Prompt: Mahadewi
Jumlah Kata: 500
Ini sebuah kisah yang diceritakan seorang profesor kepada mahasiswanya:
-Ibuku Nawang Wulan!-
‘Kalimat itu selalu dilantangkan seorang bocah laki-laki. Setiap pukul delapan pagi, ia keluar dari gubuk berdinding bambu dan beratapkan rerumbai. Menuturkannya pada semua yang dicegatnya saat lewat.
‘Kemudian ibunya, wanita tua beranak sepuluh, berkeriput dan beruban, yang bukan Nawang Wulan tergopoh keluar. Menggendong putra kecilnya, sembari menunduk dalam. Meminta maaf telah menjeda waktu laju tuan-tuan dan puan-puan.
-Hentikan itu. Apa yang kaumaksud dengan Nawang Wulan? Namaku Sulastri. Su-las-tri.-
‘Namun, tidak peduli seberapa sering sang ibu menceramahi, anaknya selalu mengulangi. Diperkenalkannya wanita bertitel ibu kepada semua orang yang ditemui dengan kalimat yang sama:
-Ibuku Nawang Wulan!-
‘Guru wali kelas melongok dari buku rapor halaman identitas siswa. Mereka harus menambal kolom nama ibu dalam buku yang sama. Lagi-lagi pemilik buku seenaknya mencoret nama tambalan dan menuangkan ‘NAWANG WULAN’ yang dikapital dan cakar ayam. Lembaran buku itu baru berumur dua semester, tetapi penampakannya sudah mirip laporan anak tingkat akhir.
“Jadi, nama ibunya Nawang Wulan, atau Sulastri?” tanya seorang mahasiswi yang tak sabar menanti akhir.
Profesor mengulas senyum. Bukannya menjawab, dia malah melanjutkan cerita.
‘Karena sudah tidak tahan lagi, wali kelas mengajak bicara sang ibu saat penerimaan rapor. Ditanyainya wanita tua berbaju lusuh dan masai itu,
-Maaf Ibu, sebenarnya identitas asli Ibu itu Nawang Wulan atau Sulastri?-
‘Seperti wali kelas itu, sang ibu juga sudah lelah menegaskan.
-Saya mengerti kekhawatiran Bu Guru. Anak saya selalu mengira saya Nawang Wulan. Itu tidak benar. Nama saya Sulastri, sejak lahir, hingga sekarang. Ini, KTP saya, kalau-kalau Bu Guru membutuhkan bukti.-
Sehelai kartu biru yang masa aktifnya kedaluwarsa diletakkan di atas rapor yang terbuka. Wali kelas memelototinya lalu mendengkus pelan. Nama Sulastri dan potret wanita di hadapannya kini tervalidasi. Sekalipun wajah itu sudah mulai buram terlahap zaman. Kini ia yakin. Anak didiknya yang lagi mengusil.
-Saya harap Ibu Sulastri menasihati anak Ibu agar tidak mencoret-coret buku rapor dengan data yang keliru.-
-Akan saya nasihati, meski saya tahu anak saya punya alasan sendiri.-
‘Sepulangnya, kesibukan demi kesibukan malah meluputkannya dari bertanya pada sang putra bungsu. Melayani suaminya yang sama rentanya, memberi makan anak-anaknya yang tak cuma satu-dua, mengurusi kehidupan pertetanggaan, dan macam-macam.
Seorang mahasiswi mengangkat tangan, “Anaknya masih sering berteriak, ‘Ibuku Nawang Wulan?'”
Profesor menimpali, “Masih. Meskipun sudah tidak mencoreti buku rapor, dia terus menegaskan ibunya Nawang Wulan, bahkan jauh setelah ibunya meninggal lima bulan kemudian.”
Seisi kelas itu seketika hening. Tak ada yang bahkan mampu memgeluarkan desah napas.
“Ketika ibunya meninggal, di antara kesepuluh saudara-saudaranya, dirinyalah yang sama sekali tidak menangis. Kepada semua orang di malam duka, dengan lantang anak itu mengumumkan,
-Ibuku Nawang Wulan. Hari ini, Ibu pulang ke kahyangan, karena sudah menemukan selendangnya kembali.-
Masih hening.
“Puluhan tahun berikutnya, anak itu melontarkan kalimat, ‘Ibuku Nawang Wulan’ di tengah wisuda doktoral luar negeri. Hari ini pun, akan ia tegaskan, ‘Ibuku Nawang Wulan’ meski namanya Sulastri. Sebab dengan semangkuk beras dan sebutir telur setiap hari, juga uang yang tidak sampai lima ratus ribu sebulan, mampu ia sulap sepuluh anaknya menjadi orang ternama. Yang paling bungsu bisa kalian lihat di depan sini.”
