Prompt: Magnolia
Jumlah Kata: 500
“Medium ini mudah retak.”
Pernyataan itu terbit dari lisanmu. Jauh sebelum kita putuskan untuk mengikat jari kelingking bersama di hadapan altar dan ribuan saksi. Lebih jauh lagi sebelum kau membeku menjadi sosok yang kaubenci sendiri.
Kala itu badai salju riuh di luaran, sedang di dalam, kita berdua berpelukan. Mencari sepercik kehangatan dari tubuh masing-masing juga perapian. Kaubilang, kau tak menyukai tubuhmu hingga kutanya alasannya apa. Kalimat tadi adalah jawabannya.
“Aku lebih suka menjadi bunga,” katamu lagi, seolah paham pertanyaan yang terbekap pikiranku. Aku penasaran, jika tidak menjadi manusia yang katamu terlalu ringkih, kau ingin jadi apa.
“Maka mari jalani hidup dengan baik. Mungkin kita akan dapat kesempatan bereinkarnasi menjadi sesuatu yang bukan manusia. Ingin jadi bunga apa?”
“Akan kupikirkan nanti akan jadi apa. Yang pasti, aku akan menjalani sisa hidupku dengan baik.”
Aku tak tahu obrolan itu akan jadi sesuatu yang kusesali atau kusyukuri kemudian. Jauh setelah kita putuskan mengikat jari kelingking bersama di hadapan altar dan ribuan saksi. Lebih jauh lagi setelah peristiwa terjebak salju itu, tetapi kini kau membeku menjadi sosok yang katamu kaubenci sendiri.
Andai kau dibekukan suhu, segalanya akan sirna dengan kita yang saling berpelukan di hadapan perapian. Sayang, tubuhmu dibekukan sesuatu yang lain. Kata dokter, pembuluh darah dan jantungmu terlalu dingin untuk mengalirkan kehidupan ke hampir seluruh bagian tubuhmu.
Awalnya perutmu yang dibekukan hingga kau mual-mual dan muntah. Kita terancam tak bisa memiliki keturunan. Kau menyalahkan dirimu sendiri, dan kubilang, berdua denganmu pun tak apa. Menyusul kemudian kepalamu, dan munculnya rasa sakit yang tak bisa diobati dengan sebatas aspirin. Lalu kerongkonganmu ikut-ikutan, hingga untuk melahap masakanku yang katamu paling nikmat sedunia pun kau tak lagi sanggup.
Benar katamu. Medium ini terlalu ringkih. Terlalu mudah retak.
Sebelum sisa tubuh lain sempat dibekukan, kau suarakan keinginan untuk menanam pohon bunga. Katamu sudah kautemukan ingin menjadi apa di kehidupan selanjutnya.
“Magnolia. Aku ingin membawakanmu kabar baik tentang kedatangan musim semi. Tiada lagi kebekuan. Tiada lagi kedinginan.”
Saban hari, sembari terus mengupayakan kesembuhan yang kata dokter mustahil kecuali jika Tuhan memperkenankan mukjizat sampai ke sini, kuguyur dan kupupuk pohon bunga itu penuh harap. Menanti keajaiban, juga kedatangan musim semi.
Namun, sepuluh tahun berselang, pohon itu tak kunjung memunculkan bunga.
Sepuluh tahun kemudian, status quo.
Sepuluh tahun kemudian, sama saja.
Masa dan uban yang bertambah malah menimbun pendinginan. Perlahan, tubuhmu terbekukan seluruhnya. Kata dokter, syarafmu telah turut terbelenggu. Hanya tinggal tunggu napas akhir, bahkan mukjizat Tuhan pun lebih dari kata mustahil.
Selama beberapa lama aku berkubang dalam kedukaan. Musim dingin ini terlalu lama hingga kutakut diriku pun turut beku dan retak. Tubuh ini terlalu ringkih. Terlalu lemah. Namun, secarik surat bertulisan berantakan yang kutemukan terselip di kasurmu, memupukiku untuk terus bertahan. Telah kau janjikan: musim semi pasti akan datang.
Pada akhirnya, kau pecah. Bersama baodai air mata pria tua ini yang tak habis-habis selama enam malam. Tetangga dan kerabat menghiburku dengan tabah, mendengarkan segenap curahan dan racauanku tentang kerinduan akan musim semi, sekalipun mereka tak paham.
Barulah di hari ketujuh, kutahu janjimu benar. Hari itu, mentari terbit bersamamu; kuncup bunga magnolia yang puluhan tahun membeku.
