Prompt: Following the Rainbow
Jumlah Kata: 494
“Aku takut.”
Pintu Kami dibuka lebar-lebar jam dua. Nomor satu datang jam setengah tiga. Jam-jam rawan di mana topeng membungkus manusia, dan mendatangkan ketelanjangan bagi manusia lain. Jam-jam kenekatan, kepasrahan, sekaligus kejujuran.
Bajunya koyak di segala sisi. Sorot matanya bagai lampu yang sudah akan menjumpai sekarat. Tremor mengambil alih tangannya, hingga tiada kuasa baginya untuk melakukan apa-apa.
“Akan Kami hidangkan hijau dan merah bagimu.”
Sesudahnya, ia melenggang keluar dari kafe Kami dengan ketentraman di jantung, dan bara yang membungkus diri. Siap memperjuangkan hari esok dengan bar yang penuh terisi.
Nomor dua datang keesokan hari, bertepatan dengan waktu pintu Kami dibuka lebar. Matanya kuyu dan sayup, seperti sayap kupu-kupu yang barusan terjebak di dalam air. Tak lagi punya kemampuan mengepak karena lepek.
“Bisakah kau beri aku secercah pencerahan?”
Kami tuang ungu dan dan oranye untuk ia cicipi. Mulanya ia merengut, mulut mengerucut, dahi berkerut. Namun, lama-lama lidahnya beradaptasi dengan makanannya. Lama-lama garis di mulutnya yang melengkung ke bawah bergerak ke arah sebaliknya.
“Akan kubayar dengan menulis namamu di lembar Persembahan Hidupku!” serunya sebelum pergi.
Keesokan harinya, nomor tiga dan empat datang menyambangi bersamaan. Wajah mereka sama-sama masam, tapi mata mereka menampilkan cinta yang berkarat. Kami tidak pernah suka perpecahan, tapi Kami mengerti. Mereka hanya sedang terjebak keretakan, belum sampai pecah benar. Maka Kami suguhkan bagi mereka nila dan merah, agar keduanya lekas bersalaman.
Awalnya mereka saling pandang dan melontarkan kilat murka. Lalu menyalahkan Kami karena membuat mereka salah memilih jalan kemari. Setelah mencicipi sesendok, mata-mata itu mengelebatkan kenangan masa silam saat sama-sama membangun cinta, hingga keduanya luluh dan luruh dalam pelukan. Nila dan merah tumpah ruah ke lantai. Keduanya berjalan pulang sambil terseret-seret. Licin oleh genangan yang Kami suguhkan.
Tidak ada kata terima kasih untuk Kami, tapi itu bukan masalah berarti. Melihat mereka kembali berdamai walau punya kesempatan terberai sudah menjadi kebahagiaan tersendiri bagi Kami.
Nomor enam datang agak subuh. Remuk dihantam beban-beban kehidupan yang tak kuasa dipikul pundak ringkihnya. Begitu tiba di depan Kami, ia rubuh dan menghantam meja. Dari matanya mengalir sungai derita.
“Tolong, ini sakit sekali. Berikan aku kekuatan untuk bisa memikul semua ini.”
Kami seka penderitaannya dengan belas kasih, dan Kami tuang ke mulutnya; hijau yang berseri. Mata yang semula mengatup sekarat pun mulai terbuka. Ia jatuh bersujud di kaki Kami, dan Kami usap kepalanya, membawanya tidur di dipan terindah dalam kafe Kami. Tempat yang nyaman baginya untuk beristirahat dan membayar ketabahannya yang luar biasa selama ini.
Nomor tujuh datang saat matahari mulai menggeser pintu Kami untuk menutup. Wajahnya tak lebih bersinar dari enam nomor yang tiba sebelumnya.
“Halo, katakan apa yang kau mau.”
Tiba-tiba ia mencebik bengis dan mengamuk, “Apa yang sudah kaulakukan pada hidupku?”
Kami memandangnya kebingungan. Mungkin ia butuh campuran segala warna karena hidup yang amat suram. Maka Kami tuang baginya merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, juga ungu, berharap segalanya bisa berubah jadi cahaya yang menuntunnya ke jalan kami.
Namun, ia menendang wadah suguhan sambil meludah jijik.
Kami memaklumi. Warna takkan berpengaruh apa-apa baginya. Ia telah lama buta.
