An AstraFF Friendfiction, 2018
Cast: Faldio Delques, Kou Sosuke (yang lain hanya sebatas figuran)
Genre: Brothership(?)
Length: Oneshoot
Disclaimer: Karakter Faldio Delques dan Kou Sosuke adalah milik dinamo mereka masing-masing. Hamba hanyalah fan mereka.
Kamu boleh mengatakan aku terlalu paranoid, terlalu khayali, atau malah tolol sekalipun. Namun, aku berani bersumpah, dugaan bahwa ia membenciku itu benar adanya.
Pemikiran ini sungguh konyol sebetulnya, mengingat tak ada bukti konkret dan alasan kuat untuk bisa dibenci olehnya. Namun, percayalah. Seberapa liat pun aku mencoba berpikir positif, semesta akan terus menampakkan kemungkinan ini.
Aku tak pernah tahu apa kesalahanku. Aku tak punya sentimen pribadi dengannya, dan aku tidak pernah merasa melakukan kesalahan apa pun. Hanya saja, aku merasa dia bukanlah dia. Kupikir dia sudah berubah, menjelma menjadi sosok yang berbeda dengan Faldio yang dulu kukenal.
Faldio yang dulu pernah dekat denganku.
Waktu memang sungguh misterius. Ketika ia berpadu bersama jarak, maka ia akan menciptakan makhluk mengerikan bernama perubahan.
Tatapan mata peraknya menghunusku ketika untuk pertama kalinya kujejakkan kaki di ruang rapat AstraMagz; sebuah ruangan berpendingin yang penuh dengan jejeran kertas bagus maupun bekas, kalender besar bertanda deadline, dan sekoloni piranti jurnalistik lainnya. Empat orang lain, termasuk seorang staf pemilik majalah menyambutku dengan sangat ramah. Namun, mengapa dia tidak?
Padahal, bila dibandingkan dengan keempat oknum itu, aku lebih mengenalinya. Kami sama-sama lelaki di sini. Majalah bukan tempat perdana kami berjumpa. Aku pernah magang bersamanya dulu di sektor keamanan untuk beberapa bulan. Lantas, mengapa dia merasa berhak melihatku dengan tatapan sinis seperti itu?
“Yuhuuu~ Kowow, jadi kamu teh mau ngambil rubrik aposeh?”
Aku tersentak ketika suara itu membuyarkan lamunan. Ketika aku mengangkat wajah, kusaksikan empat pasang mata yang menatapku, menanti kepastian.
Astaga, apa yang kupikirkan di tengah rapat begini?
“Holaaa, Kowow?” Kali ini satu tangan sang pembina dengan penampilan modis melayang di depan mukaku.
Aku menggelengkan kepala. Berusaha agar fokus dan profesional pada pekerjaan.
“Ehm, iya. Saya punya usul satu rubrik baru. Jadi ….”
Rapat telah usai, namun tiada tanda-tanda akan kedatangan orang lain. Maka begitu semua orang beranjak dari kursi masing-masing, aku mencegat langkah Livana.
“Liv, Faldio nggak ikut rapat?” tanyaku.
“Faldio, kan, cuti.”
Aku terperanjat. “Ha? Cuti?”
Perempuan Thief mengangguk. “Iya. Kemarin dia mampir buat ngambil beberapa barang aja. Oh, duluan ya, Kek!”
Lalu tubuh Livana berlalu di liang pintu. Menyisakan aku dengan pemikiranku yang semakin kuat.
Faldio mengambil cuti ketika aku magang di sini. Bukankah itu berarti dugaanku tepat?
Sepertinya, Faldio memang sudah melupakanku, atau lebih parah lagi, malah betulan membenciku, sampai-sampai tak sudi bekerja bersamaku dalam gedung yang sama. Aku tersenyum pahit, lalu mendengus. Ringkik konstan pendingin ruangan terdengar seolah mengiyakan perkataan dalam kepala. Padahal dulu kami sempat dekat, ulang benakku, seolah kepingin membuatku semakin larut dalam lautan melankoli.
Aroma kafein dari kopi instan kuhirup dalam-dalam. Majalah sudah terbit semalam. Karyawan lainnya kini tengah mengambil istirahat, sejenak me-refresh diri dan otak dari ke-hectic-an luar biasa yang sempat menerjang selama beberapa hari ini. Aku masih bertahan di ruangan ini, di depan laptop, demi mengecek statistik dan respons pembaca.
Namun, kesunyian ini malah membuatku memikirkan Faldio.
Ini sudah terlalu lama sejak Faldio mengajukan cuti dan sejak aku menginjakkan kaki di sini. Aku heran pada Il–owner AstraMagz, yang masih mengizinkan karyawannya cuti selama berbulan-bulan. Sang tersangka utama tak kunjung menampakkan batang hidungnya lagi di tempat ini, sekadar menyapa atau memberi kabar.
Mungkin ini karena kehadiranku di sini. Dia memang sebenci itu kepadaku.
Kuteguk kopiku lagi ketika pintu terbuka tiba-tiba. Alih-alih melesak ke dalam kerongkongan, cairan hitam itu malah muncrat. Bukan terkuaknya pintu sekonyong-konyong yang paling membuatku terkejut, melainkan sang pelaku penguak benda itu.
Faldio Delques, berdiri di depan daun pintu dengan satu tangan terbelit gips.
“Fal?”
“Yo,” sapanya, sambil masuk. “Yang lain ke mana?”
Aku berdeham. Sejenak membersihkan tumpahan kopi di atas meja dengan sapu tangan. “Lagi rehat sebentar.”
Alisnya terangkat. “Oh, iya. Majalah baru terbit ya? Selamat.”
Aku mengangguk. Lalu ada hening beberapa menit. Kami berdua lelaki, tapi entah mengapa suasana jadi canggung seperti ini.
“Tangan kamu kenapa deh, Fal?”
“Kecelakaan.”
Aku tersentak. “Jadi, itu yang bikin kamu cuti selama ini?”
Faldio mengangguk. Tak bisa kupercaya bahwa kemudian dia terkekeh dan berkata, “Awalnya memang cuti karena pengin istirahat. Tapi ternyata selama cuti malah dikasih kecelakaan. Mungkin memang Tuhan mau ngasih masa istirahat lebih lama dibanding rencana semula.”
Mataku mengerjap. Faldio berbincang lebih dari satu kalimat kepadaku. Faldio yang ini? Ini sungguhan?
“Kakek sendiri apa kabar, nih? Magang di majalah enak, ‘kan?”
Hatiku menghangat, dan aku tertawa.
“Eiiiy, ya …, enak nggak enak. Enak karena memang ini beneran tempat buat berekspresi. Nggak enak karena pemiliknya galak,” candaku.
Lalu dia ikut tertawa.
Astaga. Sudah lama sekali kami tak pernah bertukar cerita seperti ini.
Mumpung sedang berdua dan ada kesempatan, sebaiknya kukonfirmasi saja. “Fal, saya mau nanya, deh.”
“Eum? Nanya apa, Kek?”
“Selama ini, kamu benci sama saya?”
Keningnya berkerut. “Kok bisa mikir begitu, Kek?”
Aku meringis. “Ya …, habis tingkahmu sama saya tuh kayak yang …, seolah kita nggak pernah temenan lagi, gitu.”
“Oh, I see ….” Ia mengelus dagu. “Sebetulnya iya, sempat. Tapi bukan karena nggak pengin temenan lagi. Cuma aku ngerasa, Kakek sekarang jauh banget. Apalagi sekarang udah punya geng.” Lalu terbahak. “Konyol memang. Tapi udah nggak, kok. Lupain aja.”
“Jadi kita nggak ada benci-bencian, ‘kan?”
Faldio menggeleng. Kemudian ia terkekeh sembari menonjok bahuku dengan tangannya yang sehat. “Nggak, lah.”
