[#Fabula01 • Semantika Candrawi]
prompt: moonrise
DARI pintu kaca bangunan futuristik berlantai lima, Saka keluar. Pakaiannya masih mulus dan licin seperti baru habis disetrika. Kalau saja tiada kelelahan di wajahnya, orang yang melihat bakal berpikir dia baru hendak masuk kerja di pukul setengah sembilan malam.
Sebagai budak korporat, lembur sudah jadi makanan sehari-hari. Saka termasuk golongan yang mencintai pekerjaannya, tapi dia lebih suka malam hari ketika pulang. Ketika dia bisa kembali menjadi diri sendiri tanpa segudang tuntutan yang mesti dia penuhi.
Khususnya malam ini, saat undangan berkumpul di Moonrise Cafe hendak dia penuhi. Setelah tiga bulan tidak jumpa, akhirnya malam ini dia bisa mengisi daya dengan melihat seseorang yang sudah lama dia puja.
Martha dan Zack sedang bercengkrama di tengah kepulan asap dalam bilik karaoke favorit mereka saat Saka tiba.
Saka menatap mereka kesal. Lebih lama dan lebih tajam pada Zack.
Saudara kembarnya itu melempar tanggung jawab. “Dia minta, ya gue kasih.”
Martha tertawa ringan, menepuk lengan atas Saka yang terbalut kemeja biru tua. “Cuma sebat, Brother. Santai.”
Saka ingin Martha tahu, dia tidak bisa bersikap santai setiap gadis itu melakukan sesuatu yang melampaui standar amannya. Namun, ucapannya tidak akan pernah bisa diantarkan lisan. Dia masih sepenuhnya sadar bahwa tak ada otoritas apa pun darinya untuk khawatir selain dalih pertemanan.
Lagi pun, suara tawa Martha tadi sudah mengacaukan mekanisme otaknya. Buru-buru pemuda itu keluar bilik dengan alasan mengambil minuman.
Selagi Saka pergi, Martha bangkit, menyambut kedatangan Putri dan Tiffany yang datang bersamaan.
Zack terkekeh. “Tumben bareng. Mesranya …” komentar cowok itu usai rokoknya digilas pada permukaan asbak, disusul milik Martha. Meski bernaung dalam satu lingkaran, Putri dan Tiff yang mereka kenal adalah sepasang musuh alami. Kedatangan mereka yang berbarengan adalah satu anomali.
“Bacot, Bangsat.” Berbeda dengan Tiff yang hanya mendesis kesal dan memilih menepi di sudut, Putri meradang. Emosinya masih bersisa karena komentar pedas Tiff akan postur tubuhnya yang tambah bengkak saat mereka ketemu di pintu depan. Zack malah mengompori setelah dia sukses menyurutkan api.
“Sudah, sudah,” Damar datang menenangkan, mengguyur api itu dengan suaranya yang sejuk. Di sampingnya, Saka membawakan nampan berisi kaleng minuman. Ada privilese bagi mereka sebagai pelanggan tetap untuk mengambil pesanan sendiri.
Martha mencomot sekaleng. “Lho, Ketua, sejak kapan datang? Nggak bareng Sunny?” tanyanya pada Damar.
“Barusan. Sunny nggak ikutan, lagi di luar kota.” Sunny adalah sepupu Damar, mahasiswi FKG. Biasanya ikut mengintili Damar kalau ada agenda berkumpul. “Minumannya Saka yang bayar, betewe.”
“Wow. Mentang-mentang besok gajian. Thank you, Mas Saka.”
Bertahun-tahun berada di dekat Martha, Saka masih saja bisa dibuat tersipu oleh gadis itu. Wajahnya boleh saja sekaku papan tripleks, tapi Saka terenyuh, menikmati desir yang merambat dari jantung hingga ke ujung jari-jarinya saat namanya disebutkan.
Suara Martha jernih dan mengadiksi. Seperti kicauan burung pagi hari. Saka kerap bertanya-tanya mengapa gadis itu tidak jadi artis saja, alih-alih freelancer. Dia punya modal kuat. Suara indah kendati bukan penyanyi. Gerak tubuhnya lincah tapi gemulai, meski bukan penari. Juga paras yang tak membosankan dilihat berkali-kali. Apa pun yang dihasilkan dari tubuhnya adalah karya seni.
Martha punya segudang bakat yang Saka dan puluhan manusia lain kagumi, mungkin juga iri, tapi bukan itu yang membuatnya jatuh hati. Bagi Saka, Martha adalah karya seni itu sendiri. Bagi Saka, Martha menyimpan pesona cahaya dan misteri untuk dia gali.
