Pelahap Bayangan

Prompt: Lentera
Jumlah Kata: 499

Di dusun tempat aku ditugaskan selanjutnya, ada tempat melahap bayangan yang berdiri di kaki bukit. Anak-anak di sana menyebutnya ‘sekolah’.

Di sanalah aku berkenalan dengan Si Tua Pelahap Bayangan. Tatapan matanya yang mulai dihiasi kerentaan masih seteduh pohon dan sejernih air. Batok kepalanya yang bulat selalu mengkilap memantulkan matahari, sebab helai uban yang berani tumbuh di sana hanya setipis kantung emasnya.

Jalan yang dilaluinya setiap pagi untuk melahap bayangan lebih cocok jadi medan ajang bertahan hidup. Berangkat terbungkuk-bungkuk sebelum matahari muncul. Tempat itu harus ia capai dengan dayungan sampan bolong yang ditambal sekenanya demi menjinakkan riak sungai. Juga melewati bebatuan cadas yang bakal menggigiti permukaan kulit karena tiadanya alas kaki.

Segera setelah dia tiba, anak-anak yang sedikit lebih banyak dibandingkan jari tangannya berseru senang seperti menyambut kedatangan pahlawan besar. Lalu mereka duduk tertib melipat tangan, siap untuk dilahap bayangannya.

Anehnya, kendati setiap hari mulutnya memerangkap bayangan dari sekitar, kepalanya yang plontos itu mengandung ribuan cahaya. Sekepal cahaya dia lontarkan ke udara saat aku tidak bisa membendung penasaran.

“Daripada melahap bayangan, kenapa kau tidak fokus menabung emas saja seperti orang-orang tua lain?”

Dia tersenyum. “Aku lebih tertarik menabung cahaya untuk merajut lentera.”

“Lalu kenapa malah melahap bayangan anak-anak?”

“Bayangan dan cahaya itu senantiasa bersandingan. Kulahap bayangan sampai saat di mana perutku begah, demi merajut cahayaku sendiri nanti.”

“Kapan perutmu akan begah?”

Ia tertawa dan menampilkan gigi yang mulai keropos. “Ya kalau sudah kenyang. Tidak akan lama lagi. Buktinya kau ada di sini.”

Aku balas terkekeh. Rupanya cahaya yang dikandung batok kepalanya lebih dari cukup untuk bisa mengenaliku.

Beberapa pekan pun berselang. Hari di mana perutnya begah pun tiba. Kutunggui ia di antara genangan air sungai yang telah dititahkan untuk diam.

Dia memohon, “Tolong izinkan aku bertemu anak-anakku.”

Kusanggupi permintaannya. Semua anak yang otomatis libur untuk dilahap bayangannya kukirimkan seberkas kesadaran lewat angin. Matahari sudah mulai tinggi, tapi si Tua Pelahap Bayangan belum juga mendatangi reruntuhan di kaki bukit itu.

Sontak anak-anak itu panik dan sibuk mencari-cari pelahap bayangan mereka. Mereka susuri lembah dan bebatuan, hanya demi menemukan sosok itu. Hingga salah satu di antaranya jatuh terseret batu yang sengaja melicinkan diri. Mata si anak membola begitu menangkap kehadiran kami. Gagap, anak itu berseru, “A-a-aku menemukannya!”

Bergegas, satu demi satu anak lain menghampiri. Di atas aliran sungai yang jernih, mereka temukan kendaraan si Tua Pelahap Bayangan yang berbaring tenang dengan senyum terpatri. Arus yang mengalirinya kalah kuat untuk menghanyutkannya jauh. Matanya terpejam rapat, dan noda-noda tanah menghiasi baju lusuhnya. Namun, seluruh tubuhnya diselimuti cahaya.

Raungan anak-anak itu terdengar menyayat seantero hutan. Dari tubuh mereka yang menangisi kendaraannya, ratusan ekor kunang-kunang berterbangan dan merubungi si Tua Pelahap Bayangan yang sesungguhnya, yang tengah berdiri bersamaku. Tidak sampai di situ, cahaya lain datang dari antah berantah dalam wujud lentera raksasa.

Kataku, “Lentera ini adalah cahaya yang kautabung selama ini untuk menerangi jalanmu di depan sana.”

Si Tua Pelahap Bayangan tersenyum senang. Perlahan ia bangkit, memandang anak-anak yang sudah tak lagi bisa ia lahap bayangannya, lantas berjalan menyusuri belantara hutan dengan tentara cahayanya yang kaya-raya.

Tinggalkan komentar