No Connection

1009 kata

Suara langkah kaki berderap di atas lantai parket. Berdasarkan pendengaranku, pemilik kaki itu sedang menaiki tangga, terus berbelok, menuju kamarku.

Kiamat akan sampai dalam hitungan tiga … dua–

“BRAK!”

“Ranti!”

Aku pura-pura tidak bergerak dalam selimut yang menutupi seluruh tubuh dari ujung kaki sampai kepala. Kurasakan tarikan dengan kekuatan penuh yang langsung membuka selimut dan melemparkan benda itu ke bawah lantai. Aku mau kaget, takjub, tapi tidak jadi karena itu bisa membuat ibu tahu bahwa putrinya ini sudah membuka mata dari tadi namun terlalu malas berpisah dengan ranjang yang kucintai.

Untuk memperjelas aktingku, aku pura-pura menggeliat dan mengucek mata. “Eung …, jam berapa ya, Bu?”

“Eng-ing-eng-ing.” Bisa kurasakan kalau ibu tengah emosi sekarang. “Cepat bangun dan cuci piring sana!”

Ibu memberi bonus yang tak pernah kuprediksikan: tamparan di bokong dan betis berkali-kali. Bukan pakai tangan, tapi dengan sapu lidi yang biasanya kugunakan untuk menebas debu dari seprai. Aku merintih, bangun dengan gesit sambil minta ampun.

“Iya, Bu. Aku bangun ini huhu. Sakit ….”

Piring-piring steril dengan kekuatan tangan suciku. Ayah dan Randy–adikku sudah bersungut-sungut karena prosesi sarapan pagi jadi tertunda akibat kemalasanku mencuci piring sehabis makan malam.

“Pemalas. Kamu itu kerjanya setiap hari cuma main HP atau main laptop. Kenapa buat nyuci piring malam aja nggak bisa? Waktumu sebegitu berharganya kah, eh?” kata Ayah.

Iya, waktuku terlalu berharga, Yah. Lagipula, aku nggak merasa begitu perlu mencuci piring tadi malam kalau pagi ini hari Minggu. Setidaknya kan, sarapan pagi kalian bisa diundur setengah atau satu jam, toh kalian tidak punya keharusan pergi ke kantor atau bersekolah tanpa terlambat.

Mulutku tetap bungkam meskipun otakku sudah membela diri. Kalau aku berani menyuarakan deretan kalimat itu, bisa-bisa piring-piring, gelas, kursi bahkan meja makan langsung melayang ke kepalaku.

“Kamu itu perempuan, Ranti.” Suara ayah kedengaran lagi. Kali ini lebih lunak, mungkin karena perutnya sudah terisi ikan bakar buatan ibu. “Harusnya kamu punya kesadaran untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Lagipula, selama sehari penuh kerjamu cuma natap layar. Apa susahnya sih, bantu ibumu sedikit aja?”

Ibu menambahi, “Ceramahi terus dia, Yah. Ibu tuh udah capek ya dengar omongan tetangga. Anak gadis udah bangkotan, udah sarjana, tapi sampai sekarang belum dapat kerja. Mending kalau ada usaha buat nyari, ini nggak ada! Disuruh nikah juga ngeyel, alasannya banyak! Mau terus jadi manusia nggak berguna dengan nengokin layar HP dan laptop melulu!”

“Tahu tuh, Yah. Aku nggak pernah lihat Mbak Anti ngelepas ponsel kecuali kalau lagi tidur. Bahkan ke kamar mandi aja dibawa.”

Aku berhenti mengunyah. Kulayangkan pandangan yang paling mengerikan ke arah bocah SMP yang lahir dari rahim yang sama denganku. Bocah kampret. Kenapa aku harus dikutuk dapat adik macam dia, sih?

“Benar begitu?”

Aku menunduk. Ogah menjawab.

“Ayah akan matikan wifi di rumah ini sampai kamu tobat!”

Mataku nyalang menatap ayah. Bukan cuma aku, Randy juga. Berbeda denganku yang cuma berani melotot, Randy lancang bersuara.

“Kok wifi sih yang dimatiin? Nanti aku nggak bisa kerja pe-er dong, Yah!” protesnya.

“Untuk Randy nanti Ayah kasih uang tambahan untuk beli kuota ekstra. Tapi kamu,” Telunjuk ayah mengarah kepadaku. “Tidak akan.”

Aku menggeser kursi dengan kasar. Napasku sesak karena kesal. Kutinggalkan sisa makananku, ayah yang berteriak, dan Randy yang mencemooh untuk naik ke kamar. Dengan punggung yang menempel di pintu yang terkunci, aku menangis.

Ini keterlaluan.

Kenapa semua jadi tanggung jawabku? Kenapa aku harus cari kerja kantoran, menikah, dan mencuci piring? Karena aku anak pertama? Karena aku sudah sarjana? Karena aku anak perempuan satu-satunya?

Kalau aku tahu hidupku akan begini, sewaktu masih berada di dalam kandungan, aku mending memilih tidak dilahirkan.

Kenapa aku harus lahir, sih?

“Ranti! Jangan lupa cuci piringnya!”

Kuusap air mataku dengan gusar.


Aku merogoh dompet namun tertegun kala mengecek isinya. Di dalamnya hanya tersisa satu lembar uang berwarna merah dengan gambar dua proklamator. Aku mengalkulasi hidup dan kebutuhanku, lalu urung mencomot lembar itu.

Kusambar jaket dan membuka pintu, mendapati ayah, Randy dan ibu yang asyik menonton televisi tanpa menyadari eksistensiku. Kuraih helm beserta kunci motor yang tergantung.

“Mau ke mana?” tanya ibu.

“Rumah temen.”

“Eh, Mbak. Mau pakai Beat? Bensinnya habis, lho.”

Aku melotot tidak percaya pada Randy yang baru saja mengatakan kalimat itu. Seingatku baru kemarin aku mengisi bensin di motor itu sebelum dia pinjam untuk pergi ke sekolah. Di lidahku sudah tergantung semua kata makian dari A sampai Z dalam berbagai bahasa yang kutahu tapi aku hanya diam karena melihat ayah yang melirikku. Aku mendengus. Lalu keluar tanpa berkata apa-apa lagi.

Seusai mendorong motor ke kios depan gang untuk mengisi bensin, aku tancap gas ke ATM. Menarik uang secukupnya demi kepentingan pengisian kuota. Aku jelas memerlukan kuota untuk segala transaksi pengiriman cerpen-cerpen dan artikelku. Setelah itu, barulah aku mengarah ke rumah Tania, temanku yang sekarang bekerja sebagai guru.

Satu gelas teh dan biskuit disuguhkan selagi aku curhat tentang kondisiku. Tania hanya diam mendengarku berkisah, sesekali menimpali dengan gumaman di tengah cerita.

“Capek aku tuh. Dibeda-bedain sama kamu lah, sama Astri lah, sama anu lah. Katro banget sih jadi orang tua. Emang kerja tuh harus di kantor? Mentang-mentang aku nih sarjana ekonomi, aku harus menghasilkan banyak uang?”

“Kamu udah cerita sama mereka kalau kamu juga online itu buat kerja?”

“Udah.” Aku mendengus. “Tapi mereka mana ngerti? Bagi mereka, aku lihat layar HP atau laptop itu buat nonton atau main game. Dikira aku si Randy kali, ya?! Malah bocah kampret itu kalau nengok ponsel boleh-boleh aja, tuh!”

“Kamu kan udah dewasa, Ti. Wajar kalau orang tua kamu lebih memaklumi tingkah Randy.”

“Nggak bisa gitu, dong. Aku toh nggak pernah minat buat jadi dewasa kalau dibebani banyak tuntutan begini. Mesti kerja kantoran lah. Mesti nikah sama orang kaya lah. Mesti ngurusin rumah lah. Mesti–banyak banget sampai aku capek sendiri.” Aku mengambil napas sejenak. “Harusnya nih ya, kalau mereka anggap aku udah dewasa, aku dibiarin bebas mau kerja apa aja. Giliran aku kerja malah dibilang main game atau nonton.”

Tania mengelus pundakku, tapi aku akui itu sama sekali nggak berpengaruh sama emosiku. Ah, aku bisa beralih mode dari online ke offline dalam hidup ini semudah aku mengaktifkan dan menghidupkan wifi atau layanan data, aku sudah melakukannya sesering mungkin. Aku kepingin lari dari hidup yang menyebalkan begini.

Tinggalkan komentar