Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Ayo mulai

Malapetaka Malaikat

Sejak ditinggal ibunya pergi melanjutkan kehidupan di  bawah tanah dan alam lain yang kekal, Mala kehilangan semangat hidupnya sendiri. Ibunya adalah tonggak yang menahannya agar tidak jatuh. Kini, usai tonggak itu lenyap, Mala pun ambruk jadi mayat hidup.

Kamar menjadi tempatnya mendekam sepanjang hari, membaca buku yang berulang kali dibaca selama bertahun-tahun, atau duduk memeluk lutut di atas ranjang, memandang satu titik imajiner di udara. Titik yang bagaikan portal bagi pikirannya untuk melesat jauh, menembus ruang dan waktu, mengenang kebersamaannya dengan sang ibu dan saudara-saudaranya yang dahulu meramaikan rumah itu.

Makan, buang air, mandi, adalah rutinitas lain. Ia akan makan jika jam dinding di kamar sudah masuk pukul delapan pagi, dua belas siang, dan tujuh malam. Mandi jika sudah pukul tiga. Buang air jika mendesak. Lainnya didasarkan pada komando kakak iparnya yang mengambil alih tanggung jawab pengasuhan atasnya, sejak ia menyandang status yatim-piatu.

“Mal, sini, makan dulu. Ada sate sama rendang, nih.” Diana, kakak iparnya, melongok dari balik pintu kamar. Baru pulang dari acara tasyakuran tetangga, lima rumah dari kediaman mereka.

Mala sudah mengisi perutnya tadi dengan sayur sisa makan siang. Namun, ia tetap bangkit, tertatih-tatih melangkah. Polio telah menyerap kendali penuh untuk berjalan sejak balita. Penderitaan ekstra baginya di samping epilepsi yang tak mendapat penanganan semestinya sedari dini. Waktu-waktu kumatnya saat SD sampai SMP justru disangka fenomena kerusupan, yang perlu disembuhkan dengan tebasan batang kelor ke tubuh beserta rapalan ayat suci.

Obat-obatan baru masuk dalam hidupnya saat usianya masuk kepala dua. Waktu yang cukup terlambat bagi penanggulangan penyakit syaraf. Itu pun diberhentikan sejak tiga tahun lalu oleh Mala sendiri. Sebab, baginya semua itu percuma. Sokongan obat tidak lantas mengurangi intensitas kekumatan. Cukuplah benjol kepalanya, rontok giginya, patah hidungnya, remuk tulangnya. Tak perlu ada derita ekstra dengan ancaman penyakit ginjal di kemudian hari.

Mala yakin, semua ini datang dari namanya. Mala yang diniatkan ayah dan ibunya bagi Mala untuk menjadi malaikat, justru keliru terbaca alam sebagai malapetaka.

Ruang makan sudah sepi kala ia tiba. Biasanya memang sunyi. Bang Hanung, kakak pertamanya, lebih senang menghabiskan waktu di kios bersama keluarga intinya. Melayani orang-orang, menonton televisi, dan bercengkrama akan topik yang tidak pernah Mala mengerti. Poin terakhir lah alasan urama yang menarik Mala beringsut mundur dari kehidupan mereka. Sebab merasa sepi di tengah keramaian adalah hal yang paling menyedihkan.

Rendang tinggal sepotong bersama bumbu-bumbu. Sate tinggal dua tusuk bersama bumbu-bumbu. Mala gabungkan semuanya dalam satu piring, menyantapnya dalam hening. Sayup-sayup terdengar suara tawa Bang Hanung, Kak Diana, dan kedua keponakannya.

Sepotong daging yang meluncur ke kerongkongan malah terasa bagai bongkah paria. Seperti biasa, rasa pahitnya datang dari kerinduan akan masa lalu: akan saudara-saudaranya semasa kecil, juga ibunya.


Tiga hari belakangan, Mala merasa kepalanya gatal-gatal. Rasa gatal yang berbeda dari yang ia wajari selama ini, yang timbul dari uban yang mulai memenuhi kepala. Ini rasa gatal yang mengingatkannya akan masa-masa silam; masa kanak-kanak.

Maka berdirilah ia di depan cermin. Pandangan yang mulai memudar dilahap usia dan stres ia fokuskan menatap pantulan di depan mata. Namun, tiada yang ia dapatkan selain keburaman. Mala frustrasi. Mau tidak mau, ia harus membeli benda itu.

Dibukanya lemari. Merogoh-rogoh sisa uang bulanan dari bawah lipatan pakaian. Setiap bulan, Bang Hanung memberinya lima puluh ribu rupiah yang cukup untuknya membeli kebutuhan bulanan seperti sampo sachet, pembalut, dan lain-lain. Sisanya masih bisa dipakai memasok biskuit sebagai camilan untuk menemaninya membaca buku atau melamun.

Tertatih-tatih, Mala membawa dirinya ke kios. Ada pintu yang menghubungkan kios dengan ruang tamu, yang selalu terbuka, tapi selalu pula terhalang tirai. Mala menyibaknya.

Tiara, keponakannya yang paling tua, melemparkan atensi dari layar laptop kepadanya dengan alis terangkat. Gestur non-verbal dari kalimat, ‘Beli apa?’, karena Mala hanya akan muncul di sana kalau mau membeli sesuatu.

“Ada sisir kutu?” tanya Mala dari mulut pintu.

Kak Diana yang sedang mengobrol dengan Dewi—adik Kak Diana yang bekerja sebagai perawat di rumah sakit, bergegas bangkit dari bangku.

“Ada,” katanya. Ia bangkit menuju etalase demi benda yang Mala cari. “Enam ribu.”

Mala menatap uang di tangannya, ragu. Ia hanya punya lima ribu rupiah.

Kak Diana yang sepertinya bisa menebak kegamangan Mala, bersuara, “Tidak apa. Ini, kasih lima ribu saja.”

Mala menggumamkan terima kasih yang lirih. Menyodorkan uang di tangan pada Kak Diana, menukarnya dengan sisir kutu. Sempat ia lemparkan senyum pada Dewi yang membalas dengan kaku, sebelum Mala kembali ke kamarnya.

Pautan usia antara Mala dan Bang Hanung cuma empat tahun. Dengan Kak Diana, cuma tiga tahun. Mala jauh lebih tua ketimbang Dewi. Sewajarnya, di usianya yang sekarang, Mala sudah punya anak yang mungkin sudah sekolah atau tamat sekolah. Namun, keadaan memaksanya untuk tidak menjalani hidup sewajarnya.

Di dalam kamar, Mala mulai beraksi. Duduk bersila di lantai, menunduk dengan rambut tergerai ke depan wajah. Membiarkan makhluk-makhluk yang diduga menjadi penyebab rasa gatal yang tak nyaman di kepala, jatuh didorong sisir dan ditarik gravitasi.

Mata Mala berbinar. Aha! Satu jatuh.

Mala menyisir lagi. Dua. Tiga. Empat… Pantas saja rasa gatalnya biadab sekali. Tangannya sibuk memencet dengan gemas satu per satu makhluk kecil yang berkeriapan di tegel sewarna susu.

“Mati kalian, parasit! Beraninya tinggal di kepala dan menyerap darah orang!”


Berkat kehadiran kutu-kutu di kepala, Mala mulai rajin keramas. Persediaan sampo sachet yang ia stok lebih banyak daripada biasanya. Namun, dinginnya udara Januari sekarang membuatnya takut keramas karena takut kumat.

Dalam sepekan ini, ia sudah jatuh dua kali. Tak satu pun adegan tertangkap kesadarannya kecuali merasa pusing, sebelum gelap menginvasi. Yang ia tahu hanya nyeri yang memukul-mukul sepenjuru tubuh begitu gelap itu sirna oleh pandangan yang perlahan-lahan terfokus kembali pada dunia nyata.

Insiden yang paling terakhir baru saja terjadi setengah jam lalu. Padahal hidungnya yang bengkok karena insiden kumat tiga hari lalu, belum juga sembuh sakitnya. 

Sewaktu kesadarannya mulai pulih, Mala mendapati diri terbaring di atas kasurnya. Bau minyak kayu putih kuat menyengat pada indera penciuman. Ingatan teranyar membawakannya kilas pendek bagaimana Kak Diana menahannya sebelum ambruk mencium lantai.

Sembari bertanya-tanya bagaimana caranya Kak Diana yang kurus kecil itu membawanya ke tempat tidur, ia mengubah posisinya jadi duduk.

Tepat saat itu, Kak Diana masuk. Menawarkannya segelas air hangat juga gosokan kayu putih lagi di dekat leher.

Menahan mual dan muak yang rutin bertandang akibat bosan menghirup aroma yang sama untuk ribuan kalinya, Mala tenggak isi gelas itu. Membiarkan aliran hangat membasahi kerongkongannya yang kering dan bersiap mengucurkan lumatan makan pagi. 

“Jangan duduk di kursi lagi, deh. Takutnya nanti kamu jatuh lagi. Untung saja tadi ada aku sama Krishna. Kalau tidak, kamu sudah ambruk. Benjol lagi nanti kepalamu.”

Rupanya, Kak Diana dibantu keponakan laki-lakinya yang membopong tubuh padat Mala ke kasur. Kepadanya, Mala gumamkan kata maaf dan terima kasih yang tulus dan agak kaku. Tahunan mengenal kakak iparnya, kecanggungan masih belum juga mampu hengkang.

Kak Diana lalu bangkit. Menepuk pundaknya sepintas. “Ya sudah. Isirahat dulu. Belum makan, ‘kan? Jangan lupa makan, ya…” Suara itu meredup seiring tubuhnya yang menjauh dari pintu.

Kesendirian kembali membuat Mala melamun. Seolah memberinya perkenan untuk memanfaatkan secuil ketenangan dan keheningan dari kamarnya demi mendamaikan kerusuhan dalam benak.

Kepalanya mendongak. Lalu tatapannya jatuh pertama kali pada langit-langit yang bebas dari laba-laba pun sarangnya. Kakak iparnya rajin membersihkan rumah, termasuk kamar Mala. Suatu fakta yang lagi-lagi, membuat Mala menyesali diri: betapa ia amat merepotkan kakak iparnya.

Untuk kesekian kalinya, lirih, ia bertanya pada udara, ‘Kenapa aku tidak mati saja?’

Sebab, segalanya akan lebih mudah jika ia mati. Akan tetapi, Mala tidak punya cukup pengetahuan dan keberanian untuk mengakhiri hidup sendiri. Hampir setiap pagi, ia membuka mata dan menunggu Tuhan mencabut nyawanya secara alami. Sayang, penjemputan yang dinanti tidak kunjung tiba. Entah apa yang menahan tangan Tuhan untuk mengabulkan permohonan yang satu itu.

Derit kasur memecahkan keheningan kala Mala beringsut. Teringat akan bukunya, kaki telanjangnya mengarah ke ruang tamu. Benda itu masih ada di atas meja, di depan sofa, tempat di mana ia kumat tadi.

Namun, tangan Mala yang mau menjemput buku tahu-tahu terhenti di udara. Ada suara-suara sengit dalam pekik tertahan, tapi cukup bisa didengarnya dari balik tirai.

“… dia juga menderita.” Suara Bang Hanung.

“Ini bisa membantu menghilangkan penderitaannya, Mas.” Suara Kak Diana.

“Tapi kita bukan Tuhan yang punya hak mencabut nyawa orang.”

Meski syaraf-syarafnya tidak berfungsi optimal, Mala masih bisa mengerti bahwa mencuri dengar adalah perbuatan yang tidak terpuji. Ia baru saja akan beranjak kalau tidak menangkap obrolan lanjutan.

“Kalau Tuhan berkehendak, Mala tidak akan mati sekalipun kita berusaha. Kamu percaya itu, ‘kan?”

Langkahnya terhenti. Namanya yang disebutkan di sana cukup memberi Mala kejelasan bahwa dirinyalah topik percakapan.

“Tapi, membunuh itu dosa, Diana.”

“Dosanya aku yang tanggung. Ini demi anak-anak kita. Krishna sudah mau kuliah tahun ini. Biaya hidup kita bakal tambah membengkak.” Jeda sejenak. “Tenang, Mas. Dewi punya obat khusus yang bisa membuat orang meninggal tanpa rasa sakit. Ini juga untuk kebaikan Mala. Dia tidak akan menderita lagi.”

Dingin merayapi sekujur tubuhnya. Mala menggigil.

Dia sudah tahu. Kendati Kak Diana tampak amat baik dan murah hati, gelagat bahwa Kak Diana merasa terbebani oleh kehadirannya begitu terang. Mala mampu membacanya, sejelas gurat uban yang mulai mendominasi kepalanya sendiri. Akan tetapi, mendengarnya langsung rupanya jauh lebih menyakitkan.

Sebab kini, segalanya terbuka. Mala tahu, ialah kutu dalam kehidupan keluarga abangnya.


Sejak menguping percakapan abang dan kakak iparnya, entah mengapa, jantung Mala selalu berdebar lebih keras setiap kali berhadapan dengan makanannya. Benaknya senantiasa memutar pertanyaan, ‘Apakah ini makanan terakhir yang akan membawaku menyusul Ibu?’

Ini bukan buncahan antusiasme menuju apa yang ia kehendaki. Lebih menjurus pada perasaan was-was untuk membuktikan sendiri, apakah dugaannya akan maksud Kak Diana benar, ataukah itu hanya efek dari kecemasan yang tak masuk akal.

Ajaibnya, seminggu sejak peristiwa itu, Mala masih hidup. Ia masih diberi kesempatan bernapas. Mala tidak mengerti, apakah itu artinya, Kak Diana membatalkan rencana, atau Bang Hanung yang masih tidak setuju.

Atau justru hal-hal yang ia saksikan itu hanya ada dalam mimpi dan halusinasinya semata, lantaran kerapkali dibayang-bayangi rasa bersalah pada keluarga abangnya.

“Mala…”

Suara Kak Diana memadamkan putaran pikiran Mala, mengembalikannya ke dunia saat ini. Saat di mana ia tengah duduk di atas kasur, dengan buku terbuka di pangkuan, tapi kehilangan pembacanya sejak bermenit-menit lalu.

Kakak iparnya berdiri di ambang pintu. Di tangannya, ada mangkuk putih beralaskan piring berwarna sama.

“Ya, Kak?”

Kak Diana mendekat. Per kasur berderit lirih saat ia mendaratkan tubuhnya di sebelah Mala.

“Ada bakso. Makan, ya?”

Bakso adalah makanan favoritnya. Mala baru saja mau mengiakan sewaktu Bang Hanung ikut mencuat dari pintu, masih berbalut baju dinasnya. Wajahnya muram ketika ia turut duduk di kasur yang sama.

Mala tertegun. Kepalanya melayangkan pertanyaan baru, ‘Jadi … apakah semua itu sungguhan? Lalu, apakah ini harinya?’

Bang Hanung tahu-tahu memeluknya. Erat sekali. Mala hirup aroma tubuh yang sudah lama jauh darinya itu. Mampu ia rasakan tubuh abangnya berguncang kecil dalam dekapan itu. Bisa ia dengar lirih suara laki-laki yang pernah bermain bersamanya sewaktu kecil, membisikkan kata maaf berkali-kali.

Kelakuan abangnya menjawab pertanyaan Mala. Benar, ini harinya. Mati-matian, ia menahan agar bendungan air matanya tak jebol juga isakannya menyembur keluar. Ia harus bertingkah seolah tak tahu apa-apa demi tidak memberikan beban moral tambahan. 

Setelah pelukan itu terlerai, gantian Kak Diana yang mendekapnya. Mulut kakak iparnya itu juga menelurkan kata maaf yang nyaris tidak terdengar. Ataukah itu sebetulnya bisikan hati Mala sendiri? Mala ingin meminta maaf berkali-kali karena telah banyak merepotkan kakak iparnya. Kehadirannya tentu melenyapkan hidup bahagia yang mungkin diimpikan Kak Diana sebelum menikahi Bang Hanung. Akan tetapi, kalimat semacam itu tidak pernah sampai diucapkan. Mala tidak punya cukup kepercayaan diri dan keberanian untuk memulai percakapan serius.

Ketika Kak Diana melepaskan dekapannya, ada sembab yang mampu Mala tangkap dari mata wanita itu.

“Ayo, dimakan,” Kak Diana berbisik.

Mala mengangguk. Mengerti. Ia hadiahkan seulas senyum yang bermakna ‘tidak apa-apa, terima kasih banyak sudah bersedia merawatku selama ini,’ kepada kedua anggota keluarganya. Bagi Mala, mereka tidak jahat, tidak akan pernah jahat.

Tangannya perlahan menyendokkan kuah bakso ke dalam mulut. Ada sedikit rasa aneh, seperti pahit yang menempeli ujung lidahnya, tapi Mala paksa dirinya untuk menelan. Mulutnya bergetar. “Enak.”

Dua, tiga, empat sendok lanjutan, dan Mala mulai kehilangan daya. Mangkuk di tangannya nyaris terbalik dan menumpahkan isinya ke paha dan kasur kalau tidak sigap ditangkap Bang Hanung.

Dengan napas yang mulai tercekat di tenggorokan dan rasa sakit yang meremukkan rusuk, Mala memaksakan senyum. Bibir yang bergetar mulai kaku kala ia melirihkan ucapan terima kasih yang entah sampai atau tidak pada pendengaran kedua saudaranya.

Kalau ini bisa membantu memajukan kehidupan abang dan kakak iparnya; kalau ini bisa membantunya menemui ibunya, Mala tidak akan mendendam. Barangkali, inilah satu-satunya kesempatan baginya untuk mengubah peran, dari malapetaka menjadi malaikat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: