Dear, Abang Melalui apa yang terjadi pada suatu malam, saya punya spekulasi bahwa ada suatu hubungan yang mengikat kita berdua dalam satu simpul yang erat. Bersama-sama, kita bisa memberinya nama. Simpul love-hate, mungkin? Mulanya, saya pikir kamu membenci saya, karena selama ini terus-menerus meneror saya dengan aura yang mengintimidasi dan membuat saya masuk ke dalam … Lanjutkan membaca Kepada: (Kel)Abang
Ki Jae Myung dalam Pinocchio, berkata,
Ini menarik. Tergantung pada bagaimana sesuatu diedit, seseorang bisa menjadi iblis atau seorang pahlawan.
Matahari dan Bulan
Kamu ibaratnya matahari, dan dia rembulan. Pendarnya tidak akan kelihatan, jika kalian bersama. Apa yang tampak darinya adalah pantulan energimu saja. Sedangkan kamu, masih bisa bersinar, ada atau tidaknya dia. Agar hubungan kalian berdua tak saling merugikan, sebaiknya kalian saling berjauhan. Kamu dengan siangmu, dan ia dengan malamnya. Kemudian, kamu bisa senang bersinar terang, dan … Lanjutkan membaca Matahari dan Bulan
Selamat Pulang
Kuucap selamat pulang, kepada dedaun gugur di musim kemarau panjang, yang terkena libasan bayu kencang tak berhati; tiada bernurani. Padahal, reranting itu tempatmu tumbuh, Sayang. Dear, selamat pulang. Bila sudah kau temukan tempatmu di sana, jangan lupa hantarkan kabar padaku. Boleh lewat angin, atau lewat tetesan hujan yang entah kapan turunnya.
Semoga, akhirnya
Engkau adalah hibrida dari doa dan pengharapan, yang berawal dari mimpi dan angan. Kemudian, kujejalkan engkau dalam lafal romantis antara aku dan Pemilikku, pada penghujung malam yang dingin dan sunyi. Barangkali, peluh tak akan selalu menjelma tawa. Ada kalanya ia hanya bermuara pada sesal tiada tara. Namun, aku percaya, di akhir masa ia berbuah pahala … Lanjutkan membaca Semoga, akhirnya
Kadang, ketidakmampuan kita menyikapi terang itu lebih bahaya. Cahaya kerap membuat jumawa.
Haibara Ai, dalam Detektif Conan, berkata
Manusia punya emosi. Atribut menyusahkan yang tak terlihat, tapi juga mudah berubah. Kalau ada persahabatan dan cinta, itu akan jadi menyenangkan. Tapi kalau suatu hal mengubahnya menjadi dendam dan kebencian, itu bisa memancarkan pikiran untuk membunuh.
"Maaf belum bisa mencintai diriku sebanyak Engkau mencintaiku," ujar seorang hamba kepada Penciptanya.
Sejatinya musuh begitu lekat hingga tak terlihat. Begitu kuat namun tidak tersurat. Bergemuruh tetapi seolah luruh. Begitu ilusif tanpa bersikap agresif. Carilah ia, di dalam diri.
Isn't it kinda ironic that some people who said "No one should judge ones are right and ones are wrong" are actually judging others opinion and way of thinking?

Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.