Bulan si rembang angkasa berwarna merah dan buram walau bentuknya bulat sempurna, kala lelaki bertudung menjejakkan kaki di rerumputan. Menapak ke arah ingar-bingar daerah perbelanjaan kota tua yang tercemari polusi hasil industri. Sembari berujar kata ‘maaf’ berkali-kali, ia menyerobot antrian para pejalan kaki. Perlakuan yang tak diperlukan sebetulnya, toh orang-orang akan otomatis menjauh begitu ia mendekat sebab aroma apak menguar dari jubah hitamnya yang menyentuh tanah. Tapi lelaki itu tidak peduli–atau enggan peduli. Ia hanya ingin tiba di tempat biasa secepat mungkin.
Kakinya baru berhenti ketika sampai di hadapan seorang wanita penjaja ramuan dan obat-obatan.
“Nyonya,” ujarnya, “yang biasa.”
Wanita itu bersungut-sungut sembari tergesa mengulurkan apa yang lelaki itu inginkan–sebuah botol entah apa isinya–seolah ingin lelaki itu lekas hengkang dari hadapannya.
Si lelaki menyeringai gembira. Kini irama langkahnya dipercepat, sebab tak ingin terlalu lama berada di pusaran keramaian yang membuatnya manggah. Namun, sebelum sukses keluar dari jalur pasar malam itu, ada sesuatu yang mengunggut minatnya.
Sungguh tak pernah terjadi di dalam hidup lelaki itu sebelumnya, terpesona pada satu benda sampai membuatnya terbawa fantasi. Seperti terhipnotis, kakinya melangkah pelan ke arah seorang gadis yang sedari tadi memekikkan produk pemerah bibir teranyar.
“Pemerah bibir, Nona?” Si lelaki memastikan.
Kening gadis penjaja itu mendadak berkemerut. Maksud hati ingin mengundang para wanita atau gadis muda, malah yang menyambangi hanya lelaki aneh dengan jubah berbau busuk.
“I-iya, Sir. Dari kumbang cochineal dan susu ara.”
“Aku mau satu. Berapa?” Dengan gerakan penuh antusiasme, lelaki itu menyeluk kantung jubahnya.
“Tiga shilling.”
Sembari menimang benda yang barusan ia terima, kembali, lelaki itu melangkah terburu untuk pulang ke gubuk reyotnya. Jiwanya sudah nyaris penat oleh bisingnya dunia. Ketika ia kuak pintu kayu familier yang sudah reput dan menguncinya kembali rapat-rapat, barulah desahan lega lolos dari paru-parunya.
Ruangan itu gulita. Ia merogoh sekotak korek api dari saku, lalu menyalakan sebuah lentera yang menempel di dinding.
Sebuah ranjang berkelambu hitam menjadi satu-satunya furnitur di bilik pengap. Si lelaki menyibak tirai kasa itu hingga tampaklah sosok wanita bergaun putih yang tergolek di sana.
“Sayang, aku punya sesuatu yang baru untukmu,” bisik lelaki itu seraya memindahkan kepala sang gadis ke atas pangkuan dan merengkuhnya. Tangannya menggapai-gapai kepala ranjang, mengambil sebuah jarum suntik.
“Tapi sebelumnya kau harus makan dulu.” Geliginya terpamerkan kala lelaki itu tersenyum lebar. Dibukanya tutup botol yang pertama ia dapatkan, dan seketika tercium aroma metanal.
Jarum itu menusuk permukaan kulit wanita yang rebah di dalam rengkuhannya, namun senyum si lelaki masih urung lesap. Kini, botol kedualah yang ia buka.
“Ini hadiah, Sayang. Kau akan nampak lebih cantik.” Jemarinya ia celupkan ke dalam cairan merah tua di dalam botol, lalu dipoleskan ke bibir gadis yang sedingin es.
“Lihat,” ujarnya penuh kepuasan. “Kau benar-benar cantik.” Dikecupnya bibir yang kini sewarna darah, kontras dengan warna kulit gadis itu yang pucat. Tanpa peduli yang disesapnya hanya rasa dingin yang konstan.
