Lentera

Prompt: Firasat
Jumlah Kata: 487

Di depan semangkok acar dan roti kering saat aku berumur empat, Ibu bilang, aku memelihara sebuah lentera. Aku disebutnya mukjizat luar biasa.

Ayah meludah ke dalam segelas susu yang didapatkannya dari memerah sapi tetangga.

“Berhenti omong kosong! Gara-gara kausuruh aku carikan susu untuknya, tetangga mengataiku rendahan.”

Pelototan matanya yang diselaputi garis-garis kemerahan mengarah padaku yang mengkerut.

“Kalau setelah ini kau malah jadi anak tidak berguna, kubuang kau ke lautan!”

Segera setelah makan malam kami tandas dan Ayah berangkat menyusuri bermacam-macam ladang pekerjaan, Ibu mengusap kepalaku lembut.

“Setiap malam selama kau kukandung, mimpi yang sama berulang datang. Sebuah lentera keluar dari liangku dan menerangi dunia. Kau akan sukses, kupercaya itu.”

Kata-kata Ibu tidak terwujud. Alih-alih menjadi seseorang yang membuat dunia benderang, aku justru jadi bahan bulan-bulanan kehidupan.

Bermula dari kasus teman sebangkuku saat kami bermain bersama di ladang. Seekor burung tiba-tiba tumbang saat terbang, kemudian lungsur di kaki kirinya. Kuperingati ia, tapi teman sebangkuku mengernyit bingung.

“Tidak ada burung di mana-mana.”

Sekejap kemudian burung itu lenyap tanpa jejak yang bisa kucari. Sambil bergidik, kami pulang ke rumah masing-masing. Cerita itu akan terkubur dalam kenangan masa kecil sebagai peristiwa horor atau lamunan bocah, andai sepekan kemudian suatu berita tidak terlahir.

Hingga jam pelajaran hampir dimulai, bangku di sebelahku masih melompong. Absennya teman sebangkuku yang selalu bugar merupakan anomali. Murid sekelas bertanya-tanya, apa yang terjadi.

Jawabannya kami peroleh saat istirahat. Wali kelas mengumumkan, teman sebangkuku jatuh dari tangga karena syok mendengar kabar terkini. Pesawat yang ditumpangi ayahnya dalam perjalanan bisnis hilang tak terlacak. Kami diajaknya membesuk dan berbelasungkawa. Setiba di sana, kulihat kaki kiri temanku dibalut gips.

Kepada Ayah-Ibu, kuceritakan peristiwa ini. Ibu memuji, sedang Ayah mengomel. Ia mengancam bahwa jika ini berulang, maka aku akan ditenggelamkannya. Sejak saat itu, hanya kepada Ibu kubisikkan peristiwa lain yang menyusul berentetan.

Teman sekelas yang menyantap makanan penuh ulat yang hanya tampak di mataku, kemudian bercerita bahwa ayah ibunya berpisah karena orang ketiga. Wali kelas yang memikul hujan di kepalanya, lantas meeninggal dalam tsunami saat pulang ke kampungnya.

Lalu suatu hari, kulihat percikan api menyambar atap rumah tetangga. Kuceritakan pada ibu, ibu memperingatkan tetangga, tapi kami dihujat satu kompleks. Ayah pulang dan memaki-maki, katanya aku telah menakuti mereka semua. Dipecutnya aku berkali-kali sampai punggungku memerah dan kesulitan ke mana-mana.

Beberapa hari kemudian, kebakaran terjadi di kompleks perumahan. Rumah kami turut gosong, memanggang Ibu yang terjebak di dalamnya. Aku dibawa ayah ke sebuah gubuk, dikurung, tak diberi makan atau dibesuk. Hanya kegelapan yang merubungi seperti kawan lama, membisikkan bayangan-bayangan buram yang tidak pernah kumengerti apa.

Bayangan yang nyata baru muncul ketika aku tidak lagi punya kemampuan untuk apa-apa selain bernapas. Saat itu, kulihat sebuah lentera yang menyala, yang lantas padam usai ditenggelamkan ke dalam air.

Sewaktu aku sudah nyaris kehilangan napasku sendiri, pintu terbuka dan membawa sesosok bayangan masuk.

Suara Ayah menyapu telinga, “Memang harus kupadamkan kau sejak awal biar tidak semakin berulah.”

Kemudian, kurasakan tubuhku meringan, di tengah permukaan yang basah dan bertekanan.

Tinggalkan komentar