Ada kebingungan heboh yang menelusupi dadamu ketika melihat dirinya keluar dari mobilnya di depan pagar kosmu, bersetelan resmi, celana dengan garis setrika lurus, dan sepatu yang sudah dipoles mengkilap.
Maka ketika ia menghampiri tempatmu berpijak, buru-buru kamu bertanya, “Eh, ini acara formal, ya? Kok busana lo gitu? Apa gue ganti baju dulu aja?”
Kamu sadar betul apa yang kamu kenakan saat itu. Busana andalanmu: kemeja kotak-kotak yang agak kebesaran yang melapisi baju kaos, celana jins dan sepatu sneakers.
“Nggak perlu. Udah, gitu aja juga nggak masalah,” paparnya sembari tersenyum. Ia mengajakmu ke mobil, membuka pintu buatmu dengan gestur formal.
“Lo bikin gue gugup, tahu nggak? Aneh, deh hari ini,” timpalmu. Dan ia hanya terbahak geli.
Tiga hari yang lalu, sebuah ajakan makan malam datang kepadamu dari laki-laki itu. Tak ada yang spesial, sebab kamu dan dia memang sering menghabiskan waktu bersama, dan dia adalah seorang sahabat yang sudah menemanimu sejak awal masa perkuliahan.
Namun entah kenapa kali ini kamu merasa cemas. Barangkali karena busananya yang tidak biasa-biasa. Barangkali karena tingkahnya yang tidak biasa-biasa. Tetapi kedua dugaanmu itu belum menjawab semuanya. Ada lagi yang aneh, entah apa.
Begitu mobil berhenti, kecemasanmu langsung memuncak. Kamu memandang nanar lokasimu kini.
“E-eh … kita bakal makan di sini?”
“Yup,” jawabnya, mengulas senyum sarat enigma.
Kamu melangkah di sisinya penuh keraguan, sebab sekitarmu sepi dan gesturnya lagi-lagi nampak aneh. Dengan senyum terkulum, ia menarik kursi di sebuah meja kosong, mempersilahkanmu duduk lalu duduk di kursi seberang.
“Kata lo ini acara seru-seruan? Kok sepi? Terus, kenapa juga di restoran mahal kaya gini? Dandanan lo juga … kenapa nggak kayak biasanya aja sih?” Gerutumu tumpah.
Ia memandangimu lekat-lekat. “Lo nggak suka, ya?”
“Ya …, bukannya nggak suka. Cuma ini nggak kayak biasanya. Lo nggak ngasih tahu dulu kita makan di mana kemaren, biar … ya, setidaknya gue nggak saltum gini.”
“Lo mau pake baju apa pun juga sama aja kali,” timpalnya.
“Rese’ ya lo?”
Ia terkekeh.
Usai derai tawanya reda, ia mengangkat tangan, memanggil pelayan.
“Mau makan apa?” tanyanya sembari menyodorkan buku menu.
“Lo pilihin aja, gih. Gue nggak ngerti makanan mahal.”
Usai menyampaikan pesanan kepada pelayan, sampai pelayan tiba mengantar pesanan, kalian diam sebab sibuk dalam kecamuk masing-masing. Sampai akhirnya ia memecah hening, dengan sebuah perintah, “Makan.”
Obrolan kalian selama sesi santap malam itu adalah hal-hal remeh: tentang dosen killer, tentang gosip yang beredar di kampus, tentang film yang baru saja kamu tonton. Namun, begitu makanan di atas meja tandas, ada sesuatu yang membikinmu bungkam dan tak kuasa mengeluarkan lelucon apapun.
“Tadi gue bilang, lo mau pake baju apapun sama, ‘kan?” Tanyanya.
“Iya, lo ‘kan rese’.”
“Sama cantiknya, maksud gue.” Nada suaranya yang itu membuatmu refleks menatap wajahnya. Namun pada saat itu juga, lampu padam.
Dan belum sempat dirimu menyemburkan protes, cahaya dari meja sekeliling yang muncul tiba-tiba membuat atensimu beralih. Lilin-lilin menyala di satu meja, disusul meja lainnya hingga kamu menyadari kalian dikelilingi oleh cahaya lilin.
“Ini candle light dinner?” tanyamu usai meredakan keterkejutanmu.
Alih-alih menjawab pertanyaanmu, ia malah menanyakan hal lain, “Menurut lo, lo itu apa buat gue?”
“Ya kita temen, ‘kan? Atau lo udah nggak mau jadi sohib gue?”
Ia tersenyum. Namun senyumnya di matamu nampak getir. “Lo itu kayak api di puncak-puncak lilin itu. Lo terangin jiwa gue, dengan ketawa lo, dengan omelan lo setiap hari, dengan makian lo saban hari ke gue ….” Ia memandangimu tepat di bola matamu. Membuatmu harus berusaha mengalihkan pandangan ke meja.
“Gue …, haus.”
“Agni,” sapanya lembut, “Bagi lo gue ini apa?”
Ada hening yang melanda udara sekitar. Yang membuatmu ingin berteriak keras, menumpahkan segala macam kecamuk emosi random yang entah sejak kapan ada di dalam dadamu. Mempertanyakan kenapa semua tak berjalan seperti biasa saja.
“Gue rasa pertanyaan lo nggak perlu dijawab.” Kamu mengatur napas, “Lo sahabat …”
” … ketika gue anggap lo itu api kecil?”
Kamu berujar dengan suara bergetar, “Plis. Di sekitaran lo banyak cahaya yang lebih berkilauan dan mempesona daripada api kecil itu.”
Dan sepertinya ia paham apa maksud perkataanmu. Karena berikutnya, ia mendesah, lalu tertawa sumbang. “Jadi bagi lo gue bukan apa-apa?”
“Siapa yang bilang lo bukan apa-apa? Lo sohib gue. Itu lebih berharga daripada sekadar apa-apa!”
“Terus, kalau gue sendiri memuja api kecil gue itu, apa yang lo puja?”
Seketika kamu paham maksud pernyataan dan pertanyaannya. Dan jawaban yang kamu tumpahkan adalah: “Lo itu sumbu buat gue. Tanpa lo, gue bukan apa-apa. Tapi gue ini pemuja kaca. Gue pengin seseorang yang bisa bikin api gue jadi nggak bahaya, sekaligus memprotek gue dari angin yang bisa bikin gue padam atau malah makin menggila.”
Ekspresinya tak bisa kamu gambarkan. Tapi matanya yang berkilauan diterpa cahaya lilin membuat segala kata tak bisa kamu ucapkan.
Ia tengah berkaca-kaca.
“Sorry,” ujarmu akhirnya. “Gue nggak mau ini jadi akhir persahabatan kita.”
Dan detik itu, kamu mengutuk keras suatu gelombang yang menciptakan dinding di antara kalian. Mengubah semua yang semula biasa-biasa, menjadi kecanggungan. Sebuah gelombang bernama ‘friendzone‘ yang tega mengambilnya dari sisimu yang nyaman.
Sejak saat itu. Ia berubah. Menjadi tidak biasa.
