Diterima

Prompt: Apprentice Thief
Jumlah Kata: 500

Setelah perjuangan sekian tahun, akhirnya dia bisa memutuskan gelar penganggurannya tahun ini.

Seharusnya ia berjingkrak senang seperti karyawan lain yang memenuhi ruangan. Kenyataannya, batinnya malah didera keraguan. Ini takkan membuat ibunya bahagia, sekalipun sekarang sumber uang sudah dekat. Maka kadar kegembiraannya sendiri pun pupus dilahap kekhawatiran.

Matanya berlari di atas permukaan id card bergengsi yang barusan diterima. Menandakan legalitas dirinya dalam perusahaan ini. Q. Q adalah namanya sekarang. Divisi belum diketahui. Baru akan dicari tahu setelah wawancara empat menit lagi.

Wawancara inilah yang memupuk kegugupannya. Sebab di sana akan ada seseorang yang bertanya apa idenya untuk pembangunan divisi baru. Apa yang harus dia curi dari para manusia.

Ini tak akan jadi masalah andai saja misi perusahaan ini tidak bertubrukan dengan petuah ibunya.

‘Apa pun yang terjadi, kau tak boleh melakukan hal buruk. Aku lebih suka kau jadi santa pengangguran selamanya, ketimbang harus terjeblos dalam dosa.’

Pintu berkaca gelap di hadapan Q akhirnya terbuka. Cerocos karyawan baru lainnya dari sekitar langsung terbekap. Seseorang dari sana mempersilakan mereka semua mereka semua untuk masuk dalam beberapa kloter. Satu kloter berjumlah tujuh kandidat. Gawatnya, Q masuk kloter pertama. Sementara ide belum kunjung ditemukannya.

Semburan pendingin ruangan terasa jauh lebih menggigilkan dibanding nominal kenyataannya karena dibubuki faktor kegugupan. Manakala bokongnya mendarat di kursi, rasanya seperti dia sedang diadili di kutub utara.

“Kami akan mulai dari O.”

Seseorang beridentitas baru O menyuarakan dengan percaya diri, “Saya akan mendirikan divisi untuk mencuri harta. Orang miskin dan siapapun yang putus asa mencari kekayaan, pasti akan bergabung di dalam kami.”

Pewawancara menggumam, “Bukan ide yang baru, tapi tidak buruk. Baiklah, idemu diterima. Berikutnya, P.”

Pemilik nama P tersenyum senang. Di tangannya tergenggam seutas kekang. “Mencuri kendali atas nafsu sendiri sepertinya bagus. Manusia-manusia bodoh yang menjual segalanya demi nafsunya akan dengan mudah saya jerat kemari.”

Pewawancara bertepuk tangan. “Bravo! Ini ide segar yang genius. Idemu diterima.”

Satu demi satu peserta lain mengungkapkan idenya. R menyuarakan ide untuk mencuri kesuksesan, yang bisa saja menarik minat kalangan pendengki. Ada lagi M yang ingin mencuri istri, yang lantas berdebat dengan P karena keduanya saling bertumpuan. Lalu S mencetuskan ide yang disebut brilian: mencuri kewarasan. Tak hanya itu, ada pula T yang membahas untuk mencuri moralitas, yang diapresiasi pewawancara dengan tepuk tangan meriah.

Sementara keringat dingin Q makin menderas dan membesar. Semua ide yang barusan disuarakan dan disambut puja-puji adalah hal-hal buruk. Padahal kupingnya masih saja terus menggaungkan peringatan ibunya.

‘Apa pun yang terjadi, kau tak boleh melakukan hal buruk …’

‘Apa pun yang terjadi, kau tak boleh melakukan hal buruk …’

“Sekarang Q. Silakan.”

Nyaris saja Q terlonjak dari kursinya. Napasnya bahkan harus terlebih dulu dieja. Peluh sebesar biji-biji jagung meluap ke lantai, kaki, dan meja.

“Saya … ingin mengajak orang mencuri amal.”

Separuh alis pewawancara naik. “Caranya?”

“Melakukan kebaikan dan mengikhlaskan orang lain menyinyiri saya. Amal orang itu akan otomatis tercuri.”

Napas Q berhenti sejenak manakala tiba-tiba saja pewawancara bangkit dan memeluk dirinya. Pundaknya ditepuk beberapa kali, sebelum pelukan itu terlerai. Pewawancara mengulas senyum lebar penuh kepuasan dan kebanggaan.

“Idemu diterima.”

Tinggalkan komentar