The Real Farewell

Disclaimer: Semua tokoh kecuali Illama Han bukan milik hamba. Sebagian narasi bukan milik hamba, melainkan narasi roleplay dari Tim Vermouth.


Sudah menjadi hukum alam, bahwa benda mati tak dikarunai akal maupun perasaan. Kendati demikian, seiring kemajuan teknologi, upaya untuk menciptakan hal-hal mustahil terus dikerahkan. Alasannya banyak. Mulai dari membantu kehidupan, memajukan ilmu pengetahuan, atau sekadar menerabas selaput kemustahilan dan rasa penasaran.

Barangkali, itulah juga yang menjadi alasan terciptanya kecerdasan buatan.

Edentria memang sungguh fantastis. Kemajuan sains berjalan beriringan bersama kemajuan magis. Keduanya bekerja tanpa saling mendepak pamor satu sama lain, seolah memang porsi dan perannya sudah tersistem dengan rapi. Keklasikan berbalut modernisasi. Bombastis.

Di suatu pabrik yang sungguh sibuk dan penuh bunyi mesin, dua orang tua berjambang putih tersenyum puas memandangi karya terbaru yang barusan lahir beberapa menit silam. Gabungan kesekian dari magis dan sains, kolaborasi seorang ilmuwan pemilik pabrik dan ahli sihir pulau surgawi.

“Dengan artificial intelligence buatanku, mereka bisa menganalisis semua yang terjadi dengan mengikuti pola pikir makhluk yang memorinya dimasukkan.”

“Bagus. Dan dengan sentuhanku, dia akan memiliki wujud seperti orang yang sidik jarinya mengenai tombol ini. Kekuatan itu akan bertahan sampai tombolnya kembali ditekan.”

“Bagaimana bila benda ini dimanfaatkan untuk pengganti sosok yang sudah mati?”

Dia menggeleng tegas. Tatapannya pasti. “Benda ini akan kembali menjadi bentuk semula, begitu jantung sosok yang asli tak lagi berdetak.”

Maka, pasar mempromosikan boneka-boneka pengganti dengan tujuan mulia. Permintaan bertambah, produksi kian meningkat. Kebanyakan dari kalangan yang tak punya kuasa mengkloningkan diri dengan sihir tingkat tinggi. Makhluk hidup bahagia.

Choi Runako jelas bukan orang yang akan luput dari pengiriman kreasi baru. Benda-benda itu jelas akan sangat membantu, bila ada misi atau hal mendesak yang memerlukan kloning siswa-siswi.


Save the City 4 di depan mata. Pendaftaran mengunggut antusiasme yang sungguh gila. The power of reward. Lelaki hemofagus bahkan harus menyeleksi ketat siapa yang akan menjadi pejuang yang menoreh sejarah. Dia tahu bahwa siswa-siswinya memang punya kemampuan dan kemauan mencengangkan, tapi kuota tetaplah kuota.

Daftar nama pejuang dipublikasikan. Anak-anak terpilih berdebar dalam antusiasme dan harap-harap cemas. Sisanya mendesah kecewa, berharap bakal terpilih dalam misi kemudian.

Di sinilah boneka pengganti akan berperan, menjadi pengganti sosok-sosok yang masih memiliki kepentingan di akademi selama masa bakti dalam misi. Menggantikan magang, menggantikan urusan akademi, ikut kelas dan semacamnya, sebab kekuatan adiluhung semacam teleportasi tak diizinkan eksis kecuali bagi mereka yang terpilih.

Boneka pengganti tak pernah punya nama resmi. Dia akan menjadi aku, kamu, dia atau siapa-siapa, tergantung nama orang yang memencet tombol di hidung. Dia tak pernah punya memori abadi. Semua ingatan semasa jadi kamu akan lenyap begitu kamu kembali memencet hidung. Tiada tanda yang membedakan boneka pengganti yang satu dengan yang lainnya. Tiada nomer seri, nama pabrikan atau julukan. Boneka pengganti hanya boneka pengganti.

Salah satu boneka pengganti sudah beralih wujud jadi manusia, yang mirip sekali dengan sosok di hadapannya. Dengan helai kain yang menempel di kepala, busana terusan yang melekati tubuh, juga garis muka yang senantiasa menampakkan ketenangan.

“Halo, saya Illama. Mulai saat ini, kamu juga Illama.”

Akhirnya ia punya nama lagi setelah … entah berapa lama. Tak ada yang tersisa tentang kopiannya sebelum ia tiba di tangan Illama. Setelah memori dimasukkan ke kepalanya, yang dia tahu hanyalah dia adalah Illama Han, siswi Blossom yang saat ini tak magang di mana-mana.

Ini pertemuan pertama dia dengan Illama asli. Namun, berkat memori, dia merasa sungguh mengenalnya lebih dari siapa pun di dunia ini.

“Baik, Asli!” sahutnya sembari tersenyum.

Di kepalanya tersimpan begitu banyak kenangan. Dalam keheningan dan kesenduan kamar pasca ditinggal sang pemilik asli, salinan Illama menekurinya satu per satu. Ada adegan Illama tertawa, maka dia juga turut terbahak. Saat adegan Illama merasa marah, dia juga ikutan marah. Lalu ada adegan di tumpukan paling atas, warnanya kelabu muda, umurnya baru beberapa jam, yang membuatnya trenyuh.

Adegan di mana Illama berpamitan kepada ibunya semalam.

Illama kopian menyusut airmata dalam diam. Gelas teh di depan mata dia sesap dua teguk demi menenangkan perasaan. Sesosok boneka pengganti jelas tak dikaruniai perasaan. Mungkin ini efek memori Illama yang melekat di kepalanya.

Memori itu pula, yang membuat ia menyadari bahwa sebelumnya, Illama sudah menduga, ia tidak akan pernah pulang ke akademi.


Status Knight:

Vodka
Reshma Jung (Low)
Lilly Eleanore (Lose)
Zenatha Hazel (Lose)
Kim Jonghee (Fit)
Kou Sosuke (Fit)

Tequila
Vlaureeta Fleurs (Low)
Choi Jiyu (Lose)
Arene Rin (Fit)
Faldio Delques (Lose)
Yuki Kuzuma (Low)

Vermouth
Aleris Chiaki (Low)
Illama Han (Lose)
Pur Nama (Low)
Candy Daisy (Low)
Logan Herondale (Fit)

Akademi berduka. Satu pengumuman memenuhi layar mading digital di menara tua gedung utama. Menjelaskan siapa-siapa Knight yang masih bertahan, maupun yang terkena serangan parah.

Boneka pengganti Illama menyusut hidung. Nyata adanya misteri ini.


Di arena pertempuran …

Asap dan debu hasil tempur semalam masih menyelimuti angkasa jelaga. Medan yang semula adalah wilayah berpepohonan kini bersisa ladang tandus dengan deret-deret mayat bergelimpangan. Belum ada serangan lagi. Waktu yang ada dimanfaatkan untuk memulihkan diri.

Pendar mentari bergolak di sepanjang cakrawala yang menaungi perkemahan para Knight. Terbangun dengan status yang sama sedikit membuat makhluk astral khawatir pada semua rekan. Terlebih pada gadis manusia penghuni asrama bunga sakura.

“Kak, kak Illama bisa dengar Candy?” Dengus lelah, kian membuatnya gelisah. “Huwe … Kita perlu bantuan, Teman-teman.”

Aleris Chiaki, teman sekamar, meremat jemari Illama, menyalahkan diri sendiri yang semalam tak dapat berbuat banyak karena kondisi, hingga rekan seasramanya itu terluka parah.

Begitu pun Logan. Ada perasaan tak menyenangkan, ketika mengetahui kalau rekan seperjuangan terluka. Rasanya, dia sebagai ketua kelompok yang tak becus melindungi anggota.

“Illama, maaf. Candy, bisa perban lukanya Illama?” Bukan Logan tak mau mengobati, tapi setahu pemuda Diamond, Illama selalu enggan disentuh makhluk adam.

Sebab pertempuran melawan koloni Arachnida melumat habis sihir, menyisakan sisa tenaga untuk senantiasa waspada. Belum sempat sang makhkuk astral menyentuh permukaan kulit hawa yang tak sadarkan diri, telinganya kadung berdiri. Menamat pada segala bunyi yang teringkus indera. Berikut kedatangan sosok–entah siapa, dengan jejak langkah asing yang perlahan-lahan melangkah menuju tenda mereka.

“Ada … ada yang datang!”

Musuh di siang hari begini? Makhluk astral menegakkan punggung. Menyiapkan pistol dengan genggaman payah.

Postur kekar dengan bahu bidang, sebilah pedang terselip pada pinggang. Sorot mata Candy dilarikan pada seluruh kawanan, bibirnya gemetar, bukan karena ketakutan. Namun keingintahuan yang membucah pikiran.

Sebelum satu pertanyaan Candy laungkan, tombak Purnama sudah terlebih dahulu mengayun ke arah tamu. Sayang seribu sayang, sepertinya si pelawat buka orang sembarangan. Dengan mudah, ayunan tombak terelak begitu saja. Tombak Purnama jatuh ke lantai.

“Ha-hallohai. Bapak ini … Maaf … Anda siapa, ya?” tanya Candy, pada akhirnya. Tampak tak bersahabat, tapi dalam sanubari seolah Candy meyakini beliau bukanlah musuh yang harus dibasmi.

Lelaki itu meneliti satu per satu entitas di depan mata, lalu mendesah. “Maaf. Maafkan saya. Saya adalah pemimpin wilayah ini.” Kembali, atensi sewarna jelaga menyapu situasi. “Terima kasih sudah berjuang begitu keras. Kalian pasti memerlukan healing.”

Predikat low tersandang, tentunya sihir healing hanya mampu menghilangkan goresan pada punggung tangan hawa lembut berseragam serba hitam yang terkulai. Dan sesuai titah Ketua mereka, mengenakan perban yang menjadi bekal, makhluk astral membalut sisa-sisa luka yang tertangkap mata.

Kembali kepada sang pemimpin wilayah. Hm. Sultah kah?

“Kok nggak sopan, sih? Datang-datang begitu?” serang Pur Nama, berang.

“Tidak apa, Mba Pur.” Tutur Candy ngeri, kalau-kalau beliau tersinggung. “Maafkan, kelancangan kami, Tuan Sultan. Tapi … sepertinya kami benar-benar butuh bantuan seorang penyembuh saat ini–”

Logan menyela, “Kalau Anda betulan Sultan, tunjukan lencana anda.”

Sosok dengan jambang tipis di sekitar dagu mengangguk, memahami pernyataan setengah permohonan Candy Daisy. Namun sebelum mengurai kalimat, beliau mempersembahkan sebuah tatto luhur yang tersingkap dari balik pergelangan tangan.

Berwarna violet pudar sementara bentuknya melingkar, mengingatkan pada karakter bendera yang terbakar ketika sedari mula kawanan Vermouth memasuki kota.

“Saya harap ini bukti yang cukup. Dan …,” Lelaki itu menjentikkan jemari. Bayu berhembus halus selepas beliau menghaturkan tiga buah kurma.

Kurma?

Tim Vermouth tersisa menelengkan kepala. Bingung, namun sang ketua kelompok menggamit satu untuk dirinya, kemudian membagikan masing-masing untuk Aleris, Candy dan Pur Nama.

“Makanlah, agar kalian pulih.” Sejenak mengestimasi satu-satunya lelaki dalam tenda selain dirinya. “Kau nampak sehat, jagalah rekan berhijabmu.” Jeda satu hela napas mengudara. “Kurma samara tidak bisa memulihkannya.”

Adam berkacamata mengangguk setuju, rasanya ia ingin misi cepat selesai dan membawa Illama ke Rumah Sakit Salvatore. “Yang penting lukanya dibalut dulu,” tuturnya.

Menanggalkan segala kecurigaan, akhirnya Candy turut menelan buah manis berkhasiat ajaib. Begitu kunyahan terakhir berakhir meluntur, dirasakannya sensasi nyaman. Kepala pening menghilang, sosok transparan tak lagi merasa berat untuk melayang-layang. Dan yang paling mengagumkan cahaya terang terakumulasi ketika dia mengaktifkan sihir healing melalui tangan kanan.

“Tuan Sultan. Terimakasih banyak!” Cengiran terurai, segera saja makhluk astral memusatkan pikiran demi menyembuhkan luka-luka yang diderita Illama. Kemilau lentera bolak balik menyinari fasad gadis asrama bunga sakura. Candy Daisy berusaha semampunya.

Sang Sultan pun enggan ketinggalan. Dengan sihir healing ia turut membantu usaha sang hantu Sunrise. Pendar dua warna berbeda mengelilingi kamp. Doa-doa dari rekan melayang …

Meski hanya sedikit, pulihlah. Bangunlah. Bukalah mata.

Namun, yang dinanti tak kunjung menampakkan pertanda kehidupan. Detak jantung kian melemah. Sang sultan tahu bahwa makhluk bertudung sudah berpulang.

“Dia …,” lirihnya. “Sudah tiada.”


Kamar nomor 1 asrama Blossom lengang. Cangkir teh di meja dekat jendela masih mengepulkan uap. Sosok yang beberapa menit silam bersemayam di kursi itu kini lenyap. Menyisakan satu boneka kecil yang tergeletak di atasnya. Tak akan ada memori lagi yang tersisa seputar kejadian beberapa hari ini. Semuanya lesap, terbang bersama satu jiwa yang membawanya pulang.

in the arms of the angel
fly away from here
from this dark cold hotel room
and the endlessness that you fear
you are pulled from the wreckage
of your silent reverie
you’re in the arms of the angel
may you find some comfort here
you’re in the arms of the angel
may you find some comfort here

2 respons untuk ‘The Real Farewell

Tinggalkan komentar