Purnama

Prompt: Kliwon
Jumlah Kata: 500

Kata Ibu, purnama menculik seorang anak kemarin. Lalu keluarga si anak menangis dan mengutuk sekeliling kompeks sebelum melapor pada polisi.

Ibu mengurung kami di rumah mulai hari ini. Walhasil, yang bisa kulakukan cuma menatap layar televisi yang menampilkan muka yang itu-itu saja. Orang yang sama memerankan peran yang sewarna dengan jalan cerita yang selalu mengerucut ke satu hal yang sama: pertobatan usai diazabi. Naluri jalan-jalanku berontak, tapi mau bagaimana lagi?

Kesal pun percuma.

Liburan sekolah terancam berlangsung membosankan. Ibu boleh saja bilang akan memasakkan makanan yang enak-enak, tetapi jika hanya itu satu-satunya penjerat hati, besok lusa juga kami sudah bosan. Wara-wiri di jalanan sudah telanjur jadi kebiasaan. Omong kosong jika dibilang bisa kerasan. Nonton teve bahkan jadi aktivitas yang memuakkan dan memualkan lama-lama.

“Kapan kami bisa kembali bermain di luar?” adikku mulai merengek. Ludah kutelan, ia baru saja menyuarakan apa yang terpendam dalam batinku selama beberapa hari belakangan.

Ibu menghentakkan pisau dagingnya keras-keras. Wadah aluminium berisi sayur mayur ikut bergetar karena kekuatannya. Otomatis, kami terjengkang di tempat duduk masing-masing. Ngeri rasanya memandang Ibu dalam kondisi demikian.

“Kalian mau ikut ditelan purnama? Lari keluar saja kalau mau, silakan. Itu, kunci pintu depan ada di kamar Ibu.”

Wajib hukumnya bagi kami untuk bungkam seribu bahasa kalau Ibu sudah bilang begitu. Orang bilang, bakal kualat kalau tambah membantah perkataan beliau. Namanya juga Ibu, yang kutukannya dianggap sakral oleh agama dan budaya sini.

“Kukasih tahu kalian satu hal.” Lagi, Ibu bersuara di tengah hentakan pisaunya, “Itu anak yang dimakan purnama keluar dari rumah setelah bandel sama ibunya. Waktu disuruh makan nasi dengan garam, dia banting piringnya dan lari keluar.”

Oke, cerita Ibu mulai bikin kami takut, karena kemarin-kemarin, kami juga melakukan hal yang sama. Napas kami sama-sama tertahan ketika mataku dan adik saling beradu pandang, sebelum terpatri pada semut-semut yang merayap di lantai.

“Kira-kira, sampai kapan kami harus diam seperti ini di rumah, Bu?” aku ikut buka suara.

“Lihat saja nanti, kapan purnama ditangkap, saat itu kalian baru bisa keluar.” Ibu kembali menenggelamkan diri dengan kucuran air.

Wejangan Ibu berakhir karena ia sibuk memasak, sementara kami kembali mematri atensi pada televisi yang menampilkan muka yang itu lagi, itu lagi. Orang yang sama memerankan peran yang sewarna dengan jalan ceritanya selalu mengerucut ke satu hal yang sama: pertobatan usai diazabi. Namun, mau bagaimana lagi?

Keesokan harinya, Ibu baru bersedia membuka pintu. Lalu tiga orang polisi menyusup masuk ke dalam rumah, dengan alasan mendapatkan laporan saksi. Investigasi, katanya. Warga berkumpul di depan rumah sambil berkasak-kusuk riuh, sementara aku dan adik bepandangan dan terbengang-bengong. Oleh petugas, seluruh bagian rumah kami diperiksa.

Namun, satu hal yang aneh, Ibu tidak menghentikan mereka. Kepalanya mendongak, matanya terpejam, dan tangannya bersedekap dengan tenang. Lalu kasak-kusuk berubah semakin keras ketika seorang polisi membawakan kantong plastik berisi baju asing yang berlumurkan darah. Itu baju anak-anak, tapi bukan bajuku atau baju adikku.

Wajah Ibu masih tenang, matanya melirik anak-anaknya dan mengangguk perlahan sambil tersenyum.

Oh, tidak—mataku membulat lebar ketika kusaksikan ibu menyodorkan tangannya untuk diborgol; sebab kusadari satu hal yang membuatku luput sebelumnya. Nama Ibu adalah Purnama.

Tinggalkan komentar