Mengunyah

Prompt: Augustus

Jumlah Kata: 494

Dari pengumuman barusan, sepertinya pesawat yang kutumpangi baru bergerak keluar dari garis perbatasan negeri. Aku akan sampai di Negeri Doobeedoo dua jam lagi. Namun, telah kutangkap satu anomali dari kalender yang memeluk orang asing bermata sipit di sebelah kursiku yang penuh deretan ceklis agenda liburan musim panas.

Jadi kusuarakan tanya, “Maaf, ini bulan apa?”

Orang asing bermata sipit itu beringsut, lalu mendelik dengan alis terangkat. Ekspresinya adalah adukan berbagai macam ketidaknyamanan; antara risi sebab tidurnya kuganggu dengan pertanyaan bodoh, juga heran dan kebingungan pada ajuanku barusan.

“*******,” jawabnya pada akhirnya.

Kali ini gantian aku yang mengerjap bengong.

“Memangnya ada nama bulan itu?” tanyaku bodoh.

Ini serius. Belum pernah kutahu ada bulan bernama *******. Hidupku berjalan dari Januari sampai Desember, dan jika ia memintaku mengabsennya satu demi satu, tiada satu pun nama yang ia sebutkan di dalamnya.

Si orang asing mencondongkan tubuh ke arahku, mungkin tertarik pada obrolan ini.

“Aku mengerti. Barangkali dalam bahasamu nama bulan itu tidak sama dengan nama dari bahasa yang kita pakai sekarang. Intinya itu bulan kedelapan. Dari mana asalmu?”

Kerut di keningku tambah dalam saja terukir. Kuucap nama negeri kelahiranku, lalu melanjutkan dengan kebingungan yang makin kental, “Bulan kedelapan itu … bukannya tidak ada?”

“Hah?”

Lagi, aku tidak pernah tahu ada bulan kedelapan dalam sekian puluh tahun hidup ini. Akan tetapi, dari kalender yang menyelimutinya dengan kantung-kantung agendanya yang penuh kebebasan, juga respons si orang asing barusan, aku mulai berpikir bahwa akulah yang sudah sinting.

“Sebentar,” orang asing itu menyela. “Kau bilang kau dari Negeri Wakudang. Aku beberapa kali main ke sana. Bukannya itu bulan kemerdekaan kalian? Sama seperti negeriku, Negeri Gujunpyo. Kita merdeka segera setelah tentara Kokoronotomo menyerah, bukan?”

Kupandang ia seolah dirinya baru mengucap mantra pemanggil iblis. Tidak benar. Sepertinya orang ini yang sinting.

“Hari kemerdekaan? Memangnya ada yang seperti itu?”

Sebab aku tidak pernah merasa merdeka. Berbagai macam hal menjajahku di negeri sendiri, hingga aku menyerah dan memutuskan untuk mencari peruntungan ke negeri lain dengan menjadi tenaga kerja impor. Itu pun masih harus melewati segudang pemaksaan dan pengekangan dari berbagai macam hewan lokal.

Ia menggeleng tak sabar. Kemudian ia nyanyikan satu lagu asing, yang terasa bagai sindiran di kuping. Yang kutangkap hanya Tujuh Belas apalah Empat Puluh Lima.

Gantian aku yang menggeleng. “Lagu dari mana itu?”

Dari ekspresinya, kuduga si orang asing tengah meyakinkan diri sendiri bahwa ia sedang bicara dengan orang dengan gangguan jiwa.

Putus asa, akhirnya kusibak kalenderku. Kubentangkan benda itu lebar-lebar dan memaksanya melihat deretan bulan di dalam sana untuk meyakinkan bahwa aku tidak sedang berdusta.

Seketika itu pula sorot matanya berubah drastis. Ia mengangguk samar dan mematri atensi pada satu titik.

“Aku mengerti. Kalendermu bolong.”

“Apa?”

Tangannya terulur ke bagian tengah dari deret bulan di kalenderku, dan tiba-tiba saja jemari itu mencaplok seekor tikus got berbau busuk, tapi berdasi. Suara decapannya terdengar lebih jelas daripada deru mesin pesawat. Serpih sobekan kalender mencelat jatuh dari mulutnya yang asyik memamah.

“Para tikus yang mengunyahnya. Mengunyah kemerdekaanmu. Ini salah satunya.”

Tinggalkan komentar