidak cukup menampung, hingga limpah di jalanan. Salah satu pecahannya terpental ke aspal, digilas ujung sepatu yang mengkilap memantulkan sinar matahari, milik seorang laki-laki parlente.
Perempuan itu membuka mulut, hendak menyadarkan pemilik kaki. Sayang, si lelaki tidak peduli. Terlampau sibuk ia dengan angka-angka yang berisik bergemerincingan, mencelat dari kacamatanya, lalu menempel di kemeja putihnya, juga dasinya. Sebagian lain terjun ke celana kain yang garis setrikanya selurus penggaris. Ada pula yang tersangkut di sikunya seiring tangan yang bolak-balik mengangkat dering telepon dan menempelkannya pada telinga.
Perempuan itu buka suara, “Maaf, bisa bantu aku memungut sesuatu yang kau injak itu?”
Entah karena suaranya yang terlalu lemah, atau gemerincing angka yang kelewat nyaring, si lelaki tetap tidak memberi respons berarti. Ia cuma bergeser beberapa sentimeter ke kiri. Jejak sepatunya saja yang meninggalkan serpihan syukur yang terabaikan pada aspal berwarna kelabu tua yang terbelah karena dimatangkan matahari di beberapa titik.
Ketika memunguti serpihan itu sendiri untuk diperbaiki kembali, perempuan itu terenyak. Ekor matanya menangkap satu fakta: mata si lelaki rupanya masih terlekat, tertutup rapat.
Laki-laki itu mungkin belum terjaga, pikirnya. Maka perempuan daratkan satu tepukan di pundaknya.
Tiba-tiba, lelaki itu tersentak. Kacamata yang tadinya memuntahkan uang kemudian retak dan pecah. Pecahannyalah yang kini mencelat, menempel di kemeja putihnya, juga dasinya. Sebagian lain terjun ke celana kain yang garis setrikanya selurus penggaris. Ada pula yang tersangkut di sikunya seiring tangan yang terangkat menutupi telinga, saking kaget dan tak menyangkanya ia.
Matanya yang kini terbuka pun membola. Nanar menyaksikan segenap busananya berubah compang-camping. Ia meraung. Menangisi mimpi yang ditimbunnya bertahun-tahun dan kini lebur bersama debu tanah.
Kini mata itu nyalang memandang si perempuan yang berdiri bungkam. “Apa yang kaulakukan?”
“Maaf, aku hanya mencoba—”
“Ia hanya mencoba membantumu terjaga,” sebuah suara asing menyela. Siluet yang sama asingnya mendekati mereka dari arah jam dua. “Mari, kuantar kalian menjumpai dunia nyata.”
Perempuan dan laki-laki itu tahu-tahu saja melayang. Sebelum dua pasang mata itu tertumbuk pada jasad mereka yang tergolek bersimbah cairan merah di bawah sana, dirubungi pusaran manusia yang masih sibuk hidup dalam selubung mimpi.
