Engkau Kumerdekakan

๐‘บ๐‘จ๐‘ด๐‘ท๐‘จ๐‘ฐ ๐‘ฒ๐‘ฌ๐‘ด๐‘จ๐‘น๐‘ฐ๐‘ต, ๐‘ฌ๐‘ต๐‘ฎ๐‘ฒ๐‘จ๐‘ผ ๐‘ด๐‘จ๐‘บ๐‘ฐ๐‘ฏ berdiri di ambang kepalaku. Warna kulitmu tak bisa kutentukan: kadang merah, kadang biru. Mungkin, pandangan ini kertas lakmus yang bingung mendefinisikanmu sebagai asam ataukah basa. Di lain waktu, kau bening. Layaknya gumam yang belum atau malah tidak akan sempat mewujud sebagai kata. Entah apakah kau pernah benar-benar hidup, atau hanya kebocoran … Lanjutkan membaca Engkau Kumerdekakan